IHSG Merosot sampai 2 Persen, Ini Penyebab Utamanya

IHSG Merosot sampai 2 Persen, Ini Penyebab Utamanya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren pelemahan yang signifikan sepanjang perdagangan dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Berdasarkan data dari RTI Business pada pukul 10.35 WIB, indeks saham domestik merosot hingga 2,41 persen ke level 7.200,86 setelah sempat menyentuh titik terendah di posisi 7.193,42.

Kinerja pasar modal Indonesia tercatat terkontraksi sebesar 5,82 persen jika ditarik dalam rentang waktu tujuh hari perdagangan terakhir. Kondisi ini diperparah dengan aksi jual bersih oleh investor asing atau net foreign sell yang mencapai nilai akumulatif sebesar Rp 1,88 triliun.

Indikator Pasar Nilai / Persentase
Posisi IHSG (10.35 WIB) 7.200,86
Penurunan Harian 2,41%
Penurunan Mingguan 5,82%
Nilai Tukar Rupiah (Kamis) Rp 17.310 per USD
Net Foreign Sell (Sepekan) Rp 1,88 Triliun

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase tren menurun atau downtrend yang cukup kuat. Menurutnya, pelemahan ini berpotensi terus berlanjut guna menutup celah harga atau gap yang terbentuk pada periode perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap indeks saham juga dipicu oleh nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh level Rp 17.310 per dolar AS pada Kamis pagi. Selain faktor kurs, ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah masih menjadi sentimen negatif meskipun upaya gencatan senjata sedang diupayakan di berbagai titik konflik.

Dari sisi domestik, muncul kekhawatiran terkait risiko fiskal yang berpotensi memicu perubahan penilaian atau re-rating terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan. Herditya menjelaskan bahwa spekulasi mengenai perubahan outlook ini menjadi penyebab utama terjadinya aliran modal keluar atau outflow oleh investor asing.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, turut berpendapat bahwa kepercayaan para pelaku pasar saat ini belum pulih sepenuhnya akibat ketidakpastian kebijakan suku bunga global. Dominasi sentimen risk-off membuat investor cenderung menghindari aset berisiko, yang diperparah dengan penguatan indeks dolar AS secara menyeluruh.

Di saat yang sama, para investor tengah melakukan penyesuaian portofolio menyusul kebijakan baru Bursa Efek Indonesia terkait aturan free float dan konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC). Perubahan regulasi ini dianggap mengurangi daya tarik sejumlah saham tertentu dalam jangka menengah sehingga memicu aksi rebalancing besar-besaran.

Reydi menegaskan bahwa tekanan jual yang konsisten dari pihak asing menunjukkan bahwa penurunan pasar saat ini bukan sekadar faktor teknikal semata. Hal ini menjadi indikasi kuat adanya perombakan struktur portofolio investasi secara global yang berdampak langsung pada stabilitas pasar modal dalam negeri.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: finance.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.