Ambisi Besar yang Kandas: Kisah Ocean Flower Island, Proyek Dubai ala Tiongkok

Ambisi Besar yang Kandas: Kisah Ocean Flower Island, Proyek Dubai ala Tiongkok

Ocean Flower Island di China merupakan sebuah proyek pembangunan ambisius yang dirancang menyerupai kemegahan Palm Island Jumeirah di Dubai. Namun, proyek raksasa yang awalnya diproyeksikan menjadi pusat perbelanjaan dan modernitas kelas dunia ini kini dianggap telah gagal total.

Kawasan yang berupa gugusan pulau buatan di Laut China Selatan tersebut kini justru mendapatkan julukan sebagai "kota mati" dari sejumlah wisatawan yang berkunjung. Destinasi yang direncanakan sebagai pusat wisata, hunian, dan hiburan terbesar di China ini awalnya dibangun dengan ambisi untuk melampaui kejayaan properti di Dubai.

Berdasarkan laporan The New York Times pada Jumat (17/4/2026), megaproyek ini menjadi bukti nyata kegagalan investasi properti dalam skala masif. Dampak kerugiannya pun sangat besar, bahkan pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit demi melakukan upaya pemulihan di kawasan tersebut.

Rencana awal proyek ini mengikuti pola pembangunan properti mewah lainnya, yakni dengan membangun pusat perbelanjaan urban, taman hiburan, hingga kompleks apartemen pencakar langit. Pengembang juga menyertakan fasilitas pantai buatan yang eksotis untuk menarik minat para calon penghuni dan wisatawan dari berbagai penjuru.

Sayangnya, ambisi besar tersebut harus berhadapan dengan realitas pahit yang membuat pembangunan menjadi terhambat. Banyak gedung mewah yang sudah berdiri tegak tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya, sehingga pengunjung seperti Zhou Qingbin dari Danzhou menyebut lokasi ini sebagai zona mati.

Proyek megah ini dikerjakan oleh raksasa properti Evergrande atas gagasan pendirinya, Xu Jiayin, yang pernah menyandang status sebagai orang terkaya di China. Ide pembangunan Ocean Flower Island muncul saat Xu berlibur ke Singapura pada 2011, di mana ia merancang sendiri desain pulau berbentuk bunga bougainvillea tersebut.

Dalam eksekusinya, Evergrande telah menggelontorkan investasi sekitar $12 miliar atau setara dengan Rp 200 triliun untuk merealisasikan pulau buatan ini. Ironisnya, sebagian besar dana fantastis yang digunakan untuk pembangunan tersebut bersumber dari pinjaman yang sangat besar.

Keterangan Anggaran Nilai dalam USD Nilai dalam Rupiah
Investasi yang Sudah Masuk $12 Miliar Rp 200 Triliun
Kebutuhan Total Anggaran $23 Miliar Rp 386 Triliun
Total Utang Evergrande ke AS $300 Miliar Rp 5 Kuadriliun

Jumlah modal yang terkumpul ternyata masih jauh dari total kebutuhan anggaran yang mencapai $23 miliar atau sekitar Rp 386 triliun. Hal inilah yang memicu penghentian paksa proses pembangunan karena perusahaan mengalami krisis keuangan yang sangat serius.

Saat ini terdapat sekitar 39 blok apartemen bertingkat tinggi yang pengerjaannya hampir tuntas namun tidak pernah laku terjual ke pasaran. Beberapa bangunan bahkan hanya menyisakan pondasi beton yang kini tergenang air dan dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai lokasi memancing ikan.

Evergrande sendiri mengklaim bahwa mereka telah merampungkan sekitar 60.000 unit apartemen yang sudah diserahterimakan kepada pihak pembeli. Meski demikian, pengembang ini dinilai gagal dalam memetakan rencana pendanaan jangka panjang serta persiapan pembayaran utang yang terus membengkak.

Kebangkrutan Evergrande dan Isu Korupsi

Selain faktor perencanaan yang tidak matang, hancurnya kondisi keuangan Evergrande menjadi pemicu utama di balik mangkraknya Ocean Flower Island. Sejak awal, proyek ini dibangun dengan filosofi "bangun saja dulu, nanti orang akan datang sendiri" yang selama ini populer di China.

Keyakinan tersebut mulai goyah pada tahun 2021 ketika pemerintah pusat China mulai memperketat regulasi pinjaman bagi para pengembang properti. Akibat kebijakan pembatasan kredit perbankan tersebut, aliran dana menjadi kering dan menyebabkan Evergrande akhirnya mengalami kolaps total.

Kebangkrutan Evergrande yang terlilit utang lebih dari $300 miliar kepada Amerika Serikat telah meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap industri properti nasional. Padahal selama puluhan tahun, sektor properti selalu menjadi mesin penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi di China.

Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa angka penjualan rumah baru di negara tersebut kini berada pada titik terendah dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Krisis yang mendalam ini bahkan membuat pemerintah melakukan penyensoran terhadap unggahan daring yang bersifat pesimistis mengenai pasar properti.

Meskipun banyak proyek yang terbengkalai di berbagai wilayah, Ocean Flower Island tetap menjadi contoh paling nyata dari pemborosan dan ambisi berlebih. Kasus ini juga menyeret sejumlah pejabat tinggi ke dalam pusaran korupsi yang merugikan negara dalam jumlah besar.

Zhang Qi, mantan wali kota Danzhou yang menyetujui proyek ini, telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan setempat. Selain itu, mantan pejabat tinggi Hainan bernama Luo Baoming juga divonis 15 tahun penjara karena terbukti menerima suap jutaan dolar.

Pergeseran Fungsi dan Nasib Para Pemilik

Pemerintah Kota Danzhou kini telah mengambil alih pengelolaan Ocean Flower Island meskipun masih menemui kesulitan dalam menentukan arah masa depannya. Upaya promosi terus dilakukan dengan mengusung konsep gaya hidup unik demi mempertahankan eksistensi proyek yang sempat terbengkalai tersebut.

Berbeda jauh dengan Palm Island di Dubai yang menjadi hunian para pesohor, pulau ini justru lebih banyak ditempati oleh para pensiunan. Sebagian besar penghuni adalah warga dari China bagian utara yang datang untuk menghindari cuaca dingin saat musim dingin tiba.

Suasana di kawasan hunian kini didominasi oleh restoran yang menyajikan kuliner khas utara serta berbagai fasilitas layanan kesehatan untuk lansia. Kondisi ini sangat kontras dengan visi awal yang ingin menjadikan pulau ini sebagai pusat gaya hidup urban yang mewah.

Para investor dan pembeli properti di tempat ini juga harus menelan kerugian finansial yang sangat signifikan akibat anjloknya harga pasar. Harga unit apartemen yang sempat melonjak tinggi hingga tahun 2021 kini telah merosot hingga setengah dari nilai investasi awal mereka.

Agen properti setempat, Li Yanbo, menyatakan bahwa banyak orang merasa sangat marah karena kehilangan uang mereka akibat krisis yang menimpa Evergrande. Namun, ia juga berpendapat bahwa tanpa adanya peran Evergrande, orang-orang tersebut mungkin tidak akan pernah memiliki unit apartemen di sana.

Hingga saat ini, jejak-jejak kejayaan Evergrande di pulau buatan tersebut perlahan mulai menghilang dan tidak lagi terlihat secara mencolok. Satu-satunya peninggalan yang tersisa hanyalah mesin penjual otomatis berisi air mineral merek Evergrande yang kini sudah mulai berdebu.

Sang pendiri, Xu Jiayin, telah menghilang dari ruang publik sejak tahun 2021 dan saat ini tengah menghadapi tuntutan hukum atas berbagai kejahatan keuangan. Ocean Flower Island pun berdiri sebagai monumen kegagalan yang melambangkan ambisi besar, tumpukan utang, dan krisis properti di China.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: travel.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.