Tradisi hoesik atau budaya makan malam dan minum-minum selepas jam kerja yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia profesional di Korea Selatan kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Para pekerja dari kalangan Gen Z dilaporkan semakin banyak yang secara tegas menolak partisipasi dalam agenda minum alkohol yang berlangsung hingga larut malam tersebut.
Salah seorang karyawan bernama Hwang Sang-pyo mengungkapkan bahwa dahulu kegiatan berkumpul ini bisa memakan waktu hingga pukul dua atau tiga pagi. Namun, saat ini masyarakat merasa sudah waktunya untuk pulang ketika jam menunjukkan pukul 11 malam atau tengah malam sehingga kebiasaan minum sampai pagi dianggap sudah tidak lazim.
Dampak Pandemi Terhadap Perubahan Sosial
Perubahan drastis ini dinilai sebagai efek domino dari pandemi Covid-19 yang sempat membatasi mobilitas masyarakat secara global. Menurut pekerja bernama Kim, pembatasan jam malam selama masa pandemi telah membentuk kebiasaan baru di mana orang-orang menjadi lebih terbiasa untuk kembali ke rumah lebih awal.
Bahkan, bagi banyak anak muda Korea Selatan, mengonsumsi minuman keras dalam jumlah banyak bukan lagi merupakan bagian dari cara mereka bersosialisasi. Choi Seung-yeon mengaku lebih memilih berkumpul di kafe bersama teman-temannya daripada harus mengonsumsi alkohol hingga larut malam seperti generasi terdahulu.
Data Penurunan Konsumsi Alkohol di Korea Selatan
Data statistik dari Korea Disease Control and Prevention Agency pada tahun 2025 memperlihatkan penurunan angka konsumsi alkohol bulanan secara signifikan. Berikut adalah perbandingan tingkat konsumsi alkohol berdasarkan wilayah dan kategori tertentu di Korea Selatan.
| Kategori Statistik | Data Persentase |
|---|---|
| Tingkat Konsumsi Alkohol Bulanan Nasional (2025) | 33,8% |
| Tingkat Konsumsi Tertinggi (Wilayah Ulsan) | 39,2% |
| Tingkat Konsumsi Terendah (Wilayah Sejong) | 28,2% |
| Penurunan Konsumsi Usia 20-an di Sejong (Sebelumnya) | 68,3% |
| Penurunan Konsumsi Usia 20-an di Sejong (Saat Ini) | 50,5% |
| Gen Z yang Jarang atau Tidak Minum Alkohol | 56,0% |
Tren penurunan ini terlihat sangat mencolok pada kelompok penduduk yang berada di rentang usia 20-an tahun. Hasil survei mengonfirmasi bahwa 56 persen anak muda pada kelompok usia tersebut cenderung jarang atau bahkan sama sekali tidak menyentuh alkohol dibandingkan kelompok usia lainnya.
Profesor sosiologi dari Hanyang University, Kim Sang-hag, menjelaskan bahwa absennya tradisi minum saat awal kuliah akibat pandemi menjadi faktor utama perubahan ini. Karena melewatkan masa-masa orientasi sosial tersebut, generasi muda saat ini tidak membentuk kebiasaan minum alkohol sebagaimana yang dilakukan oleh generasi-generasi sebelum mereka.