Sejumlah maskapai penerbangan di Nigeria memberikan peringatan keras bahwa mereka akan menghentikan seluruh operasional mulai tanggal 20 April mendatang jika harga bahan bakar pesawat tidak kunjung turun. Melansir laporan dari Reuters pada Sabtu (18/4/2026), para pelaku industri penerbangan tersebut menuding adanya permainan harga yang tidak wajar dari pihak pemasar bahan bakar di dalam negeri.
Asosiasi Operator Maskapai Penerbangan Nigeria (AON), yang mewakili belasan maskapai domestik, telah mengirimkan surat resmi kepada Asosiasi Pemasar Energi Utama Nigeria (MEMAN) untuk memprotes situasi ini. Dalam surat bertanggal 14 April tersebut, mereka mengeluhkan lonjakan harga avtur yang mencapai 270 persen hanya dalam kurun waktu sejak akhir Februari lalu.
AON menegaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar jet di negara berpenduduk paling padat di Afrika tersebut sangat tidak masuk akal karena jauh melampaui tren harga minyak mentah dunia. Saat ini, pendapatan yang diperoleh maskapai bahkan disebut sudah tidak lagi mencukupi untuk sekadar menutup biaya operasional pembelian bahan bakar saja.
Dampak Krisis Bahan Bakar Global
Kenaikan harga avtur yang signifikan memang tengah mengguncang industri penerbangan global sebagai imbas dari konflik di Iran yang memicu ketidakpastian pasar. Kondisi ini memaksa berbagai maskapai di seluruh dunia untuk menaikkan tarif tiket, membatasi ekspansi bisnis, hingga merombak ulang proyeksi pertumbuhan perusahaan mereka.
Maskapai di Afrika berada dalam posisi yang jauh lebih rentan karena porsi biaya bahan bakar menyumbang 30 hingga 40 persen dari total biaya operasional mereka. Angka tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata maskapai global yang pengeluaran avturnya biasanya hanya berkisar antara 20 sampai 25 persen.
Pihak MEMAN membantah klaim AON dan menyatakan bahwa data harga yang dikutip pihak maskapai berada 40 persen di atas rata-rata pasar hasil survei mereka. Mereka juga berdalih bahwa proses distribusi bahan bakar jet memerlukan peralatan serta penanganan khusus yang memang berdampak pada tingginya biaya akhir.
Ancaman Ekonomi dan Pengangguran
Menaikkan harga tiket pesawat secara drastis untuk mengimbangi lonjakan biaya operasional dikhawatirkan AON akan menyebabkan penurunan tajam jumlah penumpang di Nigeria. Lebih lanjut, penghentian operasional maskapai secara total diperkirakan akan memicu efek domino yang merugikan sektor perbankan, memicu PHK massal, hingga memperburuk stabilitas keamanan negara.
Berdasarkan data dari otoritas regulasi minyak bumi setempat, sektor penerbangan Nigeria sendiri tercatat mengonsumsi rata-rata sekitar 2,1 juta liter bahan bakar jet setiap harinya. Berikut adalah perbandingan struktur biaya bahan bakar terhadap operasional maskapai berdasarkan data industri yang disebutkan.
| Wilayah Operasional | Persentase Biaya Bahan Bakar dari Total Operasional |
|---|---|
| Maskapai Afrika | 30% - 40% |
| Rata-rata Maskapai Global | 20% - 25% |
Krisis ini menempatkan pemerintah dan otoritas terkait dalam tekanan besar untuk segera menemukan solusi agar mobilitas udara di Nigeria tidak lumpuh total pada akhir pekan ini. Jika tidak ada kesepakatan harga, penangguhan penerbangan massal dipastikan akan mengganggu konektivitas ekonomi nasional secara signifikan.