PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kembali mempertegas dominasinya sebagai pemimpin pasar pembiayaan hijau di Indonesia melalui pencapaian portofolio berkelanjutan yang signifikan. Hingga Maret 2026, emiten berkode saham BMRI ini mencatatkan penyaluran pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp 320 triliun, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 8,8 persen secara tahunan atau year on year (YoY).
Ekspansi pembiayaan ini turut didorong oleh penyaluran kredit baru pada kuartal pertama tahun 2026 yang menyasar sektor-sektor strategis ramah lingkungan. Bank Mandiri secara aktif mulai membiayai proyek di sektor bangunan hijau atau green building serta pengelolaan sumber daya alam hayati sebagai bentuk komitmen terhadap lingkungan.
Guna memastikan keberlanjutan bisnis jangka panjang, Bank Mandiri mengadopsi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam seluruh lini strategi operasionalnya. Langkah integrasi ini dijalankan melalui tiga pilar fundamental, yaitu Sustainable Banking, Sustainable Operation, serta pilar Sustainability Beyond Banking.
Capaian Sektor Pembiayaan Hijau dan Sosial
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Henry Panjaitan, menjelaskan bahwa pilar Sustainable Banking menyumbang porsi terbesar dengan total portofolio senilai Rp 320 triliun pada akhir Maret 2026. Dari total angka tersebut, porsi pembiayaan hijau tercatat mencapai Rp 167 triliun dengan pertumbuhan yang sangat pesat yakni sebesar 12,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, portofolio pembiayaan di kategori sosial tercatat sebesar Rp 153 triliun atau mengalami peningkatan sekitar 5,1 persen secara tahunan. Berkat performa tersebut, Bank Mandiri sukses mempertahankan posisinya sebagai penguasa pasar pembiayaan hijau nasional dengan pangsa pasar yang mencapai lebih dari 35 persen di antara jajaran tiga bank besar di tanah air.
Khusus pada kuartal pertama tahun ini, perseroan berhasil merealisasikan penyaluran kredit baru senilai Rp 3,6 triliun untuk pengembangan gedung ramah lingkungan. Selain itu, terdapat tambahan pembiayaan sebesar Rp 5,2 triliun yang dialokasikan secara khusus untuk mendukung sektor pengelolaan sumber daya alam hayati yang berkelanjutan.
| Kategori Pembiayaan Berkelanjutan | Nilai (Maret 2026) | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Total Pembiayaan Berkelanjutan | Rp 320 Triliun | 8,8% |
| Pembiayaan Hijau (Green) | Rp 167 Triliun | 12,6% |
| Pembiayaan Sosial | Rp 153 Triliun | 5,1% |
Pendanaan Hijau dan Operasional Ramah Lingkungan
Untuk mendukung kepatuhan terhadap POJK mengenai produk keuangan berkelanjutan, Bank Mandiri secara rutin memperkuat struktur pendanaan hijau melalui berbagai instrumen finansial. Hal ini dibuktikan dengan alokasi penuh dana hasil penerbitan Green Bond Tahap II sebesar Rp 5 triliun, di mana 72 persen dananya dikucurkan untuk pengelolaan SDA hayati dan sisanya untuk sektor transportasi bersih.
Pada pilar Sustainable Operation, manajemen berfokus mengurangi jejak emisi operasional melalui penggunaan armada kendaraan listrik dan hybrid di lingkungan kantor. Perusahaan juga mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan melalui pemasangan panel surya di gedung-gedung milik bank serta menyediakan fasilitas stasiun pengisian daya kendaraan listrik (charging station).
Bank Mandiri kini mulai melakukan perhitungan emisi Scope 3 yang mencakup dampak lingkungan dari perjalanan dinas karyawan dan pemakaian kertas harian. Pemantauan emisi karbon ini dilakukan secara lebih akurat dan terukur berkat dukungan sistem pelacakan karbon digital yang telah diimplementasikan oleh perseroan.
Inisiatif Melampaui Perbankan Konvensional
Melalui pilar Sustainability Beyond Banking, Bank Mandiri terus mendorong peningkatan inklusi keuangan di Indonesia melalui platform Livin’ Merchant serta program tanggung jawab sosial lingkungan. Perseroan pun telah menerbitkan Laporan Keberlanjutan 2025 yang disusun berdasarkan standar pelaporan global untuk menjamin transparansi data kepada para pemangku kepentingan.
Rencana strategis lainnya adalah peluncuran Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) bagi segmen nasabah ritel yang akan diintegrasikan lewat fitur Livin’ Planet. Program inovatif ini merupakan hasil kolaborasi dengan IDX Carbon untuk memudahkan masyarakat dalam berkontribusi langsung pada upaya pengurangan dampak pemanasan global.
Henry Panjaitan menyatakan keyakinannya bahwa fundamental perusahaan yang solid akan membawa dampak positif yang berkelanjutan bagi industri perbankan dan ekonomi nasional. Beliau menegaskan bahwa seluruh capaian ini merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Mandiri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang jauh lebih hijau ke depannya.
Kinerja Keuangan yang Resilien di Kuartal I 2026
Meskipun kondisi ekonomi global sedang menghadapi tantangan berat akibat gejolak geopolitik dan volatilitas pasar, Bank Mandiri tetap menunjukkan performa bisnis yang sangat tangguh. Pada kuartal pertama tahun 2026, perseroan berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun, yang merepresentasikan pertumbuhan sebesar 16,6 persen secara tahunan.
Tingkat profitabilitas perusahaan berada pada level yang sangat kokoh, terlihat dari capaian Return on Equity (ROE) yang terjaga di angka 22,1 persen. Dari sisi struktur permodalan, Bank Mandiri memiliki rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 19,7 persen, yang memberikan ruang gerak luas untuk ekspansi bisnis di masa depan.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengungkapkan bahwa prestasi ini adalah buah dari strategi sinergi yang dijalankan secara terarah dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian. Fokus utama perusahaan tetap pada penguatan ekosistem digital serta pemberdayaan pelaku UMKM dan industri kreatif untuk memajukan kesejahteraan negeri secara inklusif.
Akselerasi Fungsi Intermediasi dan Kualitas Aset
Laju fungsi intermediasi Bank Mandiri pada awal tahun 2026 ini tumbuh konsisten di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional. Total penyaluran kredit hingga Maret 2026 mencapai angka Rp 1.530 triliun, meningkat pesat sebesar 17,4 persen dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 1.675 triliun, yang artinya tumbuh sebesar 21,1 persen secara tahunan (bank only). Keberhasilan ini didukung oleh komposisi dana murah atau CASA yang mencapai Rp 1.201 triliun, serta efisiensi biaya operasional yang terlihat dari perbaikan rasio BOPO menjadi 58,0 persen.
Direktur Corporate Banking, M. Rizaldi, menegaskan bahwa ekspansi kredit ini tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan menjaga kualitas aset di level yang sangat sehat. Rasio kredit bermasalah atau NPL Gross terjaga di posisi 0,98 persen, lengkap dengan cadangan kerugian yang sangat memadai dengan NPL Coverage Ratio sebesar 245 persen.
Dukungan Terhadap Program Prioritas Pemerintah
Sebagai mitra strategis pemerintah, Bank Mandiri terlibat aktif dalam menyukseskan berbagai agenda nasional seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga program pembangunan rumah rakyat. Hingga kuartal I 2026, realisasi penyaluran KUR telah mencapai Rp 11 triliun dan menyentuh lebih dari 87 ribu pelaku usaha di berbagai sektor produktif.
Perseroan juga mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyediakan layanan Virtual Account bagi 6.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi demi akuntabilitas keuangan. Selain itu, terdapat pembiayaan untuk 2.300 unit rumah melalui skema FLPP serta dukungan akses keuangan bagi 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih di seluruh wilayah tanah air.
Riduan menegaskan bahwa peran aktif Bank Mandiri sebagai mitra pemerintah bertujuan untuk memastikan seluruh kebijakan strategis dapat berjalan efektif bagi masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menjadi penggerak utama dalam pemulihan dan pemerataan ekonomi di sektor riil di seluruh pelosok Indonesia.
Transformasi Digital Melalui Super App
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa penguatan infrastruktur digital adalah kunci utama dalam menjangkau nasabah secara lebih luas dan efisien. Saat ini, aplikasi Livin’ by Mandiri telah memiliki sekitar 39 juta pengguna terdaftar dengan volume transaksi yang terus meningkat hingga 13 persen secara tahunan.
Inovasi terbaru berupa layanan Livin’ Call memungkinkan nasabah mengakses pusat bantuan secara bebas pulsa selama 24 jam penuh langsung dari dalam aplikasi. Kemudahan ini bahkan dapat dinikmati oleh nasabah yang sedang berada di luar negeri tanpa perlu khawatir dengan beban biaya sambungan internasional yang mahal.
Pada segmen bisnis, platform Kopra by Mandiri kini melayani 335 ribu pengguna, di mana sebagian besar penggunanya merupakan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Peningkatan frekuensi transaksi sebesar 13 persen di platform ini membuktikan bahwa layanan perbankan digital Mandiri semakin diandalkan dalam mendukung kelancaran operasional bisnis harian.
Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan Nasional
Aplikasi Livin’ Merchant juga memainkan peran krusial dalam digitalisasi sektor UMKM dengan mencatatkan 3,3 juta mitra terdaftar pada kuartal pertama tahun 2026. Menariknya, sebanyak 63 persen dari total pengguna merchant tersebut berada di kawasan non-urban, yang menunjukkan keberhasilan bank dalam memperluas jangkauan ke daerah terpencil.
Novita menekankan bahwa seluruh kapabilitas teknologi yang dibangun bertujuan agar Bank Mandiri dapat melayani nasabah dengan cara yang paling efektif dan inklusif. Melalui ekosistem digital yang kuat, Bank Mandiri berkomitmen untuk terus menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi rakyat dari tingkat perkotaan hingga ke pulau-pulau terluar.