PT Matahari Department Store Tbk. kini tengah bersiap melakukan transformasi besar dengan mengubah identitas resminya menjadi PT MDS Retailing Tbk. Perjalanan panjang perusahaan ritel ini berawal dari langkah visioner sang pendiri, Hari Darmawan, yang merintis usaha dari skala kecil hingga mampu mendominasi pasar nasional.
Operasional perdana entitas ini tercatat dimulai pada 24 Oktober 1958 melalui pembukaan gerai pertama di Jakarta oleh Hari Darmawan. Cikal bakal Matahari sendiri berakar dari sebuah toko serba ada mungil bernama Mickey Mouse yang berlokasi di kawasan strategis Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Toko Mickey Mouse tersebut dibeli oleh Hari Darmawan dari ayah mertuanya dan di bawah manajemennya, bisnis tersebut menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Momentum ekspansi besar terjadi pada tahun 1968 saat Darmawan mengambil alih Toko De Zon, yang merupakan toko terbesar di wilayah Pasar Baru pada masa itu.
Nama "De Zon" yang berasal dari bahasa Belanda memiliki arti "Matahari", dan istilah inilah yang kemudian dipilih sebagai identitas merek dagang usahanya. Matahari terus berevolusi hingga berhasil dinobatkan sebagai department store modern pertama di Indonesia pada tahun 1972, yang sekaligus memantapkan posisinya sebagai pionir di industri ritel tanah air.
Hari Darmawan kemudian mendirikan PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) pada tahun 1986 untuk memperkuat struktur badan hukum usahanya. Perusahaan tersebut akhirnya melakukan penawaran umum perdana atau IPO di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1992 guna mendapatkan pendanaan publik.
Namun, terjangan krisis moneter yang melanda pada tahun 1997 menjadi fase krusial yang memberikan tekanan ekonomi luar biasa bagi kelangsungan bisnis Matahari. Kondisi keuangan yang memburuk dan kerugian besar memaksa terjadinya pengalihan kepemilikan dari tangan pendiri kepada Lippo Group untuk menyelamatkan operasional perusahaan.
Di bawah kendali Lippo Group, strategi bisnis perusahaan terus dikembangkan hingga terjadi restrukturisasi pada tahun 2009 melalui keterlibatan PT Pacific Utama Tbk. selaku afiliasi dari MPPA. Langkah ini berlanjut hingga Matahari akhirnya beroperasi secara mandiri sebagai PT Matahari Department Store Tbk. dengan kode emiten LPPF di pasar modal.
Pada tahun 2010, Lippo Group melalui MPPA memutuskan untuk menjual sekitar 2,65 miliar lembar saham atau 90,76 persen kepemilikan LPPF kepada Meadow Asia Co. Ltd. di bawah manajemen CVC Asia Fund III. Proses integrasi melalui skema merger tersebut selesai pada tahun 2011 dan secara signifikan mengurangi porsi kepemilikan saham Grup Lippo di dalam tubuh perusahaan.
Struktur kepemilikan saham kembali mengalami dinamika hingga pada tahun 2020, Auric Capital melalui Greater Universal Ltd resmi masuk sebagai salah satu pemegang saham utama. Setahun berselang, tepatnya pada 2021, Grup Auric secara resmi ditetapkan sebagai pemegang saham pengendali yang mengarahkan kebijakan strategis perseroan.
Berdasarkan data keterbukaan informasi publik per 2 April 2026, Grup Auric memegang kendali mayoritas dengan kepemilikan saham mencapai lebih dari 960 juta lembar. Jumlah tersebut setara dengan penguasaan 52,4 persen total saham, yang memberikan kekuasaan penuh dalam menentukan arah masa depan perusahaan ritel tersebut.
Transformasi Menjadi MDS Retailing
Rencana perubahan nama perusahaan menjadi PT MDS Retailing Tbk. telah mendapatkan restu resmi melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 April 2026. Langkah rebranding ini dipandang sebagai bagian integral dari strategi transformasi bisnis guna menghadapi tantangan pasar ritel yang semakin kompetitif di masa depan.
Secara performa keuangan, emiten berkode saham LPPF ini mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 12,4 persen sepanjang periode berjalan tahun 2025. Penurunan laba tersebut berbanding lurus dengan penyusutan pendapatan bersih perusahaan yang tercatat mengalami koreksi cukup dalam dibandingkan periode sebelumnya.
| Indikator Keuangan | Tahun 2024 | Tahun 2025 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Bersih | Rp6,39 Triliun | Rp5,78 Triliun | -9,6% |
| Laba Bersih | Rp827,7 Miliar | Rp725,4 Miliar | -12,4% |
Laporan keuangan yang berakhir pada Desember 2025 menunjukkan pendapatan bersih senilai Rp5,78 triliun, turun dari posisi Rp6,39 triliun pada tahun 2024. Hal ini berdampak pada laba bersih yang hanya menyentuh angka Rp725,4 miliar, menurun dari capaian tahun sebelumnya yang mencapai Rp827,7 miliar.
Meskipun menghadapi tantangan finansial, manajemen tetap optimistis dengan rencana pergantian nama dan transformasi bisnis yang tengah dijalankan. Selain fokus pada perubahan nama, perusahaan juga tetap berkomitmen memberikan nilai bagi pemegang saham melalui rencana pembagian dividen dalam waktu dekat.
Matahari Department Store (LPPF) dijadwalkan akan menebar dividen total senilai Rp556,81 miliar yang rencananya akan dicairkan pada awal Mei 2026 mendatang. Keputusan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat penurunan laba, perseroan masih berupaya menjaga kepercayaan investor di tengah proses transisi menjadi MDS Retailing.