Kecerdasan buatan atau AI kini tidak hanya mentransformasi operasional perusahaan, tetapi juga mengubah kriteria keterampilan yang dibutuhkan tenaga kerja di era digital saat ini. Regional Vice President & Managing Director Southeast Asia Snowflake, Satchit Joglekar, menegaskan bahwa talenta masa depan wajib menguasai kemampuan system thinking untuk tetap relevan.
Satchit menjelaskan hal tersebut dalam sesi wawancara eksklusif di Jakarta guna menyoroti peran Snowflake sebagai platform data berbasis cloud dalam mendukung analisis AI. Menurutnya, keunggulan individu di era AI akan sangat bergantung pada kapasitas mereka dalam memahami cara kerja berbagai sistem yang saling terhubung satu sama lain.
Pentingnya System Thinking dan Integrasi AI
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan ke depannya akan hadir dalam bentuk jaringan sistem yang kompleks dan terintegrasi, bukan lagi sekadar aplikasi tunggal. Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami interaksi antaragen AI agar sistem tersebut dapat berfungsi secara harmonis dalam lingkungan kerja.
Menariknya, Satchit menyebutkan bahwa penguasaan bahasa pemrograman yang mendalam tidak lagi menjadi syarat mutlak karena aktivitas coding kini bisa dibantu oleh AI. Peran manusia justru bergeser pada penyusunan alur kerja dan memastikan bahwa keluaran dari kecerdasan buatan tetap selaras dengan kebutuhan organisasi.
Kombinasi Keahlian Industri dan Teknologi
Selain pemahaman sistem, talenta digital juga sangat dituntut untuk memiliki domain knowledge atau keahlian spesifik pada bidang industri tertentu. Satchit mencontohkan bahwa kombinasi antara pemahaman mendalam di sektor manufaktur, keuangan, atau konstruksi dengan pemanfaatan AI akan menjadi nilai tambah yang signifikan.
Di masa depan, keunggulan kompetitif tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi semata, melainkan bagaimana seseorang menerapkan AI dalam konteks industri mereka masing-masing. Mereka yang memahami seluk-beluk industrinya akan jauh lebih efektif saat menggunakan alat bantu kecerdasan buatan dalam pekerjaan sehari-hari.
Mengenai isu penggantian peran manusia, Satchit berpendapat bahwa AI sebenarnya mengubah fungsi tenaga kerja alih-alih menghapusnya secara total. Tim data seperti analis dan data engineer tetap sangat diperlukan, namun fokus pekerjaan mereka kini beralih pada tugas-tugas yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.