Kisah Didik Seket Musisi Rock Berangkat Haji demi Gantikan Ayah Mendampingi Ibu

Kisah Didik Seket Musisi Rock Berangkat Haji demi Gantikan Ayah Mendampingi Ibu

Ibadah haji merupakan panggilan suci dari Tuhan yang dapat menghampiri siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial, pekerjaan, maupun profesi seseorang. Hal inilah yang dialami oleh Didik Subiantoro, seorang musisi beraliran rock sekaligus vokalis band asal Surabaya yang mendapatkan kesempatan istimewa untuk berangkat ke Tanah Suci pada musim haji 1447 H/2026.

Didik berangkat menunaikan rukun Islam kelima ini untuk menggantikan posisi almarhum ayahnya yang telah wafat pada tahun 2013 silam. Dalam perjalanan religius ini, ia tidak sendirian melainkan mendampingi ibunda tercintanya untuk beribadah bersama-sama.

Pria yang populer dengan sapaan Didik 'Seket' Astakula ini memulai perjalanan hajinya tepat saat ia menginjak usia 50 tahun. Ia merasa nama panggilannya yang berarti lima puluh dalam bahasa Jawa seolah menjadi isyarat rahasia Illahi yang baru ia sadari saat menerima panggilan berhaji di usia tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Didik saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Kamis, 23 April, sembari mengekspresikan rasa syukurnya yang mendalam. Sebagai seseorang yang terbiasa dengan gemerlap dunia hiburan, Didik mengaku tidak melakukan persiapan khusus yang bersifat berlebihan untuk keberangkatan ini.

Baginya, momen berangkat haji adalah sebuah ketidaksengajaan indah yang sudah diatur oleh Tuhan sehingga ia hanya menjalani proses manasik sesuai prosedur jemaah pada umumnya. Ia mengaku sebelumnya tidak pernah membayangkan bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci, sehingga persiapan yang dilakukan hanya sebatas hal-hal umum bagi calon jemaah haji.

Keberangkatan Didik pada tahun ini juga membawa misi pengabdian yang besar sebagai bentuk bakti kepada kedua orang tuanya. Ia memposisikan dirinya sebagai pelindung dan pendamping utama bagi sang ibunda yang saat ini sudah memasuki usia lanjut.

Didik menegaskan bahwa fokus utamanya adalah menjaga sang ibu selama di sana, mengingat perjalanan ini bukanlah sekadar kunjungan biasa atau rekreasi. Karena besarnya tanggung jawab tersebut, Didik memutuskan untuk membatasi interaksi sosialnya dengan orang lain selama berada di Arab Saudi nanti.

Ia bahkan secara tegas menolak ajakan bertemu dari rekan-rekan sesama seniman yang kebetulan sedang berada di sana karena tidak ingin tugas menjaga ibunya terabaikan. Didik menjelaskan bahwa ia membatasi segala urusan lain dan merasa khawatir jika menyanggupi janji temu, perhatiannya kepada sang ibu yang sudah sepuh akan terganggu.

Terkait profesinya sebagai musisi, Didik yang terbiasa menciptakan lirik lagu secara spontan memilih untuk tidak memaksakan diri berkarya selama menjalani ibadah. Ia lebih memilih bersikap pasrah dan membiarkan ilham datang secara alami tanpa harus melalui proses berpikir yang dipaksakan saat berada di Tanah Suci.

Keinginan untuk menciptakan lagu di sana memang ada, namun ia tetap berpegang pada prinsipnya bahwa karya-karyanya seringkali ditemukan begitu saja secara organik. Pasca menunaikan ibadah haji, Didik tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk selain berharap adanya perubahan positif dalam setiap aspek kehidupannya.

Ia memanjatkan doa agar seluruh proses ibadahnya dapat diterima serta dirinya selalu diberikan kesehatan mulai dari keberangkatan hingga kembali ke tanah air. Harapan terbesarnya adalah agar segala sesuatunya menjadi lebih baik setelah kepulangannya dari tanah suci nanti.

Didik Subiantoro tercatat sebagai salah satu calon jemaah haji yang tergabung dalam kloter 8 asal Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, musisi rock ini akan bertolak menuju Tanah Suci pada hari Jumat, 24 April 2026.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.cnnindonesia.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.