Mantan petinggi klub PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, secara terbuka menyampaikan kritik tajam terkait insiden kekerasan yang terjadi dalam kompetisi sepak bola usia muda Elite Pro Academy (EPA) di Semarang. Kejadian memprihatinkan ini melibatkan Fadly Alberto, salah satu penggawa Timnas Indonesia U-20, yang melakukan aksi fisik tidak terpuji dalam pertandingan pekan ke-20 musim 2025/2026.
Insiden tersebut pecah saat Bhayangkara FC U-20 berhadapan dengan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, pada Minggu (19/4/2026). Meskipun pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Dewa United, suasana panas justru menyelimuti lapangan setelah peluit panjang berbunyi.
Kronologi Tindakan Anarkis di Lapangan
Keributan pada awalnya hanya melibatkan adu mulut antara pemain serta ofisial dari kedua belah pihak di area teknis. Namun, situasi mendadak menjadi tidak terkendali ketika Fadly Alberto terlihat berlari dengan kecepatan tinggi menuju salah satu pemain Dewa United U-20.
Tanpa peringatan, Fadly melancarkan sebuah tendangan kungfu yang mendarat tepat di tubuh pemain lawan hingga terjatuh ke tanah. Tindakan agresif ini memicu kericuhan yang lebih besar di lapangan dan mencoreng semangat sportivitas dalam turnamen pengembangan bakat muda tersebut.
Keprihatinan Yoyok Sukawi terhadap Etika Pemain
Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @yoyok_sukawi, pria berusia 48 tahun ini mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam atas perilaku pemain muda tersebut. Ia menekankan bahwa seorang atlet profesional, terutama mereka yang membawa label tim nasional, seharusnya tidak mengorbankan karier gemilang hanya karena terbawa emosi sesaat.
Yoyok menegaskan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas dan dengan tegas meminta agar budaya kekerasan tidak dianggap sebagai hal yang lumrah dalam sepak bola. Ia mengingatkan bahwa perjalanan karier para pemain muda ini masih sangat panjang sehingga kontrol diri menjadi kunci utama keberhasilan di masa depan.
Menjadikan Cristiano Ronaldo sebagai Teladan
Dalam pesannya, Yoyok Sukawi meminta para pemain muda untuk meneladani sosok bintang dunia seperti Cristiano Ronaldo dalam mengelola emosi saat bertanding. Ia memuji karakter Ronaldo yang tetap tenang dan sabar meskipun sering menghadapi tekanan berat atau permainan fisik yang keras di lapangan hijau.
Menurutnya, menjadi pemain yang memiliki daya juang keras di lapangan adalah hal yang positif, namun tidak boleh berubah menjadi tindakan kasar atau anarkis. Ia sangat menyayangkan jika bakat besar para pemain muda harus sia-sia hanya karena mereka gagal menjaga sikap dan temperamen di depan publik.
Ancaman Sanksi Berat dari Komisi Disiplin PSSI
Akibat perbuatannya yang terekam jelas, Fadly Alberto kini harus bersiap menghadapi konsekuensi serius berupa sanksi disiplin yang cukup berat. PSSI melalui Sekretaris Jenderal Yunus Nusi menyatakan telah menerima laporan lengkap terkait kerusuhan yang terjadi di Stadion Citarum tersebut.
Yunus Nusi memastikan bahwa penanganan kasus ini akan dilakukan secara cepat dan menjadi prioritas utama bagi Komisi Disiplin (Komdis). Federasi sepak bola nasional mengambil sikap tegas karena tindakan tersebut dianggap tidak dapat ditoleransi sama sekali, terutama dalam kompetisi yang fokus pada pembinaan karakter.
Menjaga Integritas Kompetisi Usia Muda
Langkah cepat yang diambil oleh PSSI merupakan bentuk komitmen untuk menjaga integritas kompetisi di level Elite Pro Academy (EPA) U-20. Federasi berharap kasus ini menjadi pelajaran pahit sekaligus pengingat bagi seluruh pemain muda agar selalu mampu mengendalikan emosi dalam situasi sesulit apa pun.
Yunus Nusi juga menyampaikan rasa prihatin federasi karena insiden semacam ini kembali muncul di saat sepak bola nasional sedang fokus meningkatkan kualitas pemain. Kejadian ini dinilai kontradiktif dengan tujuan utama kompetisi usia muda yang seharusnya menjadi tempat persemaian nilai-nilai kejujuran dan disiplin tinggi.
Profil Yoyok Sukawi dan Transisi Kepemimpinan di PSIS
Bagi masyarakat Semarang, Yoyok Sukawi atau Alamsyah Satyanegara Sukawijaya adalah tokoh yang sangat identik dengan sejarah panjang klub PSIS Semarang. Ia telah mengabdikan diri untuk tim berjuluk Mahesa Jenar tersebut sejak tahun 2000, dimulai dari posisi manajer tim hingga akhirnya menjabat sebagai CEO.
Sepak terjangnya tidak hanya terbatas di level klub, karena Yoyok juga pernah menduduki posisi strategis sebagai Ketua Umum Asosiasi PSSI Kota Semarang. Selain itu, ia juga sempat dipercaya menjadi anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI di tingkat pusat berkat pengalaman luasnya dalam mengelola organisasi olahraga.
Era Baru di Bawah Kepemilikan Datu Nova Fatmawati
Meskipun namanya tetap besar di dunia sepak bola, jabatan kepemilikan di PSIS Semarang baru-baru ini mengalami perubahan besar setelah adanya akuisisi. Sejak 17 November 2025, saham mayoritas klub yang sebelumnya dikuasai keluarga Yoyok Sukawi kini telah beralih ke tangan pengusaha sukses, Datu Nova Fatmawati.
Datu Nova merupakan sosok pengusaha perempuan asal Semarang yang kini memegang kendali penuh melalui PT Mahesa Jenar Semarang (MJS). Transisi kepemilikan ini menandai babak baru bagi PSIS Semarang dalam ambisinya untuk tetap kompetitif di kancah sepak bola nasional di bawah manajemen yang baru.
| Detail Informasi | Keterangan Insiden / Tokoh |
|---|---|
| Pemain Terlibat | Fadly Alberto Hengga (Bhayangkara FC U-20) |
| Lawan Bertanding | Dewa United U-20 |
| Skor Akhir Pertandingan | 1 - 2 (Kemenangan Dewa United) |
| Lokasi Kejadian | Stadion Citarum, Semarang |
| Tanggal Insiden | Minggu, 19 April 2026 |
| Pihak Pengkritik | Yoyok Sukawi (Eks CEO PSIS Semarang) |
| Langkah PSSI | Diproses cepat melalui Komisi Disiplin (Komdis) |
| Pemilik Baru PSIS | Datu Nova Fatmawati (Mulai 17 November 2025) |
Fadly Alberto sendiri telah memberikan respons terkait tindakannya dengan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada pihak-pihak yang dirugikan. Ia mengakui bahwa aksinya merupakan sebuah kebodohan yang telah mencoreng nama baik pribadi serta institusi Timnas Indonesia yang selama ini ia bela.
Di sisi lain, muncul spekulasi mengenai adanya provokasi berupa ucapan rasialisme yang memicu kemarahan Fadly hingga melakukan tindakan anarkis tersebut. PSSI diharapkan dapat menyelidiki seluruh aspek penyebab kericuhan ini agar keputusan yang diambil Komdis nantinya bisa seadil mungkin bagi semua pihak.