Buku populer bertajuk Eat, Pray, Love kembali menjadi perbincangan karena latar belakang ceritanya yang mengambil tempat di Pulau Dewata. Karya ini menonjolkan bagaimana sisi spiritualitas masyarakat Bali menjadi elemen krusial bagi sang tokoh utama dalam menempuh perjalanan hidupnya.
Dalam narasi tersebut, nilai-nilai tradisi dan kepercayaan lokal diangkat sebagai kunci utama untuk menemukan kedamaian batin serta cinta yang abadi. Penulis menggambarkan Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sebuah ruang sakral yang mampu mentransformasi aspek emosional seseorang secara mendalam.