Bagi Furky Syahroni, mendaki gunung bukan sekadar upaya mencapai puncak tertinggi, melainkan sebuah ruang pembelajaran mendalam yang membentuk sudut pandangnya terhadap kehidupan. Di tengah tantangan cuaca dingin ekstrem dan jalur yang terjal, ia menemukan cara berpikir yang lebih sederhana sekaligus terarah yang kini ia terapkan dalam kesehariannya.
Kegiatan mendaki gunung dianggap Furky sebagai sumber energi atau "api" yang membuat rutinitas hariannya terasa lebih bermakna dan penuh semangat. Ia percaya bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab serta tujuan hidup, dan pendakian membantunya untuk tetap giat dalam menjalankan peran-peran tersebut setiap hari.
Pengalaman menghadapi gunung tropis hingga ekspedisi di gunung es berketinggian di atas 6.000 meter menuntut Furky untuk selalu fokus pada hal-hal yang benar-benar esensial. Ia merasa bahwa sejak aktif mendaki, kemampuannya dalam memandang serta memecahkan berbagai masalah menjadi jauh lebih simpel, tajam, dan tidak lagi emosional.
Kondisi ekstrem di alam liar melatih Furky untuk menentukan prioritas secara cepat karena kesalahan kecil dapat berakibat fatal bagi keselamatan nyawa. Kebiasaan mempertimbangkan keputusan secara efisien dan rasional ini kemudian terbawa ke dalam lingkup pekerjaan, relasi sosial, hingga saat menghadapi tekanan hidup sehari-hari.
Proses panjang menaklukkan medan yang berat juga telah membentuk mentalitas Furky dalam menakar risiko serta menerima ketidaknyamanan sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah perjalanan. Hal ini membuatnya lebih tenang saat menghadapi situasi sulit di kehidupan nyata karena sudah terbiasa dengan kondisi yang jauh lebih keras di alam terbuka.
Pengalaman Ekstrem di Ketinggian Nepal
Salah satu momen paling menegangkan yang dialami Furky terjadi saat ia mendaki Mera Peak di Nepal yang memiliki ketinggian mencapai 6.475 meter di bawah permukaan laut. Kala itu, ia harus menghadapi dilema antara melanjutkan perjalanan dengan risiko radang dingin atau bertahan dengan ancaman penyakit ketinggian yang mematikan.
| Lokasi Pendakian | Ketinggian (mdpl) | Risiko yang Dihadapi |
|---|---|---|
| Mera Peak, Nepal | 6.475 | Frostbite & Acute Mountain Sickness (AMS) |
Dalam kondisi fisik yang melemah dan cuaca tidak bersahabat, ia dituntut mengambil keputusan yang mempertaruhkan nyawa meskipun tidak ada pilihan yang benar-benar aman. Pengalaman tersebut mempertegas bahwa keberanian seringkali muncul dari keterdesakan untuk mengambil langkah yang paling rasional di tengah ketidakpastian.
Furky juga menyampaikan pesan inspiratif bagi kaum perempuan yang masih merasa ragu atau takut untuk mulai menjelajahi alam bebas dan mendaki gunung. Ia menegaskan bahwa rasa takut adalah hal yang wajar dan setiap orang tidak perlu menunggu kondisi sempurna untuk memulai sebuah langkah baru.
Ia menyarankan untuk memulai pendakian dari gunung yang sesuai dengan kemampuan fisik serta belajar secara perlahan sambil terus membangun rasa percaya diri di setiap langkah. Menurutnya, pencapaian terbesar seringkali bukanlah menaklukkan puncak gunung yang tinggi, melainkan mengalahkan keraguan yang ada di dalam diri sendiri.