Pembukaan Selat Hormuz Picu Kemerosotan Harga Minyak Brent dan WTI ke Level Ini

Pembukaan Selat Hormuz Picu Kemerosotan Harga Minyak Brent dan WTI ke Level Ini

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan drastis pada perdagangan hari Jumat, 17 April 2026, menyusul keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghci, yang menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut akan beroperasi normal selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon berlangsung.

Keputusan pembukaan jalur air krusial tersebut langsung memicu optimisme pasar terhadap ketersediaan pasokan energi global dan menurunkan kekhawatiran akan terjadinya gangguan distribusi yang berkepanjangan. Pernyataan dari pihak Teheran ini muncul tidak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan aspirasinya agar konflik di Iran yang pecah sejak Februari lalu dapat segera diakhiri.

Data Penurunan Harga Minyak Mentah

Koreksi tajam melanda dua patokan minyak utama dunia dengan persentase penurunan mencapai angka dua digit akibat sentimen positif di Timur Tengah tersebut. Secara spesifik, harga minyak mentah Amerika Serikat dan Brent mengalami tekanan hebat sebagaimana dirinci dalam data berikut:

Jenis Minyak Mentah Kontrak Pengiriman Harga Per Barel Persentase Penurunan
West Texas Intermediate (WTI) Mei 2026 USD 84,26 11,1%
Brent Juni 2026 USD 88,95 10,5%

Dalam penjelasan lanjutannya di media sosial, Araghci menekankan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz diwajibkan mengikuti rute terkoordinasi yang telah ditetapkan otoritas maritim Iran. Presiden Trump memberikan apresiasi melalui unggahan di platform Truth Social dengan berterima kasih kepada Iran atas pembukaan kembali selat yang menjadi urat nadi perdagangan minyak tersebut.

Meski mengapresiasi pembukaan selat, Donald Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap akan diberlakukan secara penuh. Trump menyatakan tindakan tegas ini tidak akan dicabut hingga Pemerintah Amerika Serikat berhasil mencapai kesepakatan diplomatik yang komprehensif dengan pihak Iran dalam waktu dekat.

Di sisi lain, perkembangan positif juga datang dari kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon yang mulai efektif pada pukul 5 sore waktu setempat. Kesepakatan ini menghentikan sementara kampanye militer Israel terhadap Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran, yang selama ini menjadi penghambat utama proses negosiasi antara AS dan Iran.

Presiden Trump bahkan berencana mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih demi mempererat perdamaian ini. Pertemuan tersebut digambarkan sebagai dialog paling bermakna antara kedua negara bertetangga itu sejak tahun 1983 guna mengakhiri ketegangan bersenjata yang telah berlangsung lama.

Upaya Menciptakan Perdamaian Abadi

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kedua belah pihak berkomitmen untuk menciptakan fondasi perdamaian jangka panjang, termasuk saling mengakui kedaulatan masing-masing negara. Agenda utama dalam kerja sama ini mencakup penguatan keamanan di wilayah perbatasan serta penegasan hak Israel untuk tetap membela diri jika diperlukan di masa depan.

Pihak Amerika Serikat juga menyoroti kekhawatiran kolektif terhadap keberadaan kelompok bersenjata non-negara yang berpotensi merusak stabilitas dan kedaulatan nasional Lebanon. Trump secara terbuka menaruh harapan besar agar pemerintah Lebanon dapat mengambil kendali penuh dan mengurus keberadaan Hizbullah di wilayah kedaulatan mereka demi stabilitas kawasan.

Rangkaian peristiwa diplomatik ini menumbuhkan harapan baru bagi pasar dunia akan resolusi konflik Timur Tengah yang lebih luas dan meredam spekulasi negatif. Lembaga riset ING mencatat bahwa harga minyak mulai melandai karena munculnya ekspektasi bahwa Amerika Serikat dan Iran mungkin memperpanjang durasi gencatan senjata hingga dua minggu ke depan.

Walaupun ada optimisme gencatan senjata, ING memperingatkan bahwa kondisi pasar fisik sebenarnya semakin mengetat karena aliran minyak melalui Selat Hormuz belum kembali ke volume normal sepenuhnya. Analis ING dalam catatannya menyebutkan bahwa gangguan pasokan diperkirakan telah mencapai angka 13 juta barel per hari, yang mana angka tersebut berisiko membengkak akibat blokade AS.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.liputan6.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.