Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target ambisius untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 Gigawatt (GW). Rencana besar ini dipandang sebagai sebuah motivasi yang sangat positif oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) mengingat potensi besar sumber daya alam di tanah air.
Ketua Pusat Usaha & Pelaksana Kegiatan MKI, Bakti S Luddin, menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara di garis khatulistiwa memiliki keunggulan berupa limpahan sinar matahari sepanjang tahun. Keunggulan alami ini harus dimanfaatkan secara optimal agar Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan batu bara impor untuk kebutuhan energi nasional seperti yang dialami negara tetangga.
Bakti menilai target 100 GW tersebut merupakan angka yang sangat besar namun harus segera dicerna dan diturunkan ke dalam langkah-langkah implementasi yang konkret. Upaya ini menjadi penting agar cita-cita kemandirian energi melalui tenaga surya dapat segera terealisasi bagi masyarakat luas.
Dukungan penuh juga diberikan kepada PT PLN (Persero) yang berencana mengintegrasikan PLTS dengan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi penyimpanan ini sangat efektif karena mampu menyimpan energi matahari yang dikumpulkan pada siang hari untuk kemudian digunakan saat malam hari selama beberapa jam.
MKI memandang sinergi antara pembangkit surya dan baterai sebagai sebuah terobosan luar biasa yang akan memperkuat sistem kelistrikan nasional. Pihak PLN sendiri dikabarkan telah menunjukkan kesiapan yang matang untuk mengeksekusi rencana strategis ini dalam waktu dekat.
Rencana Lelang dan Ekspansi ke Pedesaan
Bakti mendapatkan informasi bahwa PLN akan segera membuka proses lelang bagi pihak-pihak swasta yang berminat untuk berpartisipasi dalam proyek pembangunan infrastruktur PLTS tersebut. Pada semester pertama tahun 2026, direncanakan terdapat 21 proyek PLTS dan PLTS yang dilengkapi BESS yang mulai masuk ke tahap eksekusi.
Para calon investor dan mitra kerja diwajibkan untuk mendaftarkan diri terlebih dahulu melalui sistem yang disediakan oleh PLN sebelum bisa mengikuti tender proyek energi terbarukan ini. Mekanisme ini diharapkan dapat menjaring mitra yang kompeten untuk mewujudkan target kapasitas yang telah ditetapkan pemerintah.
MKI melihat potensi besar pada pembangunan PLTS di tingkat desa, di mana pemasangan kapasitas 1 megawatt per desa dapat memberikan dampak signifikan secara akumulatif. Jika ribuan desa di Indonesia menerapkan skema ini, maka pencapaian ribuan megawatt energi bersih dapat terwujud secara efisien.
Transformasi Energi untuk Mengurangi Impor BBM
Langkah PLN dalam mengeksekusi 21 proyek pembangkit ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada konsumsi bahan bakar minyak (BBM) impor. Dengan mengalihkan basis energi dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT), Indonesia diharapkan dapat menekan biaya operasional ketenagalistrikan yang selama ini cukup mahal.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa inisiasi ini bertujuan untuk mengubah energi berbiaya tinggi menjadi energi yang jauh lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Selain 21 proyek yang sudah siap, PLN juga akan menambah program-program spesifik lainnya yang melibatkan sistem penyimpanan baterai dalam skala yang lebih besar.
Target utama dari proyek skala besar ini adalah untuk mempercepat transisi energi dan menciptakan kedaulatan energi nasional tanpa bayang-bayang impor BBM. Berdasarkan proyeksi teknis, ke-21 proyek PLTS ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) secara bertahap antara tahun 2026 hingga 2028.
Secara total, keseluruhan proyek awal ini diperkirakan akan memberikan kontribusi kapasitas listrik hingga mencapai 513 Megawatt peak (MWp). Berikut adalah daftar rinci mengenai proyek-proyek strategis yang menjadi bagian dari percepatan energi terbarukan di Indonesia.
Daftar 21 Proyek PLTS dan PLTS+BESS
| Nama Proyek | Kapasitas | Target COD |
|---|---|---|
| PLTS Belinyu, Belitung | 1 MWp | 2027 |
| PLTS Weda, Maluku Utara | 5 MWp | 2028 |
| PLTS Timika, Papua Tengah | 10 MWp | 2027 |
| PLTS Terapung Gajah Mungkur, Wonogiri | 100 MWp | 2027 |
| PLTS Terapung Saguling, Jawa Barat | 60 MWp | 2027 |
| PLTS Bawean, Jawa Timur | 6 MWp | 2028 |
| PLTS Bawean, Jawa Timur | 3 MWp | 2029 |
| PLTS Terapung Karangkates, Jawa Timur | 100 MWp | 2027 |
| PLTS Sepanjang-1, Jawa Timur | 1 MWp | 2027 |
| PLTS Sepanjang-2, Jawa Timur | 0,6 MWp | 2027 |
| PLTS Sumba-1, NTT | 5 MWp | 2026 |
| PLTS Sumba-2, NTT | 5 MWp | 2027 |
| PLTS Sumba-3, NTT | 5 MWp | 2027 |
| PLTS Alor, NTT | 1,2 MWp | 2026 |
| PLTS Lembata-1, NTT | 3 MWp | 2026 |
| PLTS Lembata-2, NTT | 3 MWp | 2026 |
| PLTS Rote-1, NTT | 1,2 MWp | 2026 |
| PLTS Rote-2, NTT | 2 MWp | 2026 |
| PLTS Rote-3, NTT | 1 MWp | 2028 |
| PLTS+BESS Banyuwangi, Jawa Timur | 100 MWp | 2027 |
| PLTS+BESS Pagerwojo, Jawa Timur | 100 MWp | 2027 |
Implementasi proyek-proyek ini menjadi langkah awal yang sangat krusial dalam memenuhi visi besar Presiden Prabowo Subianto terhadap swasembada energi. Dengan melibatkan berbagai wilayah dari ujung barat hingga timur Indonesia, pemerataan akses listrik berbasis energi surya diharapkan dapat terwujud bagi seluruh rakyat.