Kondisi kesejahteraan para pemain PSBS Biak saat ini tengah berada dalam situasi yang tidak menentu akibat keterlambatan pembayaran gaji yang belum juga terselesaikan. Permasalahan finansial yang serius ini memaksa pihak I.League sebagai operator kompetisi untuk bergerak cepat dengan memanggil manajemen klub guna meminta klarifikasi serta membuka opsi penyelesaian melalui jalur regulasi yang tersedia.
I.League mengonfirmasi bahwa mereka telah melangsungkan pertemuan tatap muka secara langsung dengan jajaran manajemen PSBS guna mendapatkan gambaran yang utuh dan jelas mengenai krisis yang tengah berkembang. Langkah proaktif ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan ketat yang dijalankan oleh operator kompetisi terhadap seluruh klub peserta di musim 2025/2026.
Dalam ekosistem kompetisi sepak bola profesional, setiap klub yang berpartisipasi dalam ajang BRI Super League memiliki kewajiban mutlak untuk membayarkan hak pemain, pelatih, hingga ofisial tim secara tepat waktu. Ketentuan mengenai hak finansial ini bukan sekadar formalitas administratif semata, melainkan standar profesionalisme utama yang menjadi syarat mutlak keikutsertaan sebuah klub di kasta tertinggi sepak bola tanah air.
Pihak I.League juga memberikan peringatan tegas bahwa setiap klub memiliki tanggung jawab finansial tertentu, termasuk adanya mekanisme deposit yang telah diatur secara rinci dalam regulasi kompetisi. Namun, keberadaan dana deposit tersebut sama sekali tidak menghapuskan tanggung jawab utama klub untuk tetap memenuhi seluruh hak para pemain secara penuh tanpa adanya keterlambatan.
Dalam pernyataan resminya di situs perusahaan, I.League menegaskan bahwa seluruh jalannya kompetisi profesional harus senantiasa berpijak pada regulasi yang telah disepakati bersama oleh semua pihak. Setiap kontestan liga wajib menjunjung tinggi profesionalisme dengan memenuhi hak-hak pelatih serta seluruh elemen tim lainnya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Penjelasan Direktur Utama I.League
Ferry Paulus selaku Direktur Utama I.League memberikan jaminan bahwa kasus tunggakan gaji yang menimpa PSBS Biak ini tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa adanya tindak lanjut yang konkret. Ia menyatakan bahwa dialog dengan manajemen PSBS telah dilakukan untuk mendorong adanya langkah penyelesaian yang penuh tanggung jawab demi masa depan tim.
Ferry menyadari sepenuhnya bahwa situasi ini telah menjadi pusat perhatian banyak kalangan, terutama bagi para pemain yang menggantungkan mata pencahariannya dari dunia sepak bola. I.League berkomitmen untuk terus memantau perkembangan ini dan memastikan manajemen PSBS memberikan kejelasan mengenai nasib hak-hak staf dan pemain mereka.
Lebih lanjut, Ferry menjelaskan bahwa proses penanganan perkara ini akan dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan seluruh aspek, termasuk komitmen finansial klub dalam sistem liga. Walaupun ada berbagai prosedur teknis, perlindungan terhadap hak-hak dasar pemain tetap menjadi skala prioritas paling tinggi dalam kebijakan operator.
Dalam struktur tata kelola kompetisi modern, setiap klub memang memiliki simpanan wajib atau deposit sebagai bentuk komitmen finansial mereka di awal musim pertandingan. I.League memastikan akan menangani setiap kendala yang muncul dalam pemenuhan hak ini secara proporsional, berdasarkan data fakta di lapangan, dan tetap mengacu pada hukum yang berlaku.
Akses Melalui Jalur NDRC Indonesia
Bagi para pemain atau pelatih yang merasa hak-haknya tidak dipenuhi sebagaimana mestinya, I.League menyarankan agar mereka menggunakan kanal resmi yang telah disediakan oleh organisasi. Saluran tersebut adalah National Dispute Resolution Chamber (NDRC) Indonesia, yang merupakan badan arbitrase khusus untuk menangani sengketa di lingkup sepak bola nasional.
Lembaga yang bernaung di bawah PSSI ini telah mendapatkan pengakuan dari FIFA sejak tahun 2025 dan memiliki wewenang penuh dalam mengadili kasus perselisihan antara pemain dan pihak manajemen klub. Kehadiran NDRC diharapkan dapat menjadi solusi hukum bagi permasalahan tunggakan gaji agar dapat diselesaikan melalui prosedur yang lebih terstruktur dan sah.
Ferry Paulus kembali mengimbau agar para pihak yang dirugikan memanfaatkan mekanisme perlindungan ini sebagai bentuk advokasi hak pemain yang diakui secara legal dalam regulasi sepak bola internasional. Dengan adanya jalur ini, diharapkan setiap perselisihan finansial dapat tuntas dengan hasil yang adil bagi semua pihak yang terlibat dalam industri sepak bola.
Empat Keputusan Strategis I.League
Berdasarkan hasil koordinasi dan pengawasan yang dilakukan, I.League secara resmi mengeluarkan empat butir pernyataan utama terkait krisis finansial yang dialami PSBS Biak. Berikut adalah rincian keputusan tersebut dalam format tabel:
| Poin | Isi Keputusan dan Tindakan I.League |
|---|---|
| 1 | Melakukan pengawasan aktif dan memonitor situasi internal PSBS Biak secara serius demi menjaga integritas kompetisi. |
| 2 | Menegaskan komitmen terhadap regulasi sebagai prinsip dasar, di mana seluruh pihak wajib memenuhi hak dan kewajiban sesuai aturan. |
| 3 | Melaksanakan proses pendalaman informasi melalui komunikasi intensif dan pertemuan tatap muka dengan manajemen klub agar data objektif didapatkan. |
| 4 | Menangani kasus secara proporsional berbasis fakta dengan mempertimbangkan aspek kontribusi klub serta mekanisme deposit sebagai komitmen finansial. |
Situasi ini mencuat di tengah persaingan sengit BRI Super League musim 2025/2026, di mana PSBS Biak sebenarnya sempat mencatatkan hasil positif dengan mengalahkan Persita Tangerang. Namun, pencapaian di lapangan hijau tersebut kini tertutup oleh awan mendung masalah finansial yang jika tidak segera diatasi dapat mengancam eksistensi tim di liga utama.
I.League berharap melalui empat poin keputusan tersebut, manajemen PSBS segera menemukan solusi konkret guna melunasi kewajiban mereka kepada para pemain dan staf teknis. Kejelasan status finansial klub sangat krusial agar fokus tim tidak terbelah dan kompetisi dapat tetap berjalan dalam koridor profesionalisme yang sehat bagi seluruh pesertanya.