Turis Ungkap Kronologi Penembakan di Situs Bersejarah Meksiko

Turis Ungkap Kronologi Penembakan di Situs Bersejarah Meksiko

Suasana tenang di kompleks Piramida Teotihuacan, Meksiko, berubah menjadi horor setelah terjadi aksi penembakan brutal yang menyasar para wisatawan di lokasi bersejarah tersebut. Seorang turis asal Amerika Serikat, Greg Magadini, menceritakan pengalamannya melompat dari ketinggian 4,5 meter demi menghindari serangan mematikan saat sedang mengikuti tur rombongan.

Magadini awalnya mengira suara tembakan pertama sebagai bunyi retakan besar, namun situasi segera berubah mencekam ketika rentetan peluru menggema di antara bangunan kuno. Ia memutuskan untuk melompat guna mencari perlindungan setelah melihat pelaku hanya berjarak sekitar 12 meter dari posisinya saat itu.

Akibat insiden tersebut, salah satu rekan Magadini harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami cedera pergelangan kaki yang cukup serius ketika mencoba menyelamatkan diri. Sementara itu, otoritas setempat berhasil mengidentifikasi pelaku sebagai Julio Cesar Jasso Ramirez, seorang pria berusia 27 tahun yang akhirnya tewas bunuh diri setelah melakukan aksinya.

Detail Korban dan Identitas Pelaku

Dalam peristiwa berdarah ini, pelaku menembak mati seorang perempuan asal Kanada serta melukai tujuh orang lainnya menggunakan senjata api yang dibawanya ke lokasi. Pihak berwenang menyatakan bahwa kawasan wisata akan kembali dibuka untuk umum, meskipun akses menuju Piramida Bulan tetap ditutup sementara waktu hingga batas yang belum ditentukan.

Saksi lain bernama Abigail Stoddard mengaku sempat mengira suara letusan tersebut merupakan kembang api sebelum akhirnya menyadari bahaya setelah melihat massa berlarian menyelamatkan diri. Ia bersama pasangannya segera bersembunyi di balik tembok dan menyaksikan langsung detik-detik mengerikan saat turis asal Kanada tertembak di puncak piramida.

Jacqueline Gutierrez, saksi mata lainnya, mengungkapkan bahwa pelaku sempat melontarkan pernyataan penuh kebencian terhadap para pelancong asing sebelum melepaskan tembakan. Berdasarkan rekaman video, pelaku bahkan melontarkan ancaman akan menjadikan para wisatawan sebagai tumbal jika mereka berani bergerak dari tempatnya.

Hasil Investigasi dan Respon Pemerintah

Pengunjung bernama Tim Chung menyadari gawatnya situasi ketika melihat dua orang terjatuh dari platform pengamatan di tengah riuhnya suara tembakan yang memekakkan telinga. Ia segera menyadari bahwa sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di situs warisan dunia yang biasanya ramai dikunjungi turis mancanegara tersebut.

Jaksa Agung Meksiko, Jose Luis Cervantes Martínez, melaporkan temuan tas milik pelaku yang berisi senjata api, pisau, 52 butir amunisi, serta catatan terkait tragedi pembantaian Columbine. Bukti-bukti yang dikumpulkan oleh tim penyidik di lokasi kejadian sejauh ini menunjukkan bahwa pelaku kemungkinan besar memiliki profil psikopat.

Presiden Claudia Sheinbaum telah menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban tewas dan memberikan dukungan penuh bagi para korban luka. Sementara itu, Menteri Keamanan Omar Garcia Harfuch menjelaskan bahwa aparat keamanan gabungan tiba di lokasi kurang dari 25 menit setelah laporan pertama masuk.

Kategori Data Keterangan Statistik
Korban Tewas 1 Orang (Warga Negara Kanada)
Korban Luka Tembak 7 Orang
Korban Luka Lainnya 6 Orang (Kondisi Serius)
Amunisi Ditemukan 52 Butir Peluru
Waktu Respon Aparat Kurang dari 25 Menit

Baku tembak sempat terjadi antara petugas dan pelaku yang terus memberikan perlawanan sebelum akhirnya pria bersenjata tersebut ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Sebagian besar korban luka kini telah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan perawatan medis yang intensif dari tim dokter.

Pemerintah Amerika Serikat melalui Duta Besar Ronald Johnson menyatakan telah memberikan bantuan konsuler bagi warga negaranya yang turut menjadi korban dalam serangan ini. Pihak Kedutaan Besar AS terus memantau perkembangan situasi dan menyampaikan doa bagi seluruh keluarga yang terdampak oleh peristiwa tragis tersebut.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: travel.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.