Periode libur panjang di Jepang yang dikenal sebagai Golden Week pada 2 hingga 6 Mei mendatang diprediksi akan mengalami lonjakan jumlah wisatawan yang signifikan. Berdasarkan survei dari JTB Corporation terhadap 10.000 responden, sebanyak 23,4% masyarakat berencana melakukan perjalanan selama periode 25 April hingga 7 Mei atau meningkat 2,5 poin dibanding tahun lalu.
Volume wisatawan domestik diperkirakan menembus angka 23,9 juta perjalanan atau mengalami kenaikan sebesar 1,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jumlah ini hampir menyamai rekor sebelum masa pandemi pada tahun 2019 yang kala itu mencatatkan total 24 juta perjalanan.
Perubahan Tren Pengeluaran dan Durasi Wisata
Walaupun jumlah perjalanan meningkat, rata-rata pengeluaran per orang untuk wisata domestik justru diprediksi turun sebesar 2,1% menjadi sekitar 46.000 yen atau setara Rp 4,9 juta. Fenomena ini merupakan penurunan daya beli wisatawan domestik yang pertama kalinya tercatat sejak tahun 2020 silam.
Data survei menunjukkan adanya pergeseran minat masyarakat yang kini lebih memilih perjalanan singkat dibandingkan dengan durasi liburan yang panjang ke destinasi jauh. Hal ini dibuktikan dengan kenaikan tren perjalanan satu malam dua hari sebesar 6,4 poin, sementara perjalanan tiga malam empat hari justru mengalami penurunan.
| Kategori Data Wisata | Proyeksi/Jumlah | Perubahan Tahunan |
|---|---|---|
| Jumlah Wisatawan Domestik | 23,9 Juta Orang | +1,7% |
| Rata-rata Pengeluaran Domestik | 46.000 Yen | -2,1% |
| Jumlah Wisatawan ke Luar Negeri | 572.000 Orang | +8,5% |
| Rata-rata Pengeluaran Luar Negeri | 329.000 Yen | +2,2% |
Faktor Ekonomi dan Wisata Luar Negeri
Perwakilan JTB menyebutkan bahwa ketidakpastian kondisi ekonomi global, termasuk fluktuasi harga minyak mentah akibat situasi geopolitik di Iran, turut memengaruhi keputusan belanja wisatawan. Akibatnya, masyarakat Jepang saat ini lebih cenderung memilih opsi wisata hemat daripada melakukan perjalanan mewah yang sempat menjadi tren tahun lalu.
Di sisi lain, minat kunjungan ke luar negeri justru mengalami pertumbuhan sebesar 8,5% dengan rata-rata pengeluaran yang juga meningkat menjadi 329.000 yen atau sekitar Rp 35 juta. Banyak warga Jepang merasa harus segera bepergian selagi masih memungkinkan di tengah meningkatnya tensi global serta melambungnya tarif penerbangan internasional.
Kawasan Asia Timur tetap menjadi primadona utama bagi pelancong asal Negeri Sakura dengan destinasi favorit seperti Korea Selatan, Taiwan, dan China. Secara keseluruhan, perjalanan ke negara-negara di wilayah Asia Timur menyumbang sekitar 60% dari total keberangkatan internasional selama musim liburan ini.