Alasan Pakar Mengenai Pentingnya Membasmi Ikan Sapu-sapu

Alasan Pakar Mengenai Pentingnya Membasmi Ikan Sapu-sapu

Upaya pembersihan ikan sapu-sapu kini tengah gencar dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk aksi pembasmian massal yang terjadi di Jakarta baru-baru ini. Fenomena ini memicu pertanyaan publik mengenai alasan di balik langkah pemusnahan ikan bernama ilmiah Pterygoplichthys pardalis yang merupakan spesies asing invasif tersebut.

Ikan yang aslinya berasal dari perairan Amerika Selatan ini memiliki kemampuan reproduksi yang luar biasa tinggi dan sulit dikendalikan secara alami. Seekor betina dalam satu siklus reproduksi sanggup menghasilkan hingga 19.000 butir telur dan dapat memijah berkali-kali dalam kurun waktu satu tahun saja.

Berdasarkan informasi dari laman resmi IPB University, spesies ini bahkan sudah mampu melakukan proses reproduksi meski ukuran tubuhnya masih tergolong relatif kecil. Ikan sapu-sapu jantan dapat bereproduksi pada ukuran 23,9 hingga 28,99 cm, sementara betina pada kisaran 13,0 sampai 25,98 cm, yang mana mempercepat ekspansi populasinya.

Karakteristik Predator di Lingkungan Tercemar

Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P., selaku Dosen Akuakultur dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (Unair), menegaskan bahwa masalah serius muncul ketika spesies ini masuk ke ekosistem perairan Indonesia. Sebagai ikan predator yang sangat tangguh, ikan sapu-sapu memiliki daya tahan istimewa sehingga tetap mampu bertahan hidup meski berada di aliran sungai yang sudah tercemar.

Ikan sapu-sapu mengonsumsi hampir seluruh sumber daya yang tersedia di habitat air, mulai dari vegetasi tumbuhan air hingga berbagai jenis hewan berukuran kecil lainnya. Kehadiran mereka menciptakan persaingan yang sangat berat bagi spesies ikan lokal, baik dalam hal memperebutkan ketersediaan pangan maupun ruang hidup di sungai.

Menurut penjelasan Veryl, ikan sapu-sapu cenderung menggeser keberadaan fauna asli saat berada di luar habitat aslinya di benua Amerika. Kurangnya predator alami yang memangsa mereka di perairan lokal menyebabkan pertumbuhan populasinya melonjak tajam tanpa ada hambatan biologis yang berarti.

Dominasi Populasi di Wilayah Perkotaan

Ikan ini menjadi penguasa dominan di sungai-sungai perkotaan karena ketahanannya terhadap parameter lingkungan yang sangat buruk dan kualitas air yang rendah. Di saat banyak ikan lokal mati akibat pencemaran sungai yang parah, ikan sapu-sapu justru mampu beradaptasi dan terus berkembang biak dengan pesat.

Veryl menambahkan bahwa fenomena ledakan populasi ini terlihat jelas ketika spesies lain menghilang dari ekosistem yang telah rusak oleh polusi. Kondisi inilah yang memicu kepadatan jumlah ikan sapu-sapu yang luar biasa besar di berbagai saluran air dan sungai di daerah Jakarta.

Data Penangkapan dan Langkah Pemerintah

Besarnya jumlah populasi ini terbukti dari keberhasilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mampu menjaring puluhan ribu ekor ikan sapu-sapu hanya dalam satu hari operasi. Aksi pembersihan ini dilakukan secara serentak di lima wilayah kota administratif Jakarta untuk menjaga keseimbangan lingkungan perairan.

Parameter Pengendalian Data Statistik Penangkapan
Total Jumlah Ikan yang Ditangkap 68.880 ekor
Total Estimasi Berat 6,98 ton
Waktu Penangkapan Jumat, 17 April 2026

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menyatakan bahwa penangkapan masif ini adalah upaya pengendalian atas rusaknya ekosistem. Tindakan serupa direncanakan akan diperluas ke wilayah lain melalui perbaikan regulasi hukum yang berlaku guna menangani masalah ikan invasif ini.

Dirjen Perikanan Budi Daya KKP, Haeru Rahayu, mengungkapkan bahwa saat ini sedang dilakukan proses revisi terhadap Peraturan Menteri terkait pengendalian spesies invasif tersebut. Revisi ini bertujuan agar aturan yang ada bisa lebih aplikatif dan efektif dalam menangani ledakan populasi ikan sapu-sapu sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.