PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) memproyeksikan pertumbuhan rata-rata penjualan toko atau Same Store Sales Growth (SSSG) di angka 2% hingga 4% untuk periode tahun 2026 mendatang. Target optimis ini ditetapkan oleh manajemen emiten ritel pengelola gerai Azko tersebut setelah mereka melewati periode kinerja yang cukup menantang dan cenderung negatif sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data operasional, perusahaan mencatat penurunan SSSG yang cukup dalam pada Desember 2025 dengan angka mencapai minus 9,9% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Laporan dari CGS International Sekuritas Indonesia mengungkapkan bahwa performa buruk di penghujung tahun tersebut menyebabkan akumulasi SSSG sepanjang tahun 2025 merosot ke level minus 4,2% secara tahunan.
Penurunan kinerja penjualan di toko-toko yang sudah ada ini dipicu oleh basis pembanding yang sudah sangat tinggi pada tahun 2024 serta melemahnya daya beli masyarakat secara umum. Tekanan terhadap indikator SSSG tersebut terpantau merata di seluruh wilayah operasional perusahaan, mulai dari kawasan Jakarta hingga area di luar Pulau Jawa pada akhir tahun lalu.
Strategi dan Tantangan Operasional ACES
Rincian penurunan penjualan menunjukkan bahwa wilayah Jakarta mengalami koreksi sebesar 8,3%, sementara wilayah Jawa di luar Jakarta mencatatkan penurunan paling tajam mencapai 10,7%. Sementara itu, performa gerai yang berlokasi di luar Pulau Jawa juga tidak luput dari tren negatif dengan mencatatkan penurunan operasional sebesar 9,5% pada Desember 2025.
Head of Corporate Communications & Sustainability ACES, Melinda Pudjo, menegaskan bahwa perusahaan terus berkomitmen untuk mengupayakan agar kinerja fundamental tahun ini kembali berada pada jalur pertumbuhan positif. Manajemen akan menerapkan prinsip kehati-hatian yang sangat ketat guna menghadapi dinamika daya beli masyarakat serta fluktuasi kondisi geopolitik global yang belum stabil.
Melinda menyatakan bahwa target pertumbuhan SSSG yang dipatok pada kisaran 2% hingga 4% merupakan sasaran realistis yang ingin dicapai perusahaan sepanjang tahun berjalan ini. Pernyataan resmi tersebut disampaikan pada Kamis, 16 April 2026, sebagai bentuk optimisme perusahaan dalam melakukan pemulihan bisnis ritel di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Analis dari CGS International Sekuritas Indonesia, Baruna Arkasatyo, memberikan proyeksi bahwa SSSG untuk jenama Azko kemungkinan besar akan bergerak datar pada awal tahun 2026 ini. Namun, ia memprediksi performa tersebut akan mulai menunjukkan angka positif pada kisaran bulan Februari hingga Maret 2026 seiring dengan pulihnya permintaan konsumen secara perlahan.
Baruna menambahkan bahwa basis angka yang lebih rendah dari tahun sebelumnya akan membantu pertumbuhan persentase penjualan secara teknis dalam jangka pendek bagi perusahaan ritel ini. Meski demikian, pihak sekuritas menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah pemulihan penjualan ini bersifat permanen secara struktural atau hanya bersifat sementara saja.
Risiko signifikan yang saat ini membayangi operasional ACES adalah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang yuan China atau Renminbi (RMB) dalam perdagangan internasional. Hal ini menjadi krusial mengingat sekitar 75% hingga 80% dari total persediaan barang yang dijual oleh perusahaan merupakan produk impor yang berasal dari China.
Proyeksi Keuangan dan Valuasi Saham
Ketergantungan pada barang impor ini berisiko meningkatkan biaya pengadaan secara signifikan apabila nilai tukar RMB terus mengalami apresiasi terhadap mata uang rupiah ke depannya. Tantangan bagi manajemen akan semakin berat jika mereka tidak sanggup membebankan kenaikan biaya operasional tersebut kepada harga jual produk di tingkat konsumen akhir.
Jika perusahaan gagal menyesuaikan harga di tengah ketatnya persaingan dengan platform e-commerce dan lemahnya ekonomi, maka margin laba kotor diprediksi akan mengalami tekanan berat. Kondisi tekanan margin ini diperkirakan akan sangat terasa terutama pada paruh kedua tahun 2026 jika skenario kenaikan biaya tersebut benar-benar terjadi.
Para analis memperkirakan bahwa perbaikan pada sisi kinerja operasional akan terlihat lebih awal pada kuartal pertama tahun 2026 dibandingkan dengan pertumbuhan yang bersifat struktural. Dari kacamata pasar modal, saham ACES saat ini diperdagangkan pada tingkat rasio harga terhadap laba atau Price to Earnings (P/E) sebesar 8,6 kali.
Angka valuasi tersebut dinilai sudah mencerminkan kondisi penurunan SSSG sepanjang tahun 2025 yang sudah diantisipasi dan direspons oleh para pelaku pasar melalui pergerakan harga saham. Meski menghadapi banyak rintangan, langkah ekspansi pembukaan gerai baru tetap menjadi mesin utama bagi pertumbuhan perusahaan untuk mendongkrak pendapatan di masa mendatang.
Strategi ekspansi ini dilakukan melalui pengembangan dua format toko yang berbeda, yakni Azko sebagai identitas utama dan NEKA sebagai konsep ritel yang lebih segar. Walaupun margin laba kotor dari format NEKA saat ini masih berada di bawah Azko, peningkatan produktivitas diharapkan mampu mendongkrak margin operasionalnya dalam jangka panjang.
Pihak analis tetap memberikan rekomendasi "add" untuk saham ACES dengan target harga yang ditetapkan berada pada level Rp500 per lembar saham untuk tahun ini. Target harga tersebut setara dengan valuasi 10,2 kali P/E 2026 dengan asumsi pertumbuhan laba per saham atau Earnings Per Share yang stabil.
Selain potensi kenaikan harga saham, ACES juga dianggap memiliki daya tarik investasi dari sisi pembagian dividen yang imbal hasilnya diperkirakan menyentuh angka 7%. Estimasi pertumbuhan laba per saham sebesar 12% menjadi landasan kuat bagi para analis untuk tetap memberikan pandangan positif terhadap emiten ritel perlengkapan rumah tangga ini.
| Indikator Kinerja | Capaian/Target | Periode |
|---|---|---|
| Target Pertumbuhan SSSG | 2% - 4% | Tahun 2026 |
| Realisasi SSSG Desember | -9,9% | Desember 2025 |
| Akumulasi SSSG Tahunan | -4,2% | Tahun 2025 |
| Porsi Persediaan dari China | 75% - 80% | Kuartal III/2025 |
| Valuasi Price to Earnings (P/E) | 8,6 kali | Proyeksi 2026 |
| Estimasi Dividend Yield | 7% | Tahun 2026 |
| Target Harga Saham | Rp500 | Rekomendasi Analis |
Kinerja wilayah menunjukkan bahwa area di luar Jawa juga menyumbang angka penurunan yang cukup signifikan dalam laporan akhir tahun perusahaan tersebut. Manajemen berharap dengan adanya diversifikasi format toko antara Azko dan NEKA, pangsa pasar yang dapat dijangkau akan menjadi lebih luas dan variatif.
Meskipun demikian, keputusan akhir mengenai investasi saham tetap menjadi tanggung jawab penuh para pembaca dengan mempertimbangkan segala risiko pasar yang ada. Perusahaan ritel ini kini berfokus pada efisiensi biaya pengadaan barang guna menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian nilai tukar mata uang asing yang terus bergejolak.