Bahan Chattra yang Akan Dipasang di Borobudur Ternyata Bukan Batu

Bahan Chattra yang Akan Dipasang di Borobudur Ternyata Bukan Batu

Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan kepastian terkait material yang akan digunakan untuk pemasangan chattra di puncak stupa utama Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Beliau menegaskan bahwa komponen tersebut tidak akan menggunakan material batu, melainkan material perunggu yang telah disesuaikan agar lebih ringan saat ditempatkan di atas struktur candi.

Langkah adaptasi penggunaan bahan non-batu ini dilakukan agar berat beban tidak membahayakan struktur cagar budaya yang sudah berdiri selama berabad-abad. Fadli Zon menyebutkan bahwa penggunaan material serupa juga lazim diterapkan pada berbagai situs suci di luar negeri, termasuk di negara kelahiran Sang Buddha dan negara-negara seperti India, Thailand, Vietnam, Kamboja, serta Myanmar.

Dampak Terhadap Sektor Pariwisata dan Religi

Pemasangan mahkota payung tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik pada aspek sejarah dan arsitektur Borobudur. Lebih jauh lagi, keberadaan chattra diharapkan menarik minat umat Buddha dari berbagai belahan dunia untuk melakukan perjalanan religi ke candi tersebut.

Menteri Kebudayaan memaparkan bahwa terdapat potensi pasar yang sangat besar mengingat jumlah populasi umat Buddha global mencapai kisaran 500 hingga 600 juta jiwa. Jika satu persen saja dari total populasi tersebut berkunjung ke Indonesia, maka target kedatangan sekitar 5 hingga 6 juta wisatawan religi dapat tercapai dengan baik.

Prosedur Teknis dan Penilaian Dampak

Mengenai lini masa pemasangan, Fadli Zon berharap agenda ini dapat segera dilaksanakan meski tetap harus melewati serangkaian tahapan teknis yang sangat ketat. Berbagai prosedur seperti Heritage Impact Assessment (HIA) serta sejumlah pengujian teknis lainnya wajib dilakukan guna memastikan keamanan dan kelestarian situs warisan dunia tersebut.

Pemerintah berkomitmen untuk menjalankan seluruh proses ini secara prosedural dan penuh kehati-hatian demi menjaga integritas bangunan Candi Borobudur. Upaya sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan, salah satunya melalui prosesi kirab pusaka yang menyertakan miniatur chattra di kawasan candi baru-baru ini.

Implementasi Konsep Living Heritage

Rencana pemasangan ini sebenarnya merupakan bentuk respons pemerintah terhadap aspirasi yang telah lama disampaikan oleh komunitas umat Buddha di Indonesia. Fadli Zon berpendapat bahwa langkah ini sejalan dengan arahan UNESCO yang mendorong situs-situs bersejarah di dunia agar dikembangkan menjadi warisan budaya yang hidup atau living heritage.

Melalui kebijakan ini, Candi Borobudur tidak hanya diperlakukan sebagai monumen mati yang membeku dalam sejarah, melainkan sebagai pusat aktivitas spiritual yang dinamis. Kegiatan seperti kirab pusaka menjadi bagian integral dari transformasi candi menuju identitas warisan yang fungsional bagi peradaban modern.

Signifikasi Makna Chattra dalam Ajaran Buddha

Berdasarkan referensi dari Museum Nasional Indonesia, chattra merupakan elemen penting berupa payung bersusun tiga yang berfungsi sebagai simbol perlindungan dan kesucian spiritual. Secara struktural, komponen ini dipasang di bagian paling atas stupa, menopang pada batang yang berdiri di atas harmika atau pagar persegi pada kubah utama.

Secara filosofis, keberadaan chattra diyakini mampu menyimbolkan perlindungan bumi dari berbagai pengaruh negatif atau kekuatan jahat. Selain itu, objek ini juga memegang peran sebagai tanda penghormatan bagi anggota keluarga kerajaan serta menjadi persembahan surgawi yang agung dalam tradisi Buddha.

Parameter Statistik Wisata Estimasi Data
Total Populasi Umat Buddha Dunia 500 - 600 Juta Jiwa
Target Kunjungan Wisata Religi (1%) 5 - 6 Juta Wisatawan

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: travel.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.