BRIN Siap Dukung Pemerintah Ubah Sampah Jadi Energi Lewat Teknologi Ini

BRIN Siap Dukung Pemerintah Ubah Sampah Jadi Energi Lewat Teknologi Ini

Pemerintah Indonesia kini sedang menggencarkan pencarian sumber energi alternatif di tengah kekhawatiran masyarakat global mengenai ancaman krisis energi yang kian nyata. Langkah strategis ini secara resmi telah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang mengatur tentang percepatan pengolahan sampah menjadi energi terbarukan melalui pemanfaatan teknologi yang ramah terhadap lingkungan.

Sebagai respon nyata terhadap kebijakan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah berhasil menginisiasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Bantargebang yang sudah dirintis sejak tahun 2017 silam. Inovasi karya anak bangsa ini mampu mengonversi tumpukan sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan menjadi sumber energi listrik yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Ir. Wiharja, M.Si, yang menjabat sebagai peneliti di Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PR TLTB), mengungkapkan bahwa hingga saat ini memang belum ada instruksi operasional secara masif dari presiden. Meski demikian, BRIN menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung penuh program pemerintah pusat dalam mengelola limbah perkotaan melalui berbagai instrumen teknologi yang telah dikembangkan secara matang.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wiharja dalam forum diskusi Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk "Listrik dari Sampah: Di tengah Gejolak Energi Dunia" yang berlangsung di Gedung B.J Habibie, Jakarta Pusat. Beliau menegaskan bahwa BRIN memiliki beragam teknologi pengelolaan sampah yang sudah mencapai tahap implementasi nyata dan bukan sekadar purwarupa atau alat skala laboratorium semata.

Wiharja juga memaparkan visi institusinya yang berkeinginan agar inisiatif pengolahan sampah ini dapat dimulai dari cakupan terkecil dalam tatanan masyarakat, yakni level Rukun Tetangga (RT). Dengan pendekatan tersebut, penanganan sampah diharapkan menjadi lebih sistematis dan memiliki dampak luas yang dirasakan langsung oleh warga di lingkungan tempat tinggal mereka.

Teknologi pemanfaatan sampah sebagai energi listrik ini sebenarnya bukan hal baru karena telah terbukti efektif dan digunakan secara luas di negara-negara maju seperti Jerman, Prancis, China, Jepang, hingga Singapura. Penggunaan PLTSa di negara-negara tersebut telah menjadi standar utama dalam mengelola volume limbah padat di wilayah perkotaan yang padat penduduk agar tidak mencemari lingkungan.

Mekanisme Operasional PLTSa Bantargebang

Sistem pemusnahan sampah melalui metode termal di fasilitas PLTSa melibatkan serangkaian prosedur teknis yang dimulai dari tahap pre-treatment untuk menyaring jenis limbah yang akan masuk ke mesin. Pada fase awal ini, sampah dipilah guna memisahkan material bernilai jual tinggi, limbah elektronik, serta bahan-bahan lain yang tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam proses pembakaran.

Limbah yang telah lolos sortir kemudian diangkut menuju bunker penampungan sebelum akhirnya dipindahkan ke unit pembakaran melalui hopper dengan bantuan mesin derek atau crane. Setelah itu, sampah dimasukkan ke dalam furnace atau tungku pembakaran khusus yang memiliki struktur interior menyerupai tangga bertingkat atau undakan untuk memastikan proses pembakaran optimal.

Proses pembakaran di dalam tungku wajib dijaga pada tingkat suhu minimal 850 derajat Celcius guna memastikan seluruh material habis terbakar tanpa sisa. Standar suhu yang sangat tinggi ini juga berfungsi krusial untuk mencegah terbentuknya sekaligus mencegah terlepasnya zat kimia berbahaya seperti dioksin dan furan ke atmosfer bumi.

Panas yang dihasilkan dari pembakaran sampah tersebut kemudian dimanfaatkan oleh unit steam boiler untuk memproduksi uap air bertekanan tinggi. Uap yang dihasilkan dari proses pemanasan air tersebut selanjutnya berfungsi sebagai penggerak utama bagi steam turbine generator yang bertugas untuk mengonversi energi mekanik menjadi energi listrik.

Dalam hal menjaga kualitas udara, sistem ini dilengkapi dengan teknologi pengendali gas buang yang bekerja melalui proses pendinginan mendadak (quencher) serta penambahan bahan kimia penyerap racun. Partikel debu halus yang tersisa juga akan disaring secara ketat menggunakan alat bag filter sebelum sisa gas yang sudah bersih dilepaskan ke udara bebas melalui cerobong asap.

Selain menghasilkan listrik, sisa pembakaran yang berupa residu FABA (Fly Ash and Bottom Ash) juga dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pembuatan paving blok yang kokoh dan aman bagi lingkungan. Langkah pengolahan sisa pembakaran ini membuktikan bahwa operasional PLTSa dapat menerapkan konsep ekonomi sirkular yang minim limbah berbahaya bagi ekosistem di sekitarnya.

Data Operasional dan Potensi Energi Listrik

Kategori Data Keterangan Statistik
Kapasitas Olah Sampah (2018-2022) 100 ton per hari
Tegangan Listrik yang Dihasilkan 700 kW
Suhu Minimal Pembakaran 850 Derajat Celcius
Target Lingkup Implementasi Skala Rukun Tetangga (RT)
Potensi Kota Besar (Jakarta) Puluhan Megawatt

Wiharja memberikan catatan penting bahwa proyek PLTSa Merah Putih yang berada di bawah naungan BRIN ini secara teknis masih berada dalam tahapan demonstrasi teknologi. Kapasitas pengolahan yang mencapai 100 ton per hari selama periode operasional tahun 2018 hingga 2022 merupakan hasil kolaborasi intensif antara BRIN dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Meskipun mampu menghasilkan daya listrik sebesar 700 kW, energi yang diproduksi saat ini baru dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan operasional internal di lokasi pembangkit saja. Wiharja menekankan bahwa daya tersebut belum didistribusikan secara massal kepada masyarakat luas karena fokus utama saat ini masih pada pengembangan dan penyempurnaan sistem teknologi.

Berdasarkan data yang dirilis melalui laman resmi BRIN, potensi energi listrik dari sampah di kota metropolitan seperti Jakarta diprediksi bisa mencapai puluhan megawatt jika dikembangkan dalam skala penuh. Besaran produksi energi tersebut tentu akan sangat bergantung pada total volume sampah yang terkumpul serta karakteristik spesifik dari limbah perkotaan yang akan diolah setiap harinya.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.