BRIN Ungkap Bahaya Polusi Beracun Akibat Membakar Sampah Sembarangan

BRIN Ungkap Bahaya Polusi Beracun Akibat Membakar Sampah Sembarangan

Permasalahan sampah di Indonesia hingga kini masih menjadi persoalan krusial yang memerlukan penanganan serta metode pemrosesan yang tepat dan efektif. Menanggapi hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menghadirkan solusi konkret melalui pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang berlokasi di wilayah Bantargebang.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih memiliki kebiasaan membakar sampah rumah tangga secara langsung tanpa melakukan proses pemilahan terlebih dahulu. Bukannya menghilangkan masalah, praktik pembakaran yang dilakukan di bawah suhu ideal tersebut justru berisiko tinggi mencemari lingkungan di sekitarnya.

Teknologi pembakaran pada dasarnya merupakan metode pengelolaan limbah yang paling fundamental bagi masyarakat luas. Namun, apabila suhu yang digunakan dalam proses tersebut tidak mencapai standar yang ditentukan, pembakaran akan menghasilkan zat beracun berbahaya seperti dioksin dan furan.

Ir. Wiharja, M.Si, selaku Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PR TLTB), menjelaskan bahwa batas suhu aman untuk proses pembakaran sampah minimal adalah 850 derajat Celsius. Ketentuan mengenai suhu minimal tersebut sangat penting untuk dipatuhi guna memastikan agar polusi dari tanah dan air tidak berpindah menjadi pencemaran udara yang berbahaya.

Pernyataan ini disampaikan Wiharja dalam forum Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk "Listrik dari Sampah: Di tengah Gejolak Energi Dunia" yang berlangsung di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat. Diskusi tersebut dilaksanakan pada Kamis, 16 April 2026, dan memaparkan berbagai fakta mengenai risiko kesehatan akibat pengelolaan limbah yang keliru.

Risiko Polusi Beracun dari Insinerator Sederhana

Wiharja secara khusus memberikan perhatian pada tren penggunaan insinerator sederhana yang saat ini banyak ditawarkan di berbagai platform digital tanpa sistem kontrol yang memadai. Alat-alat tersebut seringkali tidak dilengkapi dengan sistem pengendali emisi atau alat pembersih gas (APG) sehingga justru memicu timbulnya polusi beracun di udara bebas.

Oleh karena itu, penerapan teknologi berbasis sains yang sudah teruji secara laboratorium dan operasional menjadi syarat mutlak dalam upaya pengelolaan sampah di Indonesia. PLTSa yang dikelola oleh BRIN sejauh ini telah membuktikan efektivitasnya melalui hasil uji emisi yang secara konsisten berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.

Indikator Emisi Standar Batas Aman Hasil Uji PLTSa BRIN
Kadar Emisi Pembakaran 0,1 0,088
Suhu Minimal Pembakaran 850 Derajat Celsius Terpenuhi

Wiharja mengungkapkan rasa syukurnya karena teknologi yang diterapkan mampu menghasilkan angka emisi sebesar 0,088, yang berarti jauh lebih rendah dibandingkan standar aman 0,1. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan teknologi PLTSa oleh BRIN sudah tepat dan terbukti sangat andal saat diimplementasikan dalam praktik pengelolaan sampah harian.

Tantangan dalam Edukasi Masyarakat

Meskipun infrastruktur teknologi sudah tersedia, tantangan besar berikutnya yang harus dihadapi adalah melakukan edukasi secara masif kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Menurut pandangan Wiharja, aspek keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kecanggihan kaidah sains dan teknologi semata.

Masyarakat juga harus memiliki kesiapan yang teruji karena mereka nantinya akan berperan aktif sebagai pengembang sekaligus pengguna dari teknologi yang telah diciptakan tersebut. Edukasi publik tidak dapat dilakukan secara instan seperti membalikkan telapak tangan, mengingat perlunya perubahan pola pikir yang mendalam terkait pemilahan dan pengolahan sampah.

Wiharja menegaskan kembali bahwa sinergi antara teknologi yang teruji, kesiapan masyarakat, serta kepatuhan terhadap kaidah sains merupakan kunci utama dalam mengatasi masalah sampah. Dengan kolaborasi tersebut, diharapkan masalah polusi dari pembakaran sampah sembarangan dapat diminimalisir demi menjaga kesehatan lingkungan di masa depan.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.