Bunga Bangkai Asal Sumatera Mekar di Universitas Amerika, Intip Potretnya Terkini

Bunga Bangkai Asal Sumatera Mekar di Universitas Amerika, Intip Potretnya Terkini

Fenomena langka terjadi di Mount Holyoke College, Massachusetts, Amerika Serikat, setelah salah satu spesies bunga bangkai asal Sumatera yang dikenal sebagai Titan arum atau Amorphophallus titanum resmi mekar. Tanaman yang diberi nama panggilan "Pangy" tersebut menarik perhatian besar dari seluruh komunitas kampus karena karakteristiknya yang unik dan kemunculannya yang sangat jarang terjadi.

Bunga Pangy ini tercatat kembali mekar pada April 2026 setelah sebelumnya sempat mekar pertama kali di lokasi yang sama pada tahun 2023 silam. Pihak Mount Holyoke College melalui media sosialnya membagikan kabar gembira mengenai kembalinya bunga ini dan menanyakan kesan para mahasiswa terkait aroma menyengat yang dikeluarkannya.

Karakteristik Unik dan Siklus Hidup Titan Arum

Titan arum merupakan tanaman endemik asli Pulau Sumatera yang memiliki siklus pembungaan sangat singkat dan biasanya hanya terjadi sekali dalam rentang waktu lima hingga tujuh tahun. Meskipun begitu, secara umum tanaman ini seringkali membutuhkan waktu persiapan antara tujuh hingga sembilan tahun untuk bisa mekar, bahkan beberapa individu hanya mekar sekali dalam beberapa dekade.

Berbeda dengan tanaman pada umumnya, bunga bangkai tidak memiliki jadwal mekar tahunan karena proses pembungaannya sangat bergantung pada cadangan energi yang terkumpul di dalam umbi. Tanaman ini memiliki umbi terbesar di dunia tumbuhan dengan berat mencapai sekitar 100 pon atau 45 kilogram yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi utama.

Jika energi yang terkumpul belum mencukupi untuk berbunga, umbi tersebut hanya akan menumbuhkan satu daun tunggal berukuran raksasa yang menyerupai pohon kecil dengan cabang-cabang yang memiliki banyak anak daun. Setelah bertahun-tahun mengumpulkan kekuatan, tanaman barulah akan mekar dengan masa bertahan yang sangat singkat, yakni hanya sekitar 24 hingga 36 jam sebelum akhirnya layu kembali.

Status Konservasi dan Data Statistik

Keberadaan Amorphophallus titanum saat ini kian memprihatinkan sehingga International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkannya sebagai spesies yang terancam punah. Aktivitas penebangan hutan secara liar serta pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit di habitat aslinya dituding menjadi faktor utama yang memicu penurunan populasi tanaman eksotis ini.

Kategori Informasi Detail Data
Estimasi Populasi di Alam Liar Kurang dari 1.000 individu
Penurunan Populasi Lebih dari 50% dalam 150 tahun terakhir
Berat Umbi Maksimal Sekitar 100 pon (45 kg)
Durasi Mekar Bunga 24 hingga 36 jam
Prediksi Siklus Mekar Setiap 5 hingga 7 tahun sekali

Bau Menyengat dan Tujuan Evolusioner

Tom Clark selaku Direktur dan Kurator Kebun Raya Mount Holyoke College menjelaskan bahwa aroma tidak sedap yang dihasilkan bunga ini sebenarnya memiliki tujuan evolusioner yang sangat penting. Meskipun banyak orang yang berkunjung mendeskripsikan aromanya setajam bau tumpukan sampah yang membusuk, bau tersebut berfungsi secara alami untuk memikat lalat dan serangga penyerbuk lainnya.

Proses mekarnya Pangy kali ini cukup mengejutkan karena selama enam minggu terakhir tanaman ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dengan penambahan tinggi beberapa inci setiap harinya. Bunga tersebut akhirnya terbuka penuh pada Senin malam tanggal 13 April 2026 waktu setempat dan langsung menyebarkan bau menyengat ke seluruh area kerja staf keesokan paginya.

Fenomena ini membuktikan betapa sulitnya memprediksi waktu mekar bunga bangkai karena tanaman ini sering berada dalam fase dormansi atau masa istirahat yang sangat lama meskipun kondisi lingkungannya mendukung. Kehadiran bunga asal Sumatera di kampus Amerika ini pun menjadi sarana edukasi penting mengenai pentingnya konservasi tanaman langka yang hampir punah dari habitat aslinya.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.