Gara-gara Harga Avtur Mahal, Maskapai Belanda Batalkan 150 Penerbangan

Gara-gara Harga Avtur Mahal, Maskapai Belanda Batalkan 150 Penerbangan

Maskapai penerbangan asal Belanda, KLM, terpaksa membatalkan lebih dari 150 jadwal penerbangan di wilayah Eropa menyusul lonjakan harga bahan bakar jet yang sangat signifikan. Kebijakan ini berdampak pada pembatalan sekitar 80 rute penerbangan pulang-pergi dari Bandara Schiphol Amsterdam yang dijadwalkan berlangsung selama sebulan ke depan.

Selain rute di benua Eropa, KLM juga memutuskan untuk menangguhkan layanan penerbangan menuju Riyadh dan Dammam di Arab Saudi setidaknya hingga tanggal 16 Mei mendatang. Pihak manajemen menegaskan bahwa operasional rute-rute tersebut saat ini sudah tidak lagi layak secara finansial akibat melambungnya biaya variabel bahan bakar.

Manajemen KLM memberikan klarifikasi bahwa penyesuaian jadwal ini murni merupakan langkah penghematan biaya dan bukan disebabkan oleh kelangkaan stok avtur di pasar. Di sisi lain, maskapai asal Inggris seperti easyJet menyatakan bahwa operasional mereka masih berjalan normal tanpa gangguan pasokan bahan bakar sejauh ini.

Asosiasi perdagangan Airlines UK menjelaskan bahwa stabilitas operasional mereka terjaga karena sumber pasokan bahan bakar di Inggris berasal dari berbagai pemasok yang beragam. Direktur Keuangan easyJet, Kenton Jarvis, menegaskan pihaknya telah memantau ketersediaan bahan bakar hingga pertengahan Mei dan tidak menemukan kendala yang mengkhawatirkan.

Dampak Konflik Geopolitik terhadap Sektor Penerbangan

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama keterlibatan Iran dalam konflik bersenjata, telah memicu guncangan hebat pada pasar energi global saat ini. Kondisi tersebut berdampak langsung pada industri penerbangan dunia yang harus menghadapi kenaikan harga avtur dalam waktu yang sangat singkat.

Indikator Kenaikan Persentase / Dampak
Kenaikan Harga Avtur Bulanan 83 Persen
Perbandingan Harga Sebelum Konflik Hampir Dua Kali Lipat
Estimasi Tambahan Biaya Maskapai Miliaran Dolar per Kuartal

Lonjakan harga bahan bakar yang mencapai 83 persen secara bulanan ini memaksa maskapai untuk menanggung beban biaya operasional tambahan hingga miliaran dolar Amerika Serikat. Situasi ini memicu kekhawatiran meluas akan adanya potensi kenaikan harga tiket pesawat bagi para penumpang di berbagai belahan dunia.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: travel.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.