Grup Astra melalui UNTR Targetkan Produksi 60.000 Ons Emas dari Martabe Mulai Mei 2026

Grup Astra melalui UNTR Targetkan Produksi 60.000 Ons Emas dari Martabe Mulai Mei 2026

PT United Tractors Tbk. (UNTR), yang merupakan bagian dari Grup Astra, berencana untuk mengaktifkan kembali kegiatan operasional di tambang emas Martabe pada pertengahan Mei 2026 mendatang. Fasilitas pertambangan yang dikelola oleh anak usahanya, PT Agincourt Resources, tersebut berlokasi di wilayah Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara.

Kabar mengenai pengoperasian kembali tambang ini disampaikan langsung oleh jajaran manajemen dalam sebuah konferensi pers resmi yang diadakan di Jakarta pada hari Kamis, 16 April 2026. Melalui pengaktifan kembali aset strategis ini, perseroan berharap dapat memperkuat lini bisnis pertambangan mineral mereka di masa depan.

Iwan Hadiantoro selaku Presiden Direktur United Tractors mengungkapkan rasa optimisnya setelah Kementerian Lingkungan Hidup memberikan lampu hijau berupa persetujuan operasional pada Maret lalu. Menurutnya, restu dari pihak regulator tersebut menjadi landasan penting bagi perusahaan untuk memulai kembali proses produksi emas di kawasan tersebut.

Meski telah mendapatkan izin, Iwan menjelaskan bahwa terdapat beragam aspek teknis dan persiapan dokumen yang masih harus dituntaskan oleh tim internal perusahaan. Ia memproyeksikan bahwa seluruh persyaratan administratif atau paperwork tersebut dapat segera rampung sehingga aktivitas di lapangan benar-benar bisa dimulai pada pertengahan Mei.

Terkait rencana kerja ke depan, Iwan menyatakan bahwa target volume produksi emas dari tambang Martabe dipatok pada angka sekitar 60.000 ons untuk periode tahun berjalan. Angka ini mencerminkan ambisi perusahaan untuk segera berkontribusi pada total output emas Grup Astra setelah sempat mengalami periode penyesuaian operasional.

Di sisi lain, Direktur United Tractors Vilihati Surya memberikan rincian lebih lanjut mengenai target performa niaga emas dari entitas-entitas di bawah naungan perseroan. Pihak manajemen menargetkan total penjualan emas dari Agincourt Resources dan Sumbawa Juta Raya (SJR) secara akumulatif dapat mencapai kisaran 82.000 ons.

Menengok kinerja pada tahun sebelumnya, UNTR berhasil membukukan total volume penjualan setara emas mencapai 227.000 ons hingga penutupan kuartal IV tahun 2025. Perolehan tersebut merupakan hasil akumulasi dari berbagai tambang yang dikelola perusahaan untuk mendukung stabilitas pendapatan dari sektor mineral non-batubara.

Namun, jika dibandingkan dengan performa tahun 2024, realisasi penjualan emas sepanjang tahun 2025 tersebut tercatat mengalami sedikit penurunan tipis sebesar 2 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh dinamika operasional di beberapa unit tambang yang mengalami fluktuasi selama periode satu tahun kalender tersebut.

Secara lebih detail, PT Agincourt Resources (PTAR) sendiri melaporkan angka penjualan setara emas sebesar 213.000 ons pada tahun 2025 yang lalu. Jumlah tersebut merepresentasikan adanya koreksi atau penurunan kinerja sebesar 7 persen apabila disandingkan dengan total pencapaian mereka di tahun 2024.

Sementara itu, kontribusi lainnya datang dari unit bisnis Sumbawa Juta Raya (SJR) yang mencatatkan total penjualan setara emas sebanyak 14.000 ons. Kinerja dari berbagai entitas anak ini menjadi faktor penentu dalam struktur pendapatan konsolidasi United Tractors dari segmen pertambangan mineral secara keseluruhan.

Beralih ke performa keuangan secara makro, sepanjang tahun 2025 UNTR berhasil mengumpulkan total pendapatan bersih senilai Rp131,3 triliun bagi grup perusahaan. Meskipun angka tersebut terlihat sangat besar, faktanya terjadi penurunan pendapatan sebesar 2,32 persen dari raihan tahun 2024 yang saat itu mencapai Rp134,4 triliun.

Kontribusi terbesar bagi pundi-pundi pendapatan perusahaan masih didominasi oleh segmen kontraktor penambangan yang menyumbang nilai sebesar Rp54,1 triliun. Posisi berikutnya ditempati oleh segmen mesin konstruksi dengan nilai Rp36,6 triliun, disusul oleh segmen pertambangan batu bara yang menghasilkan Rp24,2 triliun.

Segmen pertambangan emas dan mineral lainnya turut memberikan sumbangsih pendapatan yang signifikan bagi perseroan dengan nilai mencapai Rp14 triliun. Integrasi berbagai segmen ini memperlihatkan diversifikasi bisnis UNTR yang luas, meski tekanan pasar tetap memberikan dampak pada angka laba bersih perusahaan.

Data keuangan menunjukkan bahwa laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami penyusutan sebesar 24,17 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY). Laba bersih perseroan yang sebelumnya berada di level Rp19,53 triliun pada tahun 2024 harus terkoreksi menjadi Rp14,81 triliun pada akhir tahun 2025.

Data Operasional dan Keuangan UNTR (2024-2025)

Kategori Kinerja Tahun 2024 Tahun 2025 Perubahan (%)
Pendapatan Bersih (Triliun Rp) 134,4 131,3 -2,32%
Laba Bersih (Triliun Rp) 19,53 14,81 -24,17%
Total Penjualan Emas (Ons) 231.600* 227.000 -2,00%
Penjualan Emas PTAR (Ons) 229.000* 213.000 -7,00%
Penjualan Emas SJR (Ons) - 14.000 -

*Angka perkiraan berdasarkan persentase penurunan yang dilaporkan dalam naskah berita asli.

Rincian Pendapatan Berdasarkan Segmen (2025)

Sektor Bisnis Nilai Pendapatan (Triliun Rp)
Kontraktor Penambangan 54,1
Mesin Konstruksi 36,6
Pertambangan Batu Bara 24,2
Pertambangan Emas & Mineral Lainnya 14,0

Melalui langkah pembukaan kembali tambang Martabe pada Mei 2026, perseroan berharap dapat memulihkan kembali tren produksi emas yang sempat menurun pada tahun sebelumnya. Strategi ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kinerja saham UNTR serta kepercayaan para investor di pasar modal Indonesia.

Sebagai catatan bagi para pembaca, seluruh informasi mengenai rencana operasional dan laporan keuangan ini merupakan bagian dari transparansi publik perusahaan. Segala bentuk keputusan untuk melakukan transaksi jual atau beli saham sepenuhnya merupakan tanggung jawab dan risiko masing-masing individu investor.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: market.bisnis.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.