Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tren penguatan signifikan hingga mendekati angka USD 100 per barel pada perdagangan hari Kamis waktu setempat atau Jumat WIB. Lonjakan ini dipicu oleh rendahnya volume lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz akibat belum adanya kejelasan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut secara penuh.
Kondisi di lapangan menunjukkan hanya sedikit kapal tanker yang berani melintasi selat setiap harinya di tengah blokade Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap pantai Iran. Situasi semakin mencekam karena Teheran melontarkan ancaman balasan terhadap kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Teluk Persia tersebut.
Rincian Kenaikan Harga Minyak
Berdasarkan data pasar yang dikutip dari CNBC, patokan harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni melonjak hampir 5 persen hingga menyentuh level USD 99,39 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI untuk pengiriman Mei juga naik hampir 4 persen dan bertengger di posisi USD 94,69 per barel.
| Jenis Minyak Mentah | Harga Penutupan (USD) | Persentase Kenaikan |
|---|---|---|
| Brent (Juni) | 99,39 | ~5% |
| West Texas Intermediate (Mei) | 94,69 | ~4% |
Diplomasi dan Ketegangan Regional
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat memberikan pernyataan kepada awak media bahwa pihak AS dan Iran kemungkinan besar akan bertemu kembali pada akhir pekan ini. Meski demikian, hingga saat ini belum ada penetapan tanggal resmi untuk putaran kedua negosiasi yang sangat dinantikan oleh pasar energi tersebut.
Trump sebelumnya telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama sepuluh hari antara pihak Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Masalah konflik antara Israel dan Hizbullah ini diketahui menjadi hambatan utama dalam perundingan sebelumnya antara AS dan Iran yang digelar di Pakistan.
Beberapa pemimpin di kawasan Eropa serta negara-negara Teluk Arab memiliki kekhawatiran bahwa proses negosiasi kesepakatan antara AS dan Iran bisa memakan waktu hingga enam bulan. Informasi tersebut diperoleh dari sumber internal yang memahami jalannya proses diplomatik rumit yang sedang berlangsung di tengah krisis energi.
Dampak Global dan Batas Waktu Gencatan Senjata
Krisis di Timur Tengah ini telah memicu lonjakan harga Bahan Bakar Minyak secara signifikan di berbagai negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Kondisi tersebut diperparah dengan pengurangan operasi di ladang minyak seperti Zubair di Irak akibat dampak langsung dari serangan militer di kawasan tersebut.
Gencatan senjata selama dua minggu yang saat ini berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan akan segera berakhir pada hari Selasa, 21 April mendatang. Trump menyetujui kesepakatan tersebut dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal, namun Teheran tetap berupaya memegang kendali penuh atas jalur pelayaran tersebut.
Iran tetap memegang posisi tawar yang kuat sebagai salah satu negara pemilik cadangan gas terbesar di dunia di tengah ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat. Hingga kini, Iran menegaskan tidak akan menyerahkan uranium mereka ke AS sebagai respons atas pernyataan keras yang dikeluarkan oleh Donald Trump.