Harga minyak mentah dunia kembali mengalami lonjakan tajam setelah sempat merosot lebih dari 9 persen pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh kabar penutupan kembali Selat Hormuz akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang saling tuding terkait pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.
Berdasarkan data perdagangan terkini, harga minyak mentah jenis Brent meroket sebesar US$ 6,11 atau setara 6,76 persen ke posisi US$ 96,49 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate milik Amerika Serikat juga menguat US$ 6,53 atau 7,79 persen hingga mencapai level US$ 90,38 per barel.
| Jenis Minyak Mentah | Harga Per Barel | Kenaikan (USD) | Persentase Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Brent | US$ 96,49 | US$ 6,11 | 6,76% |
| West Texas Intermediate (WTI) | US$ 90,38 | US$ 6,53 | 7,79% |
Saul Kavonic selaku Kepala Penelitian MST Marquee menyatakan bahwa volatilitas pasar minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika informasi di media sosial dari kedua belah pihak. Situasi yang fluktuatif ini membuat investor bereaksi cepat terhadap setiap perkembangan pernyataan resmi maupun tidak resmi dari pejabat Amerika Serikat dan Iran.
Keputusan Iran untuk menutup kembali akses Selat Hormuz pada Sabtu (18/4) dilakukan hanya berselang beberapa jam setelah jalur pelayaran tersebut sempat dibuka untuk umum. Iran berdalih bahwa Amerika Serikat telah mengkhianati komitmen dengan tetap melanjutkan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal yang menuju maupun berasal dari pelabuhan mereka.
Pihak militer Amerika Serikat diketahui telah melakukan penyitaan terhadap kapal kargo Iran yang berupaya menembus barikade laut di kawasan tersebut. Menanggapi tindakan itu, Iran dengan tegas menolak untuk terlibat dalam putaran kedua pembicaraan damai meskipun Presiden Donald Trump mengancam akan meluncurkan serangan udara susulan.
Kavonic menilai bahwa pengumuman mengenai pembukaan jalur Selat Hormuz sebelumnya terkesan terlalu dini dan tidak didukung oleh jaminan keamanan yang memadai. Kondisi ini diprediksi akan membuat para pemilik kapal menjadi jauh lebih waspada dan tidak akan sembarangan melintasi jalur tersebut tanpa adanya kepastian yang kuat.
Pada hari Sabtu (18/4), tercatat lebih dari 20 unit kapal yang membawa komoditas strategis seperti minyak, gas cair, logam, hingga pupuk sempat melintasi jalur tersebut. Angka tersebut menjadi jumlah pelayaran harian tertinggi yang tercatat sejak awal Maret 2026 berdasarkan data yang dirilis oleh Kpler.