Harga Minyak Turun Tajam 5,9% ke US$92,41 per Barel Setelah Pembukaan Selat Hormuz

Harga Minyak Turun Tajam 5,9% ke US$92,41 per Barel Setelah Pembukaan Selat Hormuz

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam sebesar 5,9 persen hingga menyentuh level US$92,41 per barel setelah pembukaan kembali jalur perdagangan Selat Hormuz. Normalisasi jalur distribusi energi yang sangat vital ini dilakukan menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata di wilayah Lebanon.

Berdasarkan data dari Trading View pada Sabtu (18/4/2026) siang, harga minyak mentah jenis Brent terkoreksi signifikan dari posisi sebelumnya yang sempat melampaui US$100 per barel. Lonjakan harga di atas angka psikologis tersebut terjadi saat eskalasi konflik di Timur Tengah memuncak dan memicu penutupan akses di Selat Hormuz oleh pihak Iran.

Normalisasi Jalur Perdagangan Minyak Global

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara resmi mengumumkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kini telah dibuka sepenuhnya bagi kapal-kapal komersial. Keputusan strategis ini diambil sebagai langkah lanjutan dari situasi kondusif setelah kesepakatan damai sementara atau gencatan senjata di Lebanon mulai berlaku.

Melalui pernyataan di media sosial X, Araghchi menegaskan bahwa pembukaan jalur ini akan terus berlangsung selama masa gencatan senjata tersebut tetap terjaga. Ia menambahkan bahwa kapal komersial dapat melintasi rute-rute terkoordinasi yang telah ditetapkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran guna menjamin kelancaran arus logistik.

Pemerintah Indonesia menyambut baik perkembangan positif ini melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia. Beliau mengungkapkan bahwa normalisasi jalur Selat Hormuz merupakan sinyalemen kuat meredanya tensi geopolitik global yang sempat mengancam stabilitas pasar energi.

Kementerian ESDM menilai kondisi ini akan memberikan dampak yang sangat positif bagi penguatan ketahanan energi nasional serta stabilitas pasokan di dalam negeri. Dwi Anggia juga menegaskan bahwa pemerintah senantiasa waspada dan telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna menghadapi kemungkinan gangguan pasokan energi dari luar negeri.

Langkah-langkah preventif yang telah disiapkan mencakup upaya penguatan stok minyak nasional serta diversifikasi sumber energi dari berbagai negara mitra lainnya. Dengan dibukanya kembali akses Selat Hormuz, tekanan terhadap rantai pasok minyak mentah dunia diharapkan mulai melandai sehingga pergerakan harga kembali stabil.

Analisis Dampak Terhadap Sektor Emiten Migas

Penurunan harga minyak dunia ini turut memberikan dampak langsung pada pergerakan saham emiten minyak dan gas (migas) di Bursa Efek Indonesia, seperti MEDC dan ENRG. Fluktuasi harga komoditas global tersebut menjadi penggerak utama bagi sentimen investor dalam memperdagangkan saham-saham di sektor energi dalam beberapa waktu terakhir.

Tim analis dari BRI Danareksa Sekuritas, yang terdiri dari Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis, telah menyusun proyeksi harga minyak berdasarkan beberapa skenario konflik. Skenario tersebut mempertimbangkan tingkat eskalasi yang mungkin terjadi di masa depan serta pengaruhnya terhadap kelancaran arus distribusi minyak di wilayah Selat Hormuz.

Skenario Dampak Konflik Proyeksi Harga Minyak Brent (per Barel)
Gangguan Skala Ringan US$80 - US$90
Skenario Berkelanjutan US$105 - US$115
Gangguan Berkepanjangan US$110 - US$135

Meskipun saat ini arus pengiriman di Selat Hormuz menunjukkan peningkatan yang signifikan, pihak sekuritas tetap menetapkan skenario gangguan moderat sebagai landasan dasar analisis mereka. Dalam pandangan riset tersebut, sektor hulu migas diperkirakan tetap akan memberikan performa yang lebih baik atau outperform dibandingkan sektor lainnya dalam tiga bulan ke depan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026), harga saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) mengalami penurunan tipis sebesar 0,28 persen ke posisi Rp1.780 per lembar saham. Meski demikian, jika dilihat secara tahun berjalan atau year to date, kinerja saham ENRG masih mencatatkan kenaikan yang cukup solid sebesar 11,25 persen.

Di sisi lain, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) juga terkoreksi sebesar 0,58 persen menjadi Rp1.700 pada akhir pekan lalu. Secara keseluruhan, performa MEDC sepanjang tahun ini masih sangat mengesankan dengan pertumbuhan mencapai 26,39 persen di tengah dinamika pasar energi global yang sangat fluktuatif.

Pergerakan harga komoditas ini menjadi faktor krusial yang terus dipantau oleh para pelaku pasar modal maupun pemangku kebijakan energi di Indonesia. Pembukaan jalur Selat Hormuz diharapkan dapat menjadi titik balik bagi stabilitas ekonomi global yang sebelumnya sempat tertekan oleh kekhawatiran krisis energi berkepanjangan.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: market.bisnis.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.