Harga Perak Antam Turun Rp 500 ke Angka Berikut pada 17 April 2026

Harga Perak Antam Turun Rp 500 ke Angka Berikut pada 17 April 2026

Harga perak batangan yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat mengalami penurunan pada perdagangan Jumat, 17 April 2026. Penurunan ini mengakhiri tren penguatan yang sempat terjadi selama dua hari berturut-turut sebelumnya di pasar domestik.

Koreksi harga yang dialami perak Antam hari ini berjalan selaras dengan pergerakan harga emas Antam serta fluktuasi perak di pasar internasional. Berdasarkan data resmi dari situs logammulia.com, nilai perak Antam merosot sebesar Rp 500 dibandingkan posisi pada hari sebelumnya.

Kategori Harga Nilai (Rp)
Harga Sebelumnya Rp 50.600
Harga Hari Ini (17 April 2026) Rp 50.100
Besaran Penurunan Rp 500

Saat ini, harga perak Antam dipatok pada level Rp 50.100 per gram setelah sebelumnya berada di angka Rp 50.600. Antam menyediakan berbagai varian produk logam putih ini, mulai dari perak batangan seberat 250 gram dan 500 gram hingga perak butiran murni dengan kadar 99,95%.

Kondisi Pasar Perak dan Dinamika Global

Di pasar global, harga perak pada Jumat, 17 April 2026, terpantau stabil di kisaran angka USD 79 per ounce. Meskipun ada penurunan di level lokal, perak dunia sebenarnya sedang menuju jalur kenaikan mingguan selama empat kali berturut-turut.

Sentimen positif ini didorong oleh harapan atas tercapainya kesepakatan gencatan senjata permanen antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut membantu meredam kekhawatiran pasar terhadap ancaman inflasi tinggi serta potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral global.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihak Iran telah menyetujui sejumlah persyaratan penting untuk meredakan ketegangan. Persyaratan tersebut mencakup penghentian ambisi senjata nuklir, penyediaan minyak secara cuma-cuma, hingga pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Meski demikian, klaim dari pihak Gedung Putih tersebut hingga saat ini belum mendapatkan verifikasi resmi dari para pejabat tinggi di Iran. Secara teknis, Selat Hormuz dilaporkan masih tertutup akibat adanya blokade ganda yang menghambat jalur distribusi energi internasional.

Direktur Eksekutif IMF, Fatih Birol, turut memberikan peringatan bahwa proses pemulihan produksi minyak dan gas yang terganggu bisa memakan waktu hingga dua tahun. Walaupun ada kendala tersebut, harga minyak dunia sudah mulai turun tajam seiring meningkatnya optimisme terhadap dialog dengan pihak Iran.

Penurunan harga energi ini secara langsung mengurangi tekanan inflasi global dan mendinginkan ekspektasi terkait kenaikan suku bunga lebih lanjut di masa depan. Secara akumulasi, harga perak diprediksi mencatat kenaikan 4% pada pekan ini dan telah melonjak hampir 30% dari titik terendahnya di bulan Maret.

Pergerakan Harga Emas dan Logam Lainnya

Sejalan dengan perkembangan tersebut, harga emas dunia juga dilaporkan mengalami penguatan pada sesi perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat waktu Jakarta. Faktor utama pendorong kenaikan ini adalah harapan perdamaian antara AS dan Iran yang diprediksi akan memperbaiki prospek penurunan suku bunga.

Data dari CNBC menunjukkan harga emas berjangka AS naik sebesar 0,6% ke level USD 4.816,14 per ons setelah sebelumnya mencapai level tertinggi satu bulan. Sementara itu, kontrak harga emas AS untuk pengiriman bulan Juni juga meningkat 0,3% hingga menyentuh angka USD 4.838,10.

David Meger, yang menjabat sebagai Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menjelaskan bahwa meredanya ketegangan perang berdampak pada berkurangnya tekanan inflasi. Hal ini memperkuat kemungkinan bagi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga pada akhir tahun, yang pada gilirannya menguntungkan komoditas logam mulia.

Optimisme pasar semakin tumbuh setelah mediator dari Pakistan dikabarkan berhasil mencapai terobosan penting dalam mengatasi berbagai isu pelik antara pihak-pihak yang bertikai. Namun, Iran tetap memberikan peringatan keras bahwa status program nuklir mereka masih menjadi agenda yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Sebagai catatan sejarah, harga emas sempat tertekan saat AS dan Israel memulai aksi militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Saat itu, melonjaknya harga energi memicu kekhawatiran inflasi sehingga pasar ragu bahwa bank sentral akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Emas secara tradisional dipandang sebagai aset tanpa imbal hasil yang daya tariknya akan menurun apabila suku bunga tetap berada di level tinggi. Saat ini, para pelaku pasar melihat peluang penurunan suku bunga AS berada di kisaran 36% untuk sepanjang tahun 2026.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengemukakan bahwa meskipun ekonomi mungkin melambat pada kuartal ini akibat konflik, fundamental ekonomi tetap dalam kondisi baik. Ia menambahkan bahwa harga minyak saat ini tidak lagi menjadi beban utama yang mempengaruhi ekspektasi inflasi nasional.

Statistik Logam Lain dan Defisit Perak

Selain emas dan perak, beberapa jenis logam mulia lainnya juga mencatatkan pergerakan harga yang bervariasi pada periode perdagangan yang sama. Berikut adalah rincian harga logam mulia lainnya sebagaimana dilaporkan dalam pantauan pasar terakhir:

Jenis Logam Harga (per ons) Persentase Kenaikan
Perak Global USD 79,27 0,3%
Platinum USD 2.129,55 0,9%
Palladium USD 1.578,06 0,3%

Laporan dari Silver Institute dan Metals Focus menyebutkan bahwa pasar perak dunia sedang menuju tahun keenam terjadinya defisit struktural pasokan. Sejak tahun 2021, diperkirakan sebanyak 762 juta ons troy perak telah ditarik dari stok global untuk memenuhi kebutuhan industri dan investasi.

Fenomena berkurangnya stok ini meningkatkan risiko munculnya krisis likuiditas baru di pasar perak meskipun ada proyeksi pelemahan permintaan secara umum. PT Aneka Tambang Tbk sebagai pemain utama di Indonesia terus memantau dinamika ini untuk menetapkan harga acuan harian bagi konsumen lokal.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.liputan6.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.