Inspirasi Arif, Difabel Netra yang Sempat Ditolak SD Kini Sukses Raih Beasiswa LPDP

Inspirasi Arif, Difabel Netra yang Sempat Ditolak SD Kini Sukses Raih Beasiswa LPDP

Bagi kebanyakan orang, indra penglihatan adalah sesuatu yang dianggap biasa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Namun bagi Arif Prasetyo, dunia telah hadir tanpa rupa dan warna sejak dirinya dilahirkan ke dunia.

Arif tumbuh besar di Ngawen dalam kondisi keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi serta fisik yang cukup menantang. Ayah dan ibunya merupakan penyandang disabilitas netra, begitu pula dengan mayoritas saudara kandungnya yang memiliki kondisi serupa.

Keseharian keluarga Arif diisi dengan perjuangan keras, di mana ayahnya menyambung hidup dengan mengamen di sepanjang kawasan Malioboro. Sementara itu, sang ibu berupaya menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai seorang terapis pijat demi masa depan anak-anak mereka.

Dari lingkungan yang penuh keterbatasan cahaya inilah, Arif memulai sebuah perjalanan panjang untuk membuktikan sebuah prinsip hidup yang kuat. Ia percaya bahwa kondisi fisiknya bukanlah sebuah akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk memahami dunia melalui perspektif yang berbeda.

Melawan Stigma Melalui Prestasi

Masa kanak-kanak Arif tidak lepas dari pengalaman pahit berupa diskriminasi yang datang dari lingkungan pendidikan di sekitarnya. Ia sempat mengalami penolakan dari dua sekolah dasar umum di dekat rumahnya dengan alasan pihak sekolah belum siap menerima siswa berkebutuhan khusus.

Kenyataan pahit tersebut memaksa Arif kecil harus berpisah dari orang tuanya untuk menimba ilmu di SDLB Kota Yogyakarta dan menetap di asrama. Meski harus jauh dari rumah, Arif memilih untuk merespons segala bentuk penolakan tersebut dengan cara yang sangat elegan dan inspiratif.

Setiap kali memiliki kesempatan pulang ke Ngawen, ia selalu membawa pulang piala kemenangan hasil kerja kerasnya untuk dipajang di ruang tamu keluarga. Arif sengaja memajang piala-piala tersebut agar setiap tamu yang datang menyadari bahwa hambatan fisik tidak menutup peluang bagi siapa pun untuk berprestasi.

Ia menegaskan kepada publik melalui laman resmi LPDP bahwa meskipun fisiknya mengalami hambatan, kapasitas belajar dan hak untuk berprestasi adalah sama bagi setiap manusia. Pesan ini menjadi senjata utamanya dalam meruntuhkan stigma negatif yang selama ini melekat pada penyandang disabilitas netra.

Perjuangan Menaklukkan Tes TOEFL

Ambisi besar Arif untuk terus berkembang tidak berhenti setelah ia berhasil menyabet gelar sarjana dari perguruan tinggi. Ia kemudian membidik beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas untuk melanjutkan studi pada program Magister Manajemen Pendidikan Islam guna memperdalam ilmunya.

Tantangan berat kembali muncul saat ia harus memenuhi persyaratan skor TOEFL sebagai salah satu syarat mutlak penerimaan beasiswa tersebut. Banyak lembaga penyedia tes bahasa Inggris di Yogyakarta yang menolak pendaftarannya karena merasa tidak mampu mengakomodasi kebutuhan peserta tunanetra.

Enggan menyerah pada keadaan, Arif menyusun strategi dengan mendaftar ke lembaga lain tanpa memaparkan kondisi fisiknya secara detail di awal proses. Kehadirannya di lokasi ujian justru memberikan tekanan positif yang memaksa lembaga tersebut untuk beradaptasi dan menciptakan sistem ujian inklusif saat itu juga.

Kegigihan tersebut membuahkan hasil manis ketika Arif berhasil lulus tes dengan skor yang melampaui batas minimum dan resmi dikukuhkan sebagai awardee LPDP. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran beasiswa ini sangat krusial dalam membantu rekan-rekan disabilitas untuk meraih mimpi dan menikmati pendidikan yang setara.

Kontribusi Nyata Melalui Karya

Bagi Arif Prasetyo, inklusivitas bukan hanya sekadar teori atau konsep indah di atas kertas, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata. Ia terlibat aktif dalam berbagai komunitas yang berfokus pada pemberdayaan disabilitas, termasuk menjadi bagian dari komunitas sutradara film disabilitas bernama Sat Adhirajasa.

Wadah kolaborasi tersebut menjadi jembatan bagi penyandang disabilitas dan masyarakat umum untuk berkarya bersama tanpa adanya sekat pemisah. Selain di bidang seni, ia juga mempelopori gerakan walking tour untuk mengajak masyarakat umum merasakan perspektif disabilitas saat menggunakan fasilitas publik.

Salah satu pencapaian terbesarnya dalam bidang sosial adalah mendirikan Braille School yang bernaung di bawah payung komunitas Braillient Indonesia. Lembaga ini didedikasikan untuk memberikan akses literasi yang lebih luas bagi sesama tunanetra agar mereka tetap bisa mengejar ilmu pengetahuan.

Kisah hidup Arif menjadi pengingat kuat bahwa keterbatasan fisik tidak akan pernah mampu menghentikan langkah kaki seseorang yang memiliki tekad baja. Meski matanya tidak dapat melihat cahaya, ia berhasil menciptakan terang bagi sekitarnya melalui pengabdian dan karya-karya nyata yang ia hasilkan.

Arif mengakui bahwa perjuangannya tidaklah mudah dan ia sering kali tersandung atau terluka secara mental dalam menjalani proses yang melelahkan ini. Namun, ia berkomitmen untuk terus menjalani hidup dengan sepenuh hati, menjaga nyala semangat, dan memastikan bahwa harapannya tidak akan pernah padam.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: edukasi.kompas.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.