Pemerintah Iran secara resmi membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran energi paling krusial di dunia bagi kapal-kapal komersial. Keputusan strategis ini diambil menyusul pemberlakuan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang direncanakan berlangsung hingga sepuluh hari ke depan.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa seluruh kapal komersial kini diizinkan melintasi jalur vital tersebut selama masa gencatan senjata masih berlaku. Meskipun telah dibuka secara normal, otoritas maritim Iran mewajibkan setiap kapal untuk mengikuti rute koordinasi khusus yang telah ditentukan demi alasan teknis.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Iran akan kembali memungut biaya lintas atau 'tol' terhadap kapal-kapal yang melewati selat tersebut sebagaimana kebijakan sebelumnya. Kendati demikian, langkah pembukaan akses ini dinilai memberikan sentimen positif bagi stabilitas dan kondisi pasar energi di tingkat global.
Sikap Amerika Serikat Terkait Pembukaan Jalur
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan apresiasi atas langkah Iran yang bersedia membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz melalui pernyataan di media sosial. Trump menegaskan kembali rasa terima kasihnya dalam sebuah pidato resmi pada acara Turning Point USA yang diselenggarakan di Phoenix pada Jumat waktu setempat.
Meski mengapresiasi pembukaan selat tersebut, Trump menekankan bahwa operasi blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran masih tetap berjalan. Pemblokiran ini akan terus dilakukan oleh militer AS hingga tercapai kesepakatan diplomatik yang komprehensif antara pemerintah Amerika Serikat dan pihak Iran.
Dalam penjelasannya, Trump menyoroti fakta bahwa aktivitas perdagangan di Selat Hormuz kini sudah kembali siap beroperasi meskipun tekanan blokade AS belum dicabut. Situasi ini menunjukkan dinamika geopolitik yang kompleks di mana jalur pelayaran terbuka di tengah pengawasan ketat armada laut Amerika Serikat.