Perusahaan sepatu ternama asal Amerika Serikat, Allbirds, baru-baru ini mengambil langkah bisnis yang mengejutkan dengan mengalihkan fokus sepenuhnya menjadi perusahaan kecerdasan buatan (AI). Strategi putar haluan ini dilakukan untuk menyelamatkan eksistensi perusahaan yang terus terpuruk setelah sempat menjadi merek alas kaki favorit para pekerja di Silicon Valley.
Didirikan sejak tahun 2015, Allbirds awalnya membangun reputasi sebagai produsen sepatu ramah lingkungan yang menggunakan material wol Merino serta serat kayu eucalyptus. Namun, meski sempat meraih valuasi tinggi hingga 4 miliar dollar AS dan melantai di bursa saham pada 2021, popularitas merek ini merosot tajam hingga terpaksa menutup seluruh toko fisiknya.
Pada akhir Maret lalu, Allbirds resmi diakuisisi oleh American Exchange Group dengan nilai transaksi sebesar 39 juta dollar AS atau setara Rp 669 miliar. Angka penjualan tersebut mencerminkan penurunan nilai yang sangat drastis jika dibandingkan dengan masa kejayaan perusahaan di beberapa tahun sebelumnya.
Transformasi Menjadi Newbird AI
Setelah proses transisi selesai, perusahaan akan lahir kembali dengan identitas baru bernama Newbird AI untuk mencerminkan fokus bisnis teknologi mereka. Perubahan nama resmi ini masih menunggu persetujuan dari para pemegang saham dalam rapat umum yang direncanakan berlangsung pada pertengahan Mei mendatang.
Manajemen perusahaan telah mengamankan fasilitas pendanaan konversi senilai 50 juta dollar AS atau sekitar Rp 858 miliar dari investor institusional sebagai modal awal. Dana segar ini rencananya akan dialokasikan untuk pengadaan GPU guna mendukung visi jangka panjang mereka menjadi penyedia layanan GPU-as-a-Service (GPUaaS) dan solusi cloud AI terintegrasi.
Layanan GPUaaS sendiri diproyeksikan untuk memenuhi tingginya permintaan daya komputasi di tengah kelangkaan GPU global dengan sistem penyewaan kepada berbagai startup. Newbird AI menargetkan pasar pelanggan yang membutuhkan akses komputasi berkinerja tinggi dengan latensi rendah melalui skema sewa jangka panjang yang stabil.
Tren Rebranding dan Fenomena Gelembung AI
Keputusan Allbirds untuk terjun ke industri kecerdasan buatan memicu diskusi hangat mengenai potensi munculnya gelembung atau bubble AI di pasar global. Fenomena ini dinilai serupa dengan tren akhir 1990-an saat banyak perusahaan menambahkan label ".com" demi menarik minat investor, yang akhirnya memicu gelembung dot-com.
Pergeseran tren ini juga sempat terjadi pada dekade 2010-an ketika perusahaan berbondong-bondong mengadopsi istilah blockchain demi menaikkan nilai jual di mata publik. Saat ini, istilah AI dianggap sebagai kata paling memikat bagi investor, yang terbukti dari lonjakan harga saham perusahaan secara signifikan setelah pengumuman tersebut.
| Kategori Data | Nilai / Keterangan |
|---|---|
| Valuasi Tertinggi Masa Lalu | 4 Miliar Dollar AS |
| Nilai Penjualan ke American Exchange Group | 39 Juta Dollar AS (Rp 669 Miliar) |
| Pendanaan Baru untuk GPU | 50 Juta Dollar AS (Rp 858 Miliar) |
| Lonjakan Harga Saham Pasca Pengumuman | Lebih dari 420 Persen |
Langkah ekstrem ini nyatanya langsung membuahkan hasil instan di pasar modal dengan kenaikan harga saham yang sangat drastis hingga mencapai ratusan persen dalam waktu singkat. Meskipun memberikan angin segar bagi keuangan perusahaan, banyak analis tetap mewaspadai risiko jangka panjang dari strategi bisnis yang hanya mengikuti arus tren teknologi sesaat.