Memilih Saham Properti CTRA hingga SMRA Saat Target Penjualan Pemasaran Menjadi Lebih Realistis

Memilih Saham Properti CTRA hingga SMRA Saat Target Penjualan Pemasaran Menjadi Lebih Realistis

Sejumlah analis berpandangan bahwa target penjualan emiten properti untuk tahun ini masih realistis, meskipun sektor ini belum sepenuhnya pulih akibat tekanan suku bunga yang tinggi dan keterbatasan daya beli masyarakat. Muhammad Wafi, Kepala Riset Kisi Sekuritas, menyatakan bahwa keberhasilan pencapaian target prapenjualan sangat bergantung pada optimalisasi insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dan fokus pada segmen hunian tapak kelas menengah dengan harga di bawah Rp2 miliar, yang memiliki permintaan yang stabil.

Wafi mengungkapkan keyakinannya bahwa target marketing sales dapat dicapai, terutama jika didukung insentif dari pemerintah dan strategi pemasaran yang tepat dalam segmen yang kuat. Namun, ia mencatat bahwa prospek sektor properti saat ini masih terhambat dan mengharapkan adanya penurunan suku bunga untuk meningkatkan minat pasar.

Para investor disarankan untuk memperhatikan emiten yang memiliki kekuatan dalam township serta keberagaman geografis yang solid. Dalam hal ini, beberapa saham yang direkomendasikan termasuk CTRA dengan target harga Rp1.400, BSDE yang terindeks untuk dibeli dengan target Rp1.200, dan SMRA dengan target Rp650 yang ditopang oleh pendapatan pusat perbelanjaan terintegrasi yang baik.

Menurut Achmad Yaki, Analis dari BCA Sekuritas, beberapa emiten cenderung menetapkan target yang lebih konservatif untuk menjaga kinerja dan ekspektasi investor. Ia merujuk pada BSDE yang menetapkan target marketing sales sebesar Rp10 triliun, sejalan dengan pencapaian tahun lalu, dan PANI yang menargetkan Rp4,3 triliun.

Yaki mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini lebih berfokus pada stabilitas kinerja meski pertumbuhannya diprediksi moderat. Meski begitu, ada peluang positif bagi sektor properti, yang didorong oleh kebijakan pemerintah serta potensi penurunan suku bunga di masa depan.

Namun, tantangan yang ada mencakup suku bunga tinggi yang mungkin bertahan lama, pelemahan rupiah yang memperberat biaya material konstruksi, dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Yaki menyimpulkan bahwa prospek sektor properti untuk jangka pendek masih bersifat wait and see.

Investor disarankan untuk mulai mempertimbangkan peluang dengan menerapkan strategi selective buy on weakness pada saham-saham tertentu, seperti PANI. Yaki menegaskan bahwa pasar masih menunggu katalis utama, terutama dari pergerakan suku bunga yang akan datang, menjadikan pendekatan selektif sebagai kunci dalam berinvestasi.

Disclaimer: Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang mungkin timbul dari keputusan investasi tersebut.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: market.bisnis.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.