Fasilitas pilot Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang telah dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sejak tahun 2017 silam. Selain berperan sebagai pusat pengelolaan limbah, proyek ini juga difungsikan sebagai sarana edukasi yang melibatkan berbagai perguruan tinggi dalam proses operasionalnya.
Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PR TLTB), Ir. Wiharja, M.Si., menyatakan bahwa PLTSa binaan BRIN ini terbuka bagi peserta magang maupun peneliti. Menurut keterangannya kepada detikEdu di Gedung BJ Habibie pada Kamis (16/4/2026), fasilitas ini sering menjadi lokasi kerja praktik bagi mahasiswa riset maupun program vokasi.
Mahasiswa yang datang untuk menimba ilmu di PLTSa ini tidak hanya berasal dari wilayah Jakarta saja, melainkan dari berbagai daerah lainnya. Beberapa instansi seperti Politeknik Negeri Jember dan Universitas Bhayangkara tercatat sangat aktif dalam mengirimkan mahasiswa mereka untuk belajar di sana.
Wiharja menambahkan bahwa Politeknik Negeri Jember secara rutin mengirimkan mahasiswa dari departemen energi terbarukan untuk mendalami teknologi ini. Sementara itu, Universitas Bhayangkara juga turut berpartisipasi dengan mengirimkan banyak delegasi mahasiswa guna mempelajari sistem pengelolaan sampah tersebut.
Proyek pengolahan limbah ini memang dirancang sebagai sarana pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang batasan usia. Bahkan, anak-anak tingkat Taman Kanak-kanak (TK) diberikan kesempatan untuk melihat langsung bagaimana proses pengolahan sampah berlangsung di lokasi.
Konsep utama yang diusung adalah membuktikan bahwa sampah dapat diubah menjadi energi sekaligus menjadikannya sebagai platform pendidikan yang nyata. Kehadiran para pelajar muda ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya manajemen sampah sejak usia dini.
Fasilitas Education Room untuk Pengunjung
Demi mendukung aspek edukasi tersebut, pihak pengelola telah menyediakan fasilitas khusus yang dinamakan education room bagi setiap pengunjung yang hadir. Ruangan ini difungsikan untuk memaparkan presentasi mendalam mengenai teknis pengolahan sampah menjadi energi listrik di kawasan Bantargebang.
Ruang belajar ini melengkapi fungsi PLTSa Bantargebang sehingga tidak hanya terbatas pada kegiatan penelitian bagi mahasiswa tingkat akhir saja. Langkah penyediaan ruang ini sangat krusial agar para pelajar dapat memahami metode pengelolaan sampah yang tepat dan efektif secara komprehensif.
Teknologi Mandiri Karya Anak Bangsa
PLTSa Merah Putih yang telah beroperasi selama bertahun-tahun ini merupakan teknologi asli buatan Indonesia yang mampu mengolah hingga 100 ton sampah setiap harinya. Fasilitas ini menjadi bukti nyata kemampuan putra-putri bangsa dalam merancang dan memproduksi infrastruktur energi alternatif secara mandiri.
Meskipun arus listrik yang dihasilkan belum didistribusikan untuk masyarakat luas, proyek ini mampu menyuplai kebutuhan internal sebesar 700 kW. Wiharja menjelaskan dengan bangga bahwa seluruh aspek mulai dari desain, manufaktur, hingga operasional dilakukan sepenuhnya oleh tenaga kerja nasional.
| Kategori Informasi | Detail Data |
|---|---|
| Kapasitas Pengolahan Sampah | 100 Ton per hari |
| Output Listrik (Internal) | 700 kW |
| Tahun Mulai Operasi | 2017 |
| Asal Teknologi | Lokal (Indonesia) |
Wiharja menekankan bahwa energi listrik yang dihasilkan dari proses ini sebenarnya hanyalah bonus dari sistem manajemen sampah yang baik. Fokus utama dari pembangunan fasilitas ini adalah mencari solusi pengelolaan limbah yang efisien, bukan semata-mata mencari sumber energi utama.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa tujuan akhir dari proyek ini adalah keberhasilan dalam mengolah sampah secara tuntas. Listrik dipandang sebagai nilai tambah yang muncul dari proses pengolahan tersebut, sehingga tidak bisa dijadikan tumpuan utama sumber daya jangka panjang.