Nilai Tukar Rupiah Berada di Kisaran 17.000–17.200 per Dolar AS, Cek Kurs Terbaru di Bank Besar Berikuat

Nilai Tukar Rupiah Berada di Kisaran 17.000–17.200 per Dolar AS, Cek Kurs Terbaru di Bank Besar Berikuat

Rupiah mengalami pergerakan di kisaran 17.000–17.200 terhadap dolar Amerika Serikat, dengan nilai tukar terkini dari beberapa bank besar diungkapkan pada Senin, (20/4/2026).

Pada hari itu, Bank Central Asia (BCA) mencatat kurs dolar AS dengan nilai beli sebesar Rp 17.070 dan jual di Rp 17.180. Sementara, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan posisi lebih tinggi dengan harga beli Rp 17.103 dan jual Rp 17.290.

Pergerakan Kurs

Bank Mandiri, pada 17 April 2026, mencatatkan kurs beli senilai Rp 17.140 dan jual di Rp 17.170. Sedangkan Bank Negara Indonesia (BNI) pada 20 April 2026 berada di level beli Rp 17.120 dan jual Rp 17.270.

Perbedaan kurs yang tipis menunjukkan kondisi pasar valuta asing yang masih dipengaruhi oleh sentimen global, dengan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.000–Rp 17.200 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan 17 April 2026, rupiah tercatat melemah tipis sebesar 18 poin atau 0,10% menjadi Rp 17.157 per dolar AS.

Sentimen Positif

Meski mengalami pelemahan, Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, mengindikasikan adanya peluang perbaikan bagi rupiah. Hal ini berkaitan dengan meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mungkin menciptakan sentimen positif.

Optimisme ini muncul seiring dengan potensi tercapainya kesepakatan yang berpeluang membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz, yang sangat penting bagi perdagangan energi global. Dalam hal ini, Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan bahwa konflik yang telah berlangsung selama tujuh minggu tersebut hampir usai, dan Gedung Putih optimis terhadap tercapainya kesepakatan.

Situasi Diplomatik

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran tetap membuka ruang untuk dialog berkelanjutan, dan meminta masyarakat tidak berspekulasi terkait rencana pertemuan lebih lanjut. Menurut juru bicara Kemlu Pakistan, Tahir Andrabi, isu program nuklir Iran menjadi salah satu agenda utama dalam perundingan.

Diplomasi terus dilakukan, termasuk kunjungan Perdana Menteri Shehbaz Sharif ke beberapa negara di Timur Tengah, serta komunikasi militer antara Pakistan dan Iran yang dilakukan di tingkat tinggi. Dengan mempertimbangkan sentimen global dan dinamika pasar domestik, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan mengalami tekanan terbatas ke depannya.

Penutupan Perdagangan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, (17/4/2026), menunjukkan lesu akibat pandangan negatif dari lembaga rating Standard & Poor's Global Ratings (S&P) terhadap peringkat obligasi. Nilai tukar rupiah turun 50 poin atau 0,29% menjadi Rp 17.189 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.139 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dipublikasikan Bank Indonesia juga menunjukkan penurunan ke level Rp 17.189 per dolar AS dari Rp 17.142 per dolar AS. Menurut Deputi Gubernur Senior BI, tekanan pada perdagangan ini lebih dipengaruhi oleh sentimen domestik terkait outlook negatif dari S&P terhadap peringkat obligasi pemerintah.

Pandangan Keuangan

Dalam hal ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa S&P mengajukan pertanyaan terkait kondisi fiskal Indonesia, termasuk pengawasan defisit yang harus tetap di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kementerian Keuangan kemudian mencatat bahwa defisit APBN Tahun Anggaran 2025 sebesar 2,92 persen dari PDB dan diproyeksikan akan mengecil setelah audit selesai.

Purbaya juga menambahkan bahwa upaya memperbaiki pengumpulan pajak dan penerimaan kepabeanan dan cukai dilakukan melalui restrukturisasi organisasi. Di sisi lain, penguatan mayoritas mata uang regional dan stabilitas index dolar memberikan sinyal positif bagi rupiah.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.liputan6.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.