Indeks Bisnis-27 mengakhiri sesi perdagangan pada hari Jumat, 17 April 2026, dengan menempati zona merah setelah mengalami koreksi tipis sebesar 0,03 persen. Berdasarkan data akhir perdagangan, indeks yang merupakan hasil kolaborasi antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan harian Bisnis Indonesia ini mendarat di level 500,74.
Pergerakan indeks sepanjang hari perdagangan tersebut terpantau fluktuatif dalam rentang posisi terendah pada angka 499,92 hingga menyentuh level tertinggi di 504,16. Pelemahan ini secara signifikan dipengaruhi oleh performa negatif sejumlah saham berkapitalisasi besar, di antaranya adalah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), serta PT Mayora Indah Tbk. (MYOR).
Rincian Pergerakan Konstituen Indeks Bisnis-27
Dari total 27 emiten yang masuk dalam daftar konstituen indeks ini, tercatat sebanyak 13 saham harus ditutup di zona merah atau mengalami penurunan harga. Sementara itu, terdapat 11 saham yang berhasil menguat di zona hijau, sedangkan 3 saham sisanya terpantau bergerak stagnan tanpa ada perubahan harga dari penutupan sebelumnya.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menjadi pemberat utama indeks dengan koreksi paling dalam sebesar 3,26 persen atau setara penurunan 35 poin ke harga Rp1.040 per lembar. Penurunan ini kemudian diikuti oleh saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) milik konglomerat Prajogo Pangestu yang melemah 1,76 persen menuju level Rp2.230.
Emiten konsumsi PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) juga turut menekan laju indeks dengan penurunan sebesar 1,57 persen hingga parkir di posisi Rp1.875 per saham. Tidak ketinggalan, saham sektor farmasi PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) terdepresiasi 1,54 persen ke level Rp960, disusul perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang turun 1,53 persen ke harga Rp6.425.
Di sisi lain, beberapa saham tetap mampu mencatatkan pertumbuhan signifikan di tengah pelemahan indeks, dipimpin oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) yang melonjak 5,13 persen ke level Rp1.230. Saham PT Astra International Tbk. (ASII) juga tampil impresif dengan penguatan 2,82 persen ke posisi Rp6.375, serta PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) yang naik 2,25 persen menjadi Rp2.730.
| Emiten | Perubahan (%) | Harga Terakhir (Rp) |
|---|---|---|
| PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) | +5,13% | 1.230 |
| PT Astra International Tbk. (ASII) | +2,82% | 6.375 |
| PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) | +2,25% | 2.730 |
| PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) | -3,26% | 1.040 |
| PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) | -1,76% | 2.230 |
| PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) | -1,57% | 1.875 |
| PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) | -1,54% | 960 |
| PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) | -1,53% | 6.425 |
Kondisi IHSG dan Data Transaksi Pasar
Berbeda nasib dengan Indeks Bisnis-27, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil menutup perdagangan akhir pekan ini dengan performa positif. IHSG menguat sebesar 0,17 persen dan berakhir pada level 7.634, meskipun sempat bergerak dalam rentang yang cukup dinamis.
Data perdagangan menunjukkan IHSG bergerak pada kisaran harian antara level 7.607 hingga batas atas 7.663 sepanjang sesi berlangsung. Volume perdagangan di bursa mencapai angka yang cukup fantastis dengan 41 miliar lembar saham yang berpindah tangan, menghasilkan total nilai transaksi Rp15,77 triliun.
Secara keseluruhan pasar, tercatat ada 323 saham yang mengalami kenaikan harga, sementara 337 saham justru melemah, dan sebanyak 160 saham lainnya tidak bergerak. Adapun kapitalisasi pasar bursa secara agregat saat ini terpantau berada pada posisi kuat di angka Rp13.661 triliun.
Perlu dicatat bahwa laporan pergerakan pasar ini murni bersifat informatif dan tidak mengandung ajakan atau perintah untuk melakukan aksi beli maupun jual saham. Segala bentuk risiko investasi, baik berupa kerugian maupun potensi keuntungan, merupakan tanggung jawab penuh masing-masing investor sesuai dengan keputusan pribadi mereka.
Bursa Efek Indonesia saat ini juga mencatat dinamika menarik lainnya seperti adanya 16 calon emiten yang mengantre untuk melakukan penawaran umum perdana atau IPO. Selain itu, sentimen terkait pergerakan harga komoditas minyak dan emas perhiasan turut menjadi perhatian pelaku pasar dalam memetakan strategi investasi ke depan.