Platform desain grafis kenamaan, Canva, mengumumkan pencapaian luar biasa dengan menembus angka 265 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia. Berdasarkan laporan pada acara tahunan Canva Create 2026, jumlah ini menunjukkan tren positif dibandingkan pencapaian 260 juta pengguna pada Desember 2025 silam.
Selain pertumbuhan basis pengguna umum, jumlah pelanggan berbayar Canva juga melonjak signifikan dari 24 juta pada tahun lalu menjadi 31 juta pelanggan. Perusahaan asal Australia ini pun mencatatkan pendapatan tahunan yang sangat impresif mencapai lebih dari 4 miliar dollar AS atau setara Rp 68 triliun.
| Kategori Pertumbuhan | Data Sebelumnya (2025) | Data Terbaru (2026) |
|---|---|---|
| Pengguna Aktif Bulanan | 260 Juta | 265 Juta |
| Pelanggan Berbayar | 24 Juta | 31 Juta |
| Pendapatan Tahunan | - | > 4 Miliar Dollar AS |
| Pendapatan Bisnis B2B | - | > 500 Juta Dollar AS |
Co-founder sekaligus COO Canva, Cliff Obrecht, menyatakan bahwa perusahaannya telah berhasil mencetak keuntungan selama sembilan tahun berturut-turut berdasarkan arus kas mereka. Kekuatan finansial ini diklaim menjadi modal utama bagi Canva untuk terus bersaing secara kompetitif di tengah perkembangan era kecerdasan buatan (AI).
Lini bisnis enterprise perusahaan juga menunjukkan performa gemilang dengan pertumbuhan lebih dari 100 persen secara tahunan atau Year on Year (YoY). Sektor bisnis B2B turut memberikan kontribusi besar dengan menyumbang pendapatan yang melampaui angka 500 juta dollar AS.
Dominasi di Pasar AI Dunia
Mengacu pada laporan perusahaan modal ventura Andreessen Horowitz (A16Z), Canva kini menempati posisi sebagai layanan bertenaga AI terbesar ketiga di dunia. Posisi tersebut menempatkan Canva tepat di bawah ChatGPT dan Gemini yang masing-masing menduduki peringkat pertama serta kedua secara global.
Cliff Obrecht mengungkapkan bahwa produk AI milik Canva telah digunakan lebih dari 27 miliar kali oleh para penggunanya di berbagai belahan dunia. Ia menegaskan bahwa Canva mengalami pertumbuhan paling pesat dibandingkan perusahaan perangkat lunak besar lainnya dalam hal adopsi fitur-fitur kecerdasan buatan.
Meskipun teknologi AI sedang berkembang, Cliff memaparkan ilustrasi yang menunjukkan bahwa baru sekitar sepertiga penduduk dunia yang telah memanfaatkan teknologi tersebut. Mayoritas dari mereka juga masih terbatas pada penggunaan layanan AI secara gratis tanpa mengeluarkan biaya berlangganan.
Hanya sebagian kecil pengguna global yang saat ini bersedia membayar layanan AI atau menggunakannya untuk kebutuhan teknis seperti pengembangan kode pemrograman. Namun, pihak Canva tetap optimis bahwa tingkat adopsi terhadap agen AI akan terus merangkak naik seiring kemudahan akses yang ditawarkan.
Peluncuran Era Baru Canva AI 2.0
Canva berupaya mempermudah mekanisme penggunaan fitur-fitur canggih mereka untuk menarik minat lebih banyak pengguna dalam memanfaatkan alat bantu kecerdasan buatan. Melalui rangkaian fitur terbaru, perusahaan ingin memastikan bahwa teknologi ini semakin membumi dan dapat diakses oleh siapa saja dengan mudah.
Momentum ini juga menandai transformasi besar Canva yang awalnya adalah platform desain dengan alat AI menjadi platform AI dengan alat desain. Visi besar tersebut secara resmi diperkenalkan melalui peluncuran rangkaian fitur terbaru yang diberi nama Canva AI 2.0 dalam ajang tersebut.