Perjuangan Faldy Alberto Hengga: Berangkat dari Keluarga Sederhana hingga Kini Menghadapi Rintangan Sulit

Perjuangan Faldy Alberto Hengga: Berangkat dari Keluarga Sederhana hingga Kini Menghadapi Rintangan Sulit

Dunia sepak bola Indonesia saat ini sedang menyoroti kisah inspiratif yang datang dari talenta muda berbakat, Faldy Alberto Hengga. Pemain yang kini memperkuat Timnas Indonesia U-20 tersebut dikenal memiliki latar belakang kehidupan keluarga yang sangat sederhana dan penuh perjuangan.

Perjalanan karier profesionalnya diwarnai dengan semangat pantang menyerah, di mana ia sempat berlatih menggunakan sepatu pinjaman sebelum menjadi pilar nasional. Faldy lahir di Mimika, Papua Tengah, pada 22 Juni 2008, namun menghabiskan masa kecilnya di Desa Banjarsari, Bojonegoro, Jawa Timur.

Ia tinggal bersama ibu dan adik perempuannya di sebuah rumah papan berukuran 4x8 meter yang kondisinya jauh dari kemewahan. Keterbatasan ekonomi tersebut sama sekali tidak memadamkan tekad kuat Faldy untuk mengejar impian besar di dunia sepak bola profesional.

Bakat luar biasa Faldy di lapangan hijau sudah mulai terlihat sejak usia dini hingga ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Sukorejo. Berkat kemampuan tersebut, ia berhasil menembus akademi Bhayangkara FC dan dipercaya menjadi striker utama Timnas Indonesia di berbagai level umur.

Prestasi yang ia torehkan hingga mencapai skuad U-20 menjadi bukti nyata dari dedikasi serta kerja keras yang ia jalani selama ini. Namun, baru-baru ini nama Faldy Alberto Hengga menjadi perbincangan hangat akibat keterlibatannya dalam insiden fisik saat bertanding.

Kejadian yang dikenal sebagai "tendangan kung fu" itu terjadi dalam laga Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 melawan Dewa United U-20. Insiden yang melibatkan pemain lawan bernama Rakha Nurkholis tersebut kini telah diselesaikan secara kekeluargaan melalui proses mediasi antarklub.

Faldy Alberto Hengga sendiri telah memberikan penjelasan bahwa keributan di Stadion Citarum, Semarang tersebut dipicu oleh tensi pertandingan yang tinggi. Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 19 April 2026, itu sempat memicu ketegangan sesaat setelah wasit meniup peluit panjang tanda laga berakhir.

Dari Mimika Menuju Bojonegoro

Sebagai sosok yang kini populer di kalangan pencinta bola tanah air, Faldy merupakan putra sulung dari pasangan John Clif Hengga dan Piana. Meskipun lahir di tanah Papua, ia telah pindah dan menetap di kampung halaman ibunya di Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, sejak berumur tiga tahun.

Pemain muda yang menganut agama Islam ini memiliki seorang adik perempuan yang bernama Iriana Beatrik Hengga sebagai teman masa kecilnya. Kondisi ekonomi keluarga Faldy di Jawa Timur memang tergolong sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak.

Kediaman yang ia tempati bersama ibu dan adiknya hanya berupa bangunan sederhana berbahan papan dengan luas yang sangat terbatas. Rumah tersebut memiliki dinding triplek, beralaskan tanah, serta atap seng yang seringkali digambarkan kondisinya menyerupai sebuah gubuk.

Bagian dalam rumah tersebut tidak memiliki sekat permanen sehingga area tamu, tempat tidur, hingga dapur berada dalam satu ruangan terbuka. Bangunan itu pun berdiri di atas lahan milik Perhutani, yang berarti status tanahnya bukanlah hak milik pribadi keluarga mereka.

Ibunda Faldy, Piana, harus bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan harian kedua buah hatinya sekaligus membayar biaya sewa lahan tersebut. Di tengah himpitan ekonomi itu, Faldy memiliki motivasi membara untuk mengangkat derajat orang tuanya melalui prestasi di lapangan hijau.

Salah satu impian terbesarnya adalah mampu membangun sebuah rumah yang layak dan nyaman bagi ibu serta adik tercintanya di masa depan. Semangat inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi setiap langkah dan tetesan keringatnya saat sedang berkompetisi.

Semangat di Tengah Keterbatasan

Minat besar Faldy terhadap olahraga si kulit bundar telah muncul sejak ia masih menduduki bangku kelas 3 sekolah dasar. Ia mulai mengasah keterampilannya secara serius di SSB Sukorejo, Bojonegoro, saat usianya baru menginjak sekitar delapan tahun.

Pada masa awal merintis karier, ia terpaksa meminjam sepatu milik teman-temannya karena ibunya belum memiliki biaya untuk membelikan perlengkapan baru. Fakta mengharukan ini menunjukkan betapa besar keinginan Faldy untuk tetap bermain sepak bola meskipun fasilitas yang dimiliki sangat minim.

Kemampuannya yang menonjol seringkali membuat Faldy mampu bersaing dengan pemain yang usianya jauh lebih tua darinya sehingga menarik perhatian para pelatih. Setelah lulus dari jenjang SMP, ia mengikuti seleksi ketat dan akhirnya diterima di bawah naungan Akademi Sepak Bola Bhayangkara Bojonegoro.

Keberhasilan masuk ke akademi tersebut menjadi titik balik yang sangat krusial bagi perkembangan karier profesional pemuda asal Bojonegoro ini. Ia kemudian dipromosikan ke Bhayangkara Presisi Indonesia FC dan menjadi bagian penting dari skuad Elite Pro Academy (EPA) U-16.

Faldy Alberto Hengga dikenal sebagai penyerang tajam sekaligus pengatur serangan yang sangat diandalkan oleh tim pelatih di setiap pertandingan. Ia sempat menjadi aktor kunci saat membela Timnas Indonesia U-16 dalam ajang bergengsi Kejuaraan AFF U-16 atau ASEAN U-16 2024.

Setelah pengabdiannya di level U-16, ia terus naik kelas memperkuat Timnas Indonesia U-17 hingga akhirnya menembus skuad Timnas U-20. Di samping kesibukannya sebagai atlet, Faldy tetap menomorsatukan pendidikan dengan bersekolah di SMKN 1 Dander pada jurusan teknik kendaraan ringan.

Penyelesaian Damai Atas Insiden Lapangan

Ketegangan sempat memuncak pada pertandingan EPA Super League U-20 musim 2025/2026 yang mempertemukan Bhayangkara FC U-20 dengan Dewa United U-20. Pertandingan yang berlangsung sengit di Semarang tersebut sebenarnya berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan tipis tim Dewa United.

Namun, atmosfer pertandingan mendadak berubah menjadi ricuh sesaat setelah pertandingan usai hingga memicu keributan antar pemain di tengah lapangan. Dalam kekacauan tersebut, Faldy diduga melakukan tindakan tidak sportif berupa tendangan fisik ke arah pemain lawan, Rakha Nurkholis.

Merespons kejadian tersebut, pihak manajemen Bhayangkara FC U-20 menunjukkan sikap profesional dengan segera mengupayakan jalur perdamaian kepada pihak lawan. Pada Rabu, 22 April 2026, delegasi tim melakukan kunjungan resmi ke Dewa United Arena di Tangerang untuk melakukan proses mediasi.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh petinggi kedua klub, seperti Firman Utina selaku Direktur Akademi Dewa United dan Agus Rumekso Carel dari pihak Bhayangkara. Manajer tim, Yongki Pandu Pamungkas, turut mendampingi Faldy Alberto dan Rakha Nurkholis untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang telah terjadi.

Proses mediasi tersebut akhirnya membuahkan kesepakatan damai yang dilakukan secara kekeluargaan oleh kedua belah pihak yang sempat berselisih. Faldy Alberto Hengga secara jantan menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Rakha Nurkholis beserta seluruh jajaran manajemen klub Dewa United.

Ia mengakui bahwa tindakannya tersebut sangat tidak terpuji dan dilakukan hanya karena terbawa emosi sesaat dalam tensi pertandingan yang sangat tinggi. Firman Utina menerima permintaan maaf tersebut dengan lapang dada dan mengapresiasi keberanian manajemen Bhayangkara dalam menyelesaikan masalah ini.

Kedua klub sepakat menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi serta pelajaran penting bagi seluruh pemain muda agar lebih matang dalam bersikap. Meski sudah berdamai, Firman menegaskan bahwa penegakan disiplin dan kode etik internal tetap akan dijalankan sesuai aturan yang berlaku di klub.

Saat ini, kedua belah pihak masih menunggu hasil keputusan akhir dari Komite Disiplin terkait sanksi yang mungkin diberikan kepada para pemain. Faldy sendiri berharap masalah ini segera usai agar ia bisa kembali fokus mengejar cita-citanya menjadi pesepak bola profesional yang sukses.

Kategori Data Detail Informasi
Nama Lengkap Faldy Alberto Hengga
Tempat, Tanggal Lahir Mimika, 22 Juni 2008
Ukuran Rumah 4 x 8 Meter (Papan & Triplek)
Klub Saat Ini Bhayangkara FC U-20
Status Lahan Rumah Milik Perhutani (Sewa)
Tanggal Insiden 19 April 2026
Tanggal Mediasi 22 April 2026

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.bola.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.