Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantargebang yang berada di bawah pengelolaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki sisi edukasi yang sangat menarik. Fasilitas ini tidak hanya menjadi pusat pengolahan limbah, tetapi juga melibatkan mahasiswa secara aktif dalam seluruh rangkaian praktik operasional di lapangan.
Para mahasiswa yang berkunjung ke sana diberikan kesempatan untuk tidak sekadar menjadi pengamat pasif dari kejauhan saja. Mereka dilibatkan langsung dalam berbagai proses teknis, mulai dari prosedur operasional harian hingga kegiatan pemeliharaan mesin atau maintenance yang dilakukan secara berkala.
Ir Wiharja, MSi, selaku peneliti dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PR TLTB), menyatakan bahwa mahasiswa mendapatkan edukasi yang sangat komprehensif. Melalui terjun langsung di lokasi, para peserta didik tidak hanya dijejali dengan teori di dalam kelas, melainkan juga berkontribusi nyata dalam menjaga performa pembangkit tersebut.
Antusiasme akademisi terhadap fasilitas ini terbukti dengan banyaknya kampus dari luar Jakarta yang rutin mengirimkan mahasiswanya untuk menjalani program magang. Beberapa institusi pendidikan bahkan menjadwalkan program magang selama berbulan-bulan demi memastikan mahasiswa mereka memahami sistem energi terbarukan secara mendalam.
Wiharja mencontohkan Politeknik Jember yang secara konsisten mengirimkan mahasiswa dari jurusan energi terbarukan untuk belajar langsung di lokasi ini. Selain itu, Universitas Bhayangkara juga tercatat menjadi salah satu perguruan tinggi yang paling banyak mengirimkan mahasiswanya ke PLTSa Bantargebang untuk menimba ilmu.
Meskipun skala unit pengolahan ini masih tergolong kecil, pihak pengelola memberikan tugas spesifik bagi setiap mahasiswa yang datang. Wiharja menyebutkan bahwa biasanya dalam satu tahun ada sekitar lima orang dari Jember yang diberikan tanggung jawab khusus sesuai kebutuhan operasional pembangkit.
Kelebihan utama dari praktik di PLTSa Bantargebang adalah kebebasan bagi mahasiswa untuk menyentuh dan berinteraksi langsung dengan peralatan teknis yang tersedia. Berbeda dengan industri skala besar yang biasanya memberikan batasan ketat, di sini mahasiswa diperbolehkan memegang komponen mesin selama proses pemeliharaan berlangsung.
Pengalaman menyentuh langsung komponen seperti turbin dianggap memberikan pemahaman yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar membaca buku panduan manual. Edukasi yang bersifat totalitas ini memungkinkan mahasiswa memahami detail teknis secara mendalam yang tidak bisa didapatkan hanya melalui pemaparan teori di atas kertas.
Ruang Edukasi Lintas Usia dan Inovasi Ramah Lingkungan
Fasilitas PLTSa Bantargebang ternyata memiliki cakupan audiens yang sangat luas, bahkan terbuka untuk kunjungan anak-anak tingkat taman kanak-kanak. Pengelola telah menyediakan education room atau ruang pembelajaran khusus yang dirancang untuk menjelaskan transformasi sampah menjadi energi listrik kepada anak usia dini.
Wiharja mengungkapkan bahwa sebelum masa pandemi COVID-19, kunjungan dari berbagai jenjang pendidikan termasuk anak-anak TK sangatlah masif. Konsep awal pembangunan fasilitas ini memang ditujukan sebagai bukti nyata bahwa sampah dapat diubah menjadi sumber daya listrik sekaligus berfungsi sebagai pusat pendidikan publik.
Kehadiran PLTSa di Bantargebang juga berperan sebagai ajang pembuktian bahwa teknologi riset dalam negeri mampu menyelesaikan permasalahan sampah secara mandiri. Inovasi yang dikembangkan oleh BRIN ini telah disesuaikan dengan karakteristik sampah dan kondisi lingkungan yang ada di berbagai daerah di Indonesia.
Aspek kelestarian lingkungan menjadi keunggulan lain karena pembangkit ini terbukti menghasilkan emisi gas buang yang sangat minim dan berada di bawah ambang batas aman. Selain efisiensi energi yang tinggi, seluruh proses pembakaran dipantau secara ketat agar tidak menimbulkan pencemaran udara yang membahayakan masyarakat sekitar.
| Parameter Lingkungan | Standar Maksimum | Hasil Realisasi PLTSa |
|---|---|---|
| Emisi Gas Buang | 0,1 | 0,088 |
| Pemanfaatan Residu Abu | Limbah Sisa | Bahan Paving Blok |
Residu berupa abu yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi material bangunan. Pihak pengelola telah mendemonstrasikan bahwa abu sisa tersebut sangat layak dan kuat untuk diproduksi menjadi paving blok untuk keperluan pembangunan infrastruktur.
Implementasi pemanfaatan abu ini menjadi contoh konkret dari konsep ekonomi sirkular yang diterapkan dalam proyek ramah lingkungan milik BRIN tersebut. Wiharja menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa setiap sisa dari proses energi tetap memiliki nilai guna jika dikelola dengan teknologi yang tepat.