Implementasi sistem pembayaran lintas negara menggunakan metode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) antara Indonesia dan China akan segera diresmikan dalam waktu dekat. Bank Indonesia (BI) menargetkan bahwa layanan transaksi digital tersebut sudah dapat mulai digunakan oleh masyarakat luas pada 30 April mendatang.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menyampaikan dalam Rapat Dewan Gubernur bahwa peluncuran ini mengikuti jejak kolaborasi serupa dengan Korea Selatan yang telah dilakukan awal bulan. Ia optimis proses peresmian atau "gunting pita" pada akhir April tersebut dapat berjalan sesuai rencana demi kemudahan transaksi antarnegara.
Hasil Uji Coba Transaksi
Sebelum resmi diluncurkan, Bank Indonesia telah melakukan tahap uji coba atau sandboxing yang menunjukkan antusiasme sangat besar dari para pengguna. Meski masih dalam tahap pengujian, volume serta nominal penggunaan layanan ini telah mencatatkan angka yang sangat signifikan.
| Kategori Data | Capaian Selama Uji Coba (Sandboxing) |
|---|---|
| Volume Transaksi | 1,64 Juta Transaksi |
| Nominal Transaksi | Rp 556 Miliar |
Filianingsih berharap jumlah transaksi tersebut akan melonjak jauh lebih tinggi lagi setelah layanan ini resmi beroperasi secara penuh bagi publik. Kesiapan operasional ini didukung oleh infrastruktur yang matang dari pihak penyelenggara jasa pembayaran di kedua negara.
Kesiapan Penyelenggara Layanan
Dari sisi kesiapan institusi, tercatat sebanyak 24 penyelenggara dari Indonesia yang terdiri atas 16 bank dan 8 lembaga non-bank siap mendukung program ini. Sementara itu, pihak China juga telah menyiagakan 19 penyelenggara untuk menjamin kelancaran sistem pembayaran digital tersebut.
Secara keseluruhan, koordinasi dari aspek teknis maupun skema bisnis telah rampung dan siap untuk segera diimplementasikan secara komprehensif. Kolaborasi strategis ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem pembayaran digital serta mempermudah mobilitas masyarakat Indonesia saat berbelanja di China.