Respons Anak Buah Bahlil Terkait Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Respons Anak Buah Bahlil Terkait Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan tanggapan resmi terkait kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi produksi Pertamina, khususnya untuk jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Kenaikan harga ini dinilai sejalan dengan tren kenaikan harga minyak mentah dunia yang terpicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa perubahan harga pada komoditas nonsubsidi tersebut merupakan respons terhadap dinamika pasar global serta fluktuasi nilai tukar mata uang. Menurutnya, pemerintah memandang penyesuaian ini sebagai langkah rasional untuk mengikuti mekanisme pasar internasional yang saat ini sedang mengalami tekanan cukup besar.

Anggia juga menggarisbawahi bahwa langkah serupa telah diambil oleh negara-negara tetangga yang bahkan menerapkan kebijakan kenaikan harga bahan bakar dengan rentang yang jauh lebih signifikan dibandingkan Indonesia. Dalam penetapan harga baru ini, pemerintah senantiasa mengedepankan prinsip transparansi serta daya saing pasar yang kompetitif guna menghindari terjadinya distorsi ekonomi di tingkat domestik.

Salah satu poin krusial yang ditegaskan oleh Kementerian ESDM adalah komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, seperti jenis Pertalite dan Solar. Pemerintah memastikan bahwa stabilitas harga untuk kedua jenis bahan bakar subsidi tersebut akan tetap terjaga dan tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026 mendatang.

Kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi ini diambil dengan prioritas utama untuk menjaga tingkat daya beli masyarakat serta memberikan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan. Anggia meyakini bahwa melalui dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat, kondisi ekonomi yang menantang akibat fluktuasi harga energi global ini dapat dilalui dengan baik.

Terhitung mulai Sabtu, 18 April 2026, PT Pertamina (Persero) secara resmi telah memberlakukan harga baru untuk tiga produk unggulan nonsubsidi mereka di berbagai wilayah di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun dari laman resmi perusahaan di Jakarta, kenaikan harga per liter pada pertengahan April ini menunjukkan selisih yang cukup besar dibandingkan dengan periode awal bulan.

Perbandingan Harga BBM di Wilayah DKI Jakarta

Jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) Harga Per 1 April 2026 (Rp/Liter) Harga Per 18 April 2026 (Rp/Liter)
Pertamax Turbo 13.100 19.400
Dexlite 14.200 23.600
Pertamina Dex 14.500 23.900
Pertamax (RON 92) 12.300 12.300 (Tetap)
Pertamax Green 12.900 12.900 (Tetap)
Pertalite (Subsidi) 10.000 10.000 (Tetap)
Biosolar (Subsidi) 6.800 6.800 (Tetap)

Meskipun terjadi lonjakan pada beberapa produk tertentu, Pertamina memilih untuk mempertahankan harga jual Pertamax (RON 92) di level Rp12.300 per liter dan Pertamax Green pada angka Rp12.900 per liter. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk tetap menyediakan pilihan bahan bakar berkualitas tinggi dengan harga yang relatif masih dapat dijangkau oleh konsumen setianya.

Sejalan dengan janji pemerintah, harga bahan bakar jenis penugasan yakni Pertalite tetap konsisten di angka Rp10.000 per liter di seluruh wilayah operasional terkait. Begitu pula dengan bahan bakar Biosolar yang masih dipatok pada harga Rp6.800 per liter demi menjaga kelancaran distribusi logistik dan mobilitas transportasi umum di tanah air.

Fenomena kenaikan harga minyak mentah dunia memang memberikan dampak langsung bagi struktur biaya operasional penyediaan energi di dalam negeri dalam beberapa waktu terakhir. Di bawah kepemimpinan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, pemerintah terus memantau situasi krisis energi dunia demi mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap perekonomian nasional.

Kementerian ESDM dan Pertamina terus berkoordinasi secara intensif guna memastikan ketersediaan pasokan energi nasional, termasuk gas elpiji 3 kilogram agar tidak terjadi kelangkaan di masyarakat. Dengan menjaga keseimbangan antara mekanisme pasar nonsubsidi dan jaminan subsidi pemerintah, diharapkan ketahanan energi Indonesia tetap kokoh menghadapi ketidakpastian geopolitik global.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.liputan6.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.