Rupiah Tembus 17.000, Inilah Daftar 10 Mata Uang Paling Lemah di Dunia Tahun 2026

Rupiah Tembus 17.000, Inilah Daftar 10 Mata Uang Paling Lemah di Dunia Tahun 2026

Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sedang menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu belakangan ini. Tercatat pada hari Jumat, 17 April 2026, nilai mata uang Garuda tersebut bahkan sempat menyentuh angka Rp 17.182,45 untuk setiap 1 dolar AS.

Fenomena ini kemudian memicu pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai posisi daya beli mata uang Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain secara global. Sebagai acuan utama dalam perdagangan internasional, dolar AS sering digunakan untuk mengukur kekuatan ekonomi suatu negara melalui nilai tukar mata uangnya.

Pergerakan nilai tukar ini bersifat fluktuatif karena bisa menguat atau melemah setiap harinya akibat berbagai dinamika pasar yang terus bergerak. Sejumlah faktor krusial seperti kebijakan intervensi dari bank sentral, tingginya angka impor, serta penurunan pendapatan dari sektor ekspor menjadi pemicu utama fluktuasi ini.

Selain faktor perdagangan, perubahan tingkat inflasi nasional dan kondisi stabilitas politik di dalam negeri juga turut mempengaruhi kepercayaan investor terhadap mata uang. Ketidakpastian global dan ketegangan politik seringkali membuat mata uang domestik kehilangan nilainya di hadapan mata uang asing yang lebih stabil.

Posisi Rupiah dalam Daftar Mata Uang Terlemah

Forbes merilis data terbaru mengenai daftar mata uang dengan nilai terendah di dunia per tanggal 7 April 2026 berdasarkan alat konverter milik mereka. Data yang bersumber dari Open Exchange tersebut menempatkan Indonesia ke dalam daftar lima besar mata uang paling lemah secara global.

Saat pendataan dilakukan, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp 17.066,15 per 1 dolar AS yang menunjukkan pelemahan daya beli yang cukup dalam. Posisi ini menempatkan Indonesia di bawah beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara dalam hal nilai nominal mata uang terhadap dolar.

Di wilayah Asia Tenggara, terdapat dua negara lain yang mencatatkan nilai mata uang lebih rendah dibandingkan rupiah, yaitu Vietnam dan Laos. Untuk setiap 1 dolar AS, nilainya setara dengan 26.336,58 dong Vietnam, sementara di Laos, 1 dolar AS dihargai sebesar 22.065,41 kip.

Peringkat pertama mata uang terlemah di dunia masih diduduki oleh rial Iran yang mengalami tekanan ekonomi luar biasa besar. Berdasarkan data per 7 April 2026, nilai 1 dolar AS setara dengan 1.315.800 rial Iran yang menjadikannya mata uang dengan nilai nominal terendah saat ini.

Rincian 10 Mata Uang dengan Nilai Terendah Tahun 2026

Pelemahan nilai mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga melanda beberapa negara di benua Afrika dan Amerika Selatan dengan berbagai alasan ekonomi. Kondisi ini mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi oleh negara-negara tersebut dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakatnya.

Berikut adalah rincian statistik mengenai sepuluh mata uang yang memiliki nilai tukar terlemah terhadap dolar Amerika Serikat berdasarkan data yang dihimpun Forbes. Tabel di bawah ini menunjukkan perbandingan nilai tukar untuk masing-masing negara secara berurutan dari yang terlemah.

No. Negara dan Mata Uang Nilai per 1 Dolar AS (USD)
1 Rial Iran (IRR) 1.315.800,00
2 Pound Lebanon (LBP) 89.565,64
3 Dong Vietnam (VND) 26.336,58
4 Kip Laos (LAK) 22.065,41
5 Rupiah Indonesia (IDR) 17.066,15
6 Som Uzbekistan (UZS) 12.202,05
7 Franc Guinea (GNF) 8.774,19
8 Franc Burundi (BIF) 2.972,40
9 Malagasy Ariary Madagaskar (MGA) 4.177,54
10 Guarani Paraguay (PYG) 6.485,51

Fenomena pelemahan ini memberikan dampak luas bagi sektor ekonomi, termasuk kemungkinan naiknya harga komoditas impor yang sering digunakan dalam industri lokal. Para ahli ekonomi terus memantau apakah tren ini akan berlanjut atau akan ada tindakan preventif dari pemerintah untuk menstabilkan kurs.

Kenaikan tarif impor dari negara maju serta ketidakpastian pasar global menjadi faktor eksternal yang sulit dihindari oleh negara-negara dengan mata uang lemah tersebut. Meskipun demikian, pengendalian inflasi di tingkat daerah tetap diupayakan agar daya beli masyarakat tidak merosot terlalu tajam di tengah tekanan ekonomi global.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.