Sebanyak 1,7 Juta Siswa MI dan MTS Bakal Ikut TKA 2026 Menurut Kemenag

Sebanyak 1,7 Juta Siswa MI dan MTS Bakal Ikut TKA 2026 Menurut Kemenag

Kementerian Agama (Kemenag) telah mencatat bahwa sekitar 1,7 juta siswa dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Pondok Pesantren mendaftar untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Direktur KSKK Madrasah Kemenag, Nyayu Khodijah, menyatakan bahwa mereka terus berupaya meningkatkan partisipasi dalam TKA, terutama di pesantren, dan menjelaskan bahwa ini bukan sekedar asesmen biasa.

“Kita sedang membangun sistem evaluasi berbasis data yang mampu menilai kualitas pendidikan secara komprehensif, baik di level sistem maupun pencapaian individu siswa,” kata Nyayu, seperti yang dilaporkan pada laman resmi Kemenag, Kamis (9/4/2026). Tingkat partisipasi yang tinggi dalam TKA 2026 juga terlihat di lingkungan madrasah berdasarkan data dari Ditjen Pendidikan Islam.

Pada tingkat MI, sebanyak 25.628 dari 26.178 lembaga atau 97,9 persen telah terdaftar, dengan 659.567 siswa yang berpartisipasi atau 99,01 persen dari total 666.182 siswa yang terdata. Sementara itu, untuk jenjang MTs, terdapat 18.899 lembaga dari 19.376 lembaga yang telah mendaftar atau 97,54 persen, dengan total 1.005.408 siswa atau 96,71 persen yang akan mengikuti TKA dari total 1.039.585 siswa.

Di sisi lain, dari 2.222 lembaga pesantren, 1.605 lembaga atau 72,23 persen telah mendaftar, dengan 45.163 santri yang berpartisipasi, yang mengepalai 84,07 persen dari total 53.721 santri. Nyayu juga menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA 2026 di bawah Kemenag lebih didominasi dengan moda daring, di mana 97,57 persen lembaga MI, 94,13 persen lembaga MTs, dan 97,13 persen lembaga pesantren melaksanakan ujian secara online.

Kemenag sebelumnya telah melakukan verifikasi kesiapan infrastruktur untuk pelaksanaan TKA, dengan hasil bahwa 73,69 persen lembaga MI terverifikasi, 67,77 persen lembaga MTs terverifikasi, dan 40,31 persen lembaga pesantren terverifikasi. “Kualitas pelaksanaan adalah prioritas kami. Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan ini berjalan secara kredibel, adil, dan mencerminkan kemampuan nyata peserta didik,” ungkapnya.

Nyayu berharap hasil TKA di masa mendatang tidak hanya berfungsi sebagai laporan pencapaian siswa, tetapi juga dapat dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan intervensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta penguatan daya saing lulusan madrasah dan pesantren. “Ini merupakan langkah awal menuju masa depan pendidikan Islam yang lebih adaptif, terukur, dan mampu bersaing di tingkat global,” jelas Nyayu.

KOMPAS.com berkomitmen untuk menyajikan informasi secara objektif, terpercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme independen dengan menikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui keanggotaan KOMPAS.com Plus.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: edukasi.kompas.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.