Sebanyak 33 Jemaah asal Jatim menderita kelelahan dan darah tinggi di Asrama Haji

Sebanyak 33 Jemaah asal Jatim menderita kelelahan dan darah tinggi di Asrama Haji

Sebanyak puluhan jemaah calon haji dilaporkan mengalami kondisi kelelahan serta gangguan hipertensi saat menjalani proses keberangkatan di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES). Berdasarkan laporan dari Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya hingga Rabu (22/4) petang, setidaknya terdapat 33 jemaah yang berasal dari kloter 3 sampai kloter 6 yang harus mendapatkan pemeriksaan medis di klinik asrama.

Kepala BBKK Surabaya, dr. Rosidi Roslan, mengungkapkan bahwa mayoritas jemaah yang datang ke klinik mengeluhkan gejala pusing yang dipicu oleh tekanan darah tinggi serta kondisi fisik yang sangat letih. Faktor kelelahan ini diduga kuat muncul setelah para jemaah menempuh perjalanan cukup jauh dari daerah asal masing-masing menuju ke embarkasi di Surabaya.

Dalam keterangannya pada Rabu (22/4), Roslan menegaskan bahwa hingga saat ini tercatat ada sekitar 33 kunjungan jemaah ke klinik dengan keluhan yang didominasi oleh masalah keletihan dan hipertensi. Meskipun banyak yang harus menjalani pemeriksaan medis, pihak BBKK Surabaya memastikan bahwa kondisi kesehatan para jemaah tersebut masih dalam batas wajar dan tidak tergolong risiko tinggi.

Tim medis telah melaksanakan proses skrining secara menyeluruh kepada seluruh jemaah untuk menjamin bahwa mereka tetap memiliki kemampuan fisik dalam menjalankan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Pihak otoritas kesehatan memberikan izin berangkat dengan catatan penting agar para jemaah tetap menjaga waktu istirahat dan mengatur pola makan secara teratur demi memulihkan stabilitas kondisi fisik mereka.

Roslan juga menegaskan kembali bahwa seluruh jemaah yang sempat mendapatkan perawatan di klinik telah dinyatakan dalam kondisi layak terbang untuk menuju Arab Saudi. Hal ini dipastikan setelah tim medis melakukan pemeriksaan intensif dan tidak menemukan kendala kesehatan yang bersifat permanen atau membahayakan keselamatan jemaah selama penerbangan.

Selain fokus pada penanganan kasus hipertensi, BBKK Surabaya juga menerapkan prosedur pemantauan yang sangat ketat terhadap jemaah wanita yang sedang berada dalam masa kehamilan. Langkah preventif ini sengaja dilakukan oleh pihak kesehatan untuk menekan risiko keguguran atau gangguan kesehatan janin, terutama saat memasuki fase puncak ibadah haji yang menguras tenaga.

Terkait regulasi kehamilan, Rosidi menjelaskan bahwa batas usia kandungan yang masih bisa ditoleransi untuk berangkat menunaikan ibadah haji adalah di bawah 26 minggu. Ia menekankan bahwa dalam kondisi operasional haji saat ini, izin keberangkatan hanya akan diberikan kepada jemaah wanita jika usia kehamilannya benar-benar belum melampaui batas tersebut.

Hingga saat ini, pihak BBKK Kesehatan melaporkan bahwa mereka belum menemukan adanya jemaah dalam kondisi hamil pada kloter-kloter yang telah memasuki wilayah asrama haji. Secara umum, situasi kesehatan para jemaah mulai dari kloter pertama hingga kloter keenam dipastikan berada dalam status yang aman dan terkendali.

Hingga berita ini diturunkan, tercatat sudah ada enam kloter yang masuk ke asrama, di mana kloter satu dan dua telah resmi diberangkatkan menuju tanah suci dalam keadaan sehat walafiat. Roslan menutup pernyataannya dengan mengucap syukur bahwa meskipun ada kendala ringan, seluruh jemaah dari kloter awal tersebut pada akhirnya dapat berangkat tanpa hambatan kesehatan yang berarti.

Statistik Kesehatan Jemaah di Embarkasi Surabaya

Kategori Data Keterangan Statistik
Total Jemaah yang Masuk Klinik 33 Orang
Cakupan Kloter Terdampak Kloter 3 sampai Kloter 6
Batas Usia Kehamilan yang Diizinkan Di bawah 26 Minggu
Status Kelayakan Terbang 100% Layak Terbang
Jumlah Kloter yang Sudah Masuk 6 Kloter

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.cnnindonesia.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.