Kota Surabaya menyuguhkan sisi unik di tengah keramaian kotanya melalui sebuah kedai kopi yang menawarkan pengalaman bersantai sembari mendengarkan alunan musik gamelan secara langsung. Sebelum pengunjung benar-benar melangkahkan kaki masuk ke dalam kedai, melodi gending Jawa sudah terdengar menyapa dari kejauhan dengan nada yang sangat tenang.
Suara tradisional tersebut mengalun lembut dari sebuah bangunan di kawasan Jalan Dukuh Kupang 14 Nomor 10, Surabaya, yang sekilas tidak terlihat seperti tempat nongkrong pada umumnya. Kedai ini tidak memiliki papan nama besar yang mencolok atau desain industrial modern yang kini banyak digandrungi, melainkan tampil bersahaja layaknya sebuah rumah tua yang asri.
Dari bagian depan, pepohonan rimbun menutupi sebagian besar bangunan sehingga memberikan kesan teduh dan sangat privat bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. Namun di balik rimbunnya pohon tersebut, tersedia jajaran meja dan kursi yang tertata dengan sangat rapi lengkap dengan area kerja bagi para barista.
Destinasi bernama Sasana Bhagavadgita ini menawarkan pemandangan yang sangat jauh dari hiruk-pikuk gedung pencakar langit yang biasanya mendominasi wajah kota besar seperti Surabaya. Selain menyajikan aneka minuman dan kudapan, tempat ini difungsikan sebagai ruang refleksi bagi mereka yang merasa jenuh atau resah dengan kebisingan lingkungan perkotaan.
Pengunjung dapat merasakan atmosfer rumah tradisional Jawa yang autentik lewat konsep bangunan joglo serta ketersediaan area lesehan yang menghadirkan suasana hangat bagi para tamu. Manajer Sasana Bhagavadgita yang akrab disapa Tamam menjelaskan bahwa pemilihan nama kedai ini memiliki latar belakang filosofis yang cukup dalam dan tidak dilakukan secara asal-asalan.
Ia memaparkan bahwa kata Sasana memiliki arti sebagai tempat berkumpul, sedangkan nama Bhagavadgita merujuk pada kitab suci Hindu yang menceritakan dialog antara Krishna dan Arjuna. Kisah dalam perang Mahabarata tersebut menceritakan kebimbangan Arjuna saat harus menghadapi saudaranya sendiri hingga akhirnya ia mendapatkan keyakinan kembali setelah mendapat wejangan dari Krishna.
Filosofi dari kisah legendaris tersebut kemudian diterjemahkan menjadi identitas atau ruh utama yang mendasari berdirinya kedai kopi yang nyentrik di Kota Pahlawan ini. Tamam menyebutkan bahwa tempat ini dikonsepkan bagi orang-orang yang sedang merasa bingung, resah, atau terjebak dalam pikiran yang berlebihan alias overthinking agar bisa mendapatkan ketenangan.
Dengan berkunjung ke Sasana Bhagavadgita, pihak pengelola berharap para pelanggan bisa memperoleh satu kepastian mengenai arti kehidupan melalui suasana damai yang sengaja disuguhkan di sana. Elemen paling menonjol yang langsung mencuri perhatian adalah keberadaan set gamelan asli berbahan kuningan yang sudah berusia puluhan tahun dan merupakan koleksi pribadi keluarga pemilik.
Berbagai jenis instrumen tradisional seperti gong, gender, kempul, kenong, kendang, suling, hingga gambang diletakkan secara rapi di ruang utama yang menyatu dengan area duduk pengunjung. Alih-alih diletakkan di atas panggung formal yang kaku, perangkat musik ini hadir sangat dekat dengan siapa pun yang sedang menikmati secangkir kopi di sana.
Tamam juga menambahkan bahwa koleksi mereka mencakup saron demung yang biasanya dikeluarkan saat ada acara khusus atau kegiatan tertentu di sanggar mereka. Pada hari-hari biasa, mereka cenderung memainkan instrumen yang memiliki karakter suara lembut atau disebut alusan demi menjaga kenyamanan suasana di dalam kedai tersebut.
Melalui pendekatan yang lebih santai dan inklusif, mereka ingin memperkenalkan gamelan kepada masyarakat luas sebagai sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari serta menyenangkan. Alunan musik tradisional ini diputar setiap hari melalui sistem pengeras suara, namun sering kali juga dimainkan secara langsung oleh para pemusik pada waktu-waktu tertentu.
Keunikan lainnya adalah perangkat gamelan tersebut tidak hanya dijadikan sebagai elemen dekorasi ruangan semata bagi para pengunjung yang datang. Para tamu diperbolehkan untuk menyentuh instrumen, mencoba memukulnya, bahkan belajar memainkannya di bawah bimbingan pihak pengelola untuk memupuk rasa penasaran terhadap budaya lokal.
Interaksi langsung ini secara perlahan bertujuan untuk mengubah stigma negatif atau rasa takut masyarakat terhadap alat musik tradisional yang sering dianggap memiliki nuansa mistis. Tamam menegaskan bahwa gamelan sebenarnya tidaklah horor karena pada hakikatnya alat tersebut hanyalah potongan besi atau kuningan yang menghasilkan bunyi saat dipukul.
Nuansa kental khas Jawa di tempat ini tidak hanya diperkuat oleh suara musik, tetapi juga melalui penataan interior yang dipenuhi dengan berbagai macam barang antik koleksi keluarga. Di setiap sudut ruangan, pengunjung dapat menemukan benda-benda retro seperti mesin tik tua, telepon kabel, kaset pita, mainan zaman dahulu, hingga motor vespa klasik.
Dekorasi lawas termasuk wayang dan gamelan tersebut merupakan peninggalan dari kakek pemilik kedai yang dikenal sebagai sosok yang sangat telaten dalam merawat serta menyimpan barang berharga. Hal tersebut membuat suasana kedai terasa sangat orisinal karena bangunan ini memang dihuni oleh keluarga yang memiliki kecintaan mendalam terhadap dunia seni dan budaya.
Atmosfer "rumah kakek" yang sangat hangat tetap dipertahankan dengan baik meskipun sebagian besar ruangan kini telah dialihfungsikan menjadi area pelayanan kedai kopi bagi masyarakat umum. Oleh sebab itu, semakin lama pengunjung menghabiskan waktu di Sasana Bhagavadgita, mereka tidak akan merasa seperti sedang berada di kafe, melainkan seperti sedang bertamu ke rumah kerabat.
Hera Marthaningdyah, salah seorang pengunjung yang sudah berusia 52 tahun, menyatakan apresiasinya terhadap konsep unik yang diusung oleh kedai kopi bernuansa tradisional Jawa ini. Menurutnya, keberadaan tempat seperti ini sangat efektif untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda yang saat ini cenderung lebih menyukai gaya hidup modern.
Ia menilai bahwa melalui kedai ini, anak muda memiliki wadah untuk berkarya atau mengadakan pertunjukan seni skala kecil sehingga budaya lokal tetap bisa lestari. Pengunjung yang menyukai alunan musik tradisional pun merasa sangat nyaman karena suasana yang dihadirkan benar-benar mampu memberikan ketenangan jiwa di tengah kesibukan kota.