Pelaku industri kripto di Indonesia semakin gencar membidik segmen investor ritel dengan memperluas akses melalui jaringan ritel modern yang menjangkau masyarakat luas. Strategi ini diterapkan di tengah kondisi transaksi aset kripto nasional yang sedang mengalami penurunan, sebagai langkah untuk menjaga pertumbuhan jumlah investor baru dari kalangan anak muda.
Berdasarkan laporan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto pada periode Februari 2026 tercatat sebesar Rp24,33 triliun. Angka tersebut menunjukkan adanya penyusutan performa dibandingkan pada bulan Januari yang sempat menyentuh angka Rp29,28 triliun.
Meskipun secara nominal mengalami penurunan, tingkat adopsi terhadap aset digital di dalam negeri masih memperlihatkan tren yang sangat positif. Generasi muda, khususnya kaum milenial dan Gen Z, kini menjadi penggerak utama dalam ekosistem aset kripto di tanah air.
Menurut dokumen Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, tercatat sekitar 93 persen responden sudah memiliki pemahaman atau familiaritas dengan instrumen aset kripto. Mayoritas dari mereka berasal dari kalangan Gen Z yang secara aktif menjadikan topik kripto sebagai bahan diskusi finansial harian di berbagai platform digital.
TRIV Group melalui platform pertukaran aset digital miliknya, Triv, secara resmi mengumumkan jalinan kerja sama strategis dengan jaringan minimarket Indomaret. Kolaborasi ini menghadirkan Voucher TRIV yang kini dapat diperoleh masyarakat di lebih dari 300.000 gerai Indomaret yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
CEO sekaligus Founder Triv Group, Gabriel Rey, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan upaya nyata untuk memperluas aksesibilitas investasi kripto bagi masyarakat awam. Pihaknya ingin mendekatkan layanan aset digital melalui jaringan ritel yang masif agar para investor pemula dapat bertransaksi dengan jauh lebih mudah.
Gabriel Rey menambahkan bahwa langkah strategis yang diambil perusahaan ini telah mendapatkan izin dan persetujuan resmi dari pihak OJK. Program ini diharapkan mampu meningkatkan literasi keuangan digital masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan negara melalui pungutan pajak aset kripto.
Fenomena dominannya peran Gen Z dalam adopsi mata uang digital ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi tren di level global. Studi dari Protocol Theory mengungkapkan bahwa generasi muda di Amerika Serikat memiliki tingkat kepercayaan terhadap kripto yang melampaui kepercayaan mereka pada lembaga keuangan konvensional.
Data menunjukkan sekitar 22 persen responden dari kalangan Gen Z lebih mempercayai kripto untuk menjaga kekayaan mereka dibandingkan generasi lainnya. Sebagai perbandingan, tingkat kepercayaan tersebut hanya sebesar 13 persen pada Gen X dan menurun drastis hingga 5 persen pada kalangan baby boomers.
Kecenderungan ini dipicu oleh keinginan generasi muda terhadap kontrol finansial yang lebih besar, transparansi sistem, serta kemudahan akses pada aset digital. Laporan dari World Economic Forum juga mengaitkan fenomena ini dengan berbagai tekanan ekonomi yang sedang dihadapi oleh anak muda saat ini.
Stagnasi pendapatan serta meningkatnya biaya hidup secara global mendorong sebagian besar Gen Z untuk mencari alternatif investasi dengan profil risiko tinggi seperti kripto. Kondisi ekonomi yang menantang tersebut secara tidak langsung ikut membentuk perilaku dan preferensi investasi pada generasi terbaru.
Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital (IAKD) OJK, Dino Milano Siregar, memberikan pandangan kritis terkait tingginya partisipasi anak muda tersebut. Menurutnya, besarnya jumlah investor dari kalangan muda belum tentu menjadi indikator kematangan literasi finansial mereka dalam mengelola risiko aset digital.
Dino menyoroti bahwa banyak dari mereka masuk ke pasar kripto hanya karena faktor pengaruh lingkungan sosial atau sekadar mengikuti tren semata. Adanya fenomena fear of missing out atau FOMO yang kuat di kalangan anak muda seringkali menjadi pendorong utama di balik keputusan investasi mereka.
Oleh karena itu, OJK mengimbau agar regulator dan pelaku industri terus memperkuat aspek edukasi untuk meminimalkan risiko kerugian di masa depan. Dino menekankan pentingnya bagi investor muda untuk memiliki pemahaman strategi yang kuat agar tidak hanya sekadar ikut-ikutan tanpa keputusan keuangan yang bijaksana.
Statistik Pasar Kripto Indonesia (Awal 2026)
| Indikator Pasar | Januari 2026 | Februari 2026 |
|---|---|---|
| Nilai Transaksi (Triliun Rupiah) | 29,28 | 24,33 |
| Pertumbuhan Adopsi | Positif | Positif |
Tingkat Kepercayaan Terhadap Kripto Berdasarkan Generasi
| Kategori Generasi | Tingkat Kepercayaan (%) |
|---|---|
| Gen Z | 22% |
| Gen X | 13% |
| Baby Boomers | 5% |
Sebagai informasi tambahan, perluasan titik penjualan melalui ratusan ribu gerai Indomaret ini diharapkan bisa menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekosistem aset digital nasional. Masyarakat kini dapat membeli aset seperti Bitcoin melalui sistem voucher yang sangat praktis dan terintegrasi dengan sistem pembayaran ritel modern.
Pihak Triv berkomitmen untuk terus menjaga keamanan transaksi dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia. Upaya literasi akan terus digalakkan bersamaan dengan ekspansi bisnis demi menciptakan iklim investasi kripto yang sehat dan transparan bagi semua pihak.