PT Widodo Makmur Unggas Tbk. (WMUU) telah mengumumkan rencananya untuk mengumpulkan dana sebesar Rp600 miliar melalui aksi rights issue, bertujuan untuk memperkuat likuiditas di tengah situasi utang yang tinggi. Berdasarkan informasi yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Jumat (17/4/2026), penambahan modal melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk mendukung keuangan yang saat ini masih tercatat mengalami kerugian.
Dalam upaya ini, WMUU berniat menerbitkan hingga 6 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham. Setiap pemegang 125 saham yang ada berhak untuk mendapatkan 58 HMETD; sementara pemegang saham utama, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMP), yang memiliki 40,94% dari total saham, telah berkomitmen untuk mengeksekusi semua haknya, dan akan berperan sebagai pembeli siaga dengan opsi konversi utang menjadi saham.
Langkah ini berpotensi menjadikan posisi kepemilikan WMP semakin dominan; jika pemegang saham lainnya tidak melakukan eksekusi hak, kepemilikan WMP dapat meningkat menjadi sekitar 55,04%. Sementara itu, pemegang saham publik berisiko menderita dilusi yang signifikan jika tidak berpartisipasi dalam rights issue ini, dengan risiko dilusi maksimum diperkirakan mencapai 31,69% usai aksi korporasi berlangsung.
Tekanan fundamental masih menjadi tantangan bagi perusahaan, yang pada tahun 2025 mencatatkan kerugian sebelum pajak sebesar Rp83,59 miliar, meskipun angka ini lebih baik 45,75% dibandingkan kerugian yang dialami pada tahun 2024 yang mencapai Rp154,1 miliar. Meskipun penjualannya meningkat pesat sebesar 95,95% hingga Rp740,93 miliar, lonjakan tersebut tidak cukup untuk menutupi beban pokok penjualan yang juga meningkat menjadi Rp753,78 miliar, sehingga perusahaan tetap mencatatkan kerugian kotor sebesar Rp12,84 miliar.
Struktur permodalan WMUU menunjukkan beban utang yang tinggi, dengan total liabilitas mencapai Rp1,55 triliun, yang setara dengan 67% dari total aset. Rasio utang terhadap ekuitas tercatat mencapai 2 kali, dan kondisi ini mencerminkan lemahnya kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya, diwujudkan dengan debt service coverage ratio (DSCR) yang berada di level negatif 0,61.
Aksi rights issue diharapkan dapat meredakan tekanan liabilitas, tetapi di saat yang sama juga meningkatkan konsentrasi kepemilikan dalam perusahaan. Periode perdagangan HMETD direncanakan berlangsung dari 3 hingga 9 Juli 2026, dengan tanggal akhir pelaksanaan yang ditentukan pada 6 Juli 2026.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul dari keputusan investasi yang diambil oleh pembaca.