Wisatawan di China Kini Ramai-ramai Incar Hotel Murah

Wisatawan di China Kini Ramai-ramai Incar Hotel Murah

Sektor pariwisata di China tengah menunjukkan tren positif melalui peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing yang signifikan sepanjang tahun ini. Fenomena baru pun mulai muncul di kalangan pelancong, yakni maraknya aktivitas staycation yang berfokus pada pemilihan hotel dengan harga terjangkau.

Berdasarkan laporan Administrasi Imigrasi Nasional China, tercatat sebanyak 15,89 juta warga asing masuk ke China tanpa menggunakan visa sejak Januari hingga Agustus tahun ini. Jumlah tersebut mencakup 62,1% dari total pengunjung mancanegara dan mengalami lonjakan sebesar 52,1% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Hingga delapan bulan pertama tahun ini, total kunjungan warga negara asing ke wilayah China secara keseluruhan telah menyentuh angka 25,59 juta orang. Arus pergerakan wisatawan ini juga terlihat dua arah, di mana penduduk Hong Kong banyak bepergian ke arah utara sementara warga daratan China memilih berkendara menuju selatan.

Dinamika pergerakan wisatawan tersebut memicu kembalinya evaluasi terhadap model layanan hotel serta strategi produk di seluruh wilayah terkait agar tetap relevan. Hal ini menjadi topik utama dalam Konferensi Intelijen Digital TravelDaily China 2025 edisi Greater Bay Area yang berlangsung pada bulan November lalu.

Dalam forum bertajuk cara hotel menyambut tamu di tengah lonjakan perjalanan lintas batas, hadir tokoh-tokoh penting seperti Charlie Li dari TravelDaily dan Wei Wu dari Dossen Group. Diskusi tersebut turut melibatkan Qinhui Huang dari Regal Hotels International untuk membahas perubahan kebutuhan wisatawan dari daratan China, Hong Kong, Makau, hingga internasional.

Para panelis mengeksplorasi strategi bagi perhotelan untuk meningkatkan produk, kualitas layanan, serta prosedur operasional standar guna melayani segmen tamu yang semakin beragam. Wei Wu mengungkapkan bahwa Dossen Group saat ini mengoperasikan lebih dari 2.700 hotel di seluruh penjuru negeri untuk mengakomodasi tingginya permintaan pasar.

Pada tahun 2024, grup hotel ini telah menerima lebih dari 1,1 juta tamu asing dan memproyeksikan kenaikan hingga 1,3 juta pengunjung pada tahun mendatang. Fakta yang mengejutkan bagi pihak manajemen adalah mayoritas pengunjung internasional justru lebih memilih menginap di hotel kelas ekonomi dibandingkan hotel mewah mereka.

Wei Wu mencatat bahwa sebagian besar tamu mancanegara tersebut berasal dari wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan dengan India menempati posisi teratas. Wisatawan lainnya menyusul dari Thailand, Filipina, serta negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara hingga mereka yang datang dari benua Amerika.

Meskipun jumlah kunjungannya masif, rata-rata durasi menginap bagi para tamu internasional ini tergolong cukup singkat yaitu hanya sekitar 1,6 hari saja. Platform media sosial seperti TikTok memegang peranan krusial dalam membantu turis internasional menemukan berbagai referensi hotel murah di China.

Wisatawan dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Timur Tengah umumnya memutuskan untuk memilih penginapan berdasarkan rekomendasi yang mereka temukan di kanal digital tersebut. Pihak manajemen hotel kini gencar mengeksplorasi pemanfaatan konten video pendek berdurasi 30 hingga 45 detik untuk menyarikan nilai jual hotel mereka.

Upaya distribusi konten yang ringkas dan menarik ini diarahkan untuk menonjolkan daya tarik kota Hong Kong serta kualitas fasilitas penginapan yang ditawarkan. Dalam proses produksinya, mereka memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta menjalin kolaborasi dengan tim produksi profesional dari berbagai agen perjalanan.

Video-video promosi tersebut kemudian disebarluaskan secara masif melalui platform TikTok, Xiaohongshu, hingga saluran program mini yang dikelola langsung oleh grup hotel. Qinhui Huang menekankan bahwa keberhasilan pemasaran tidak hanya diukur dari jumlah penayangan, tetapi dari sejauh mana konten mampu mengubah perilaku pemesanan tamu.

Kemampuan bercerita atau storytelling dalam video dianggap sebagai faktor kunci yang memicu minat turis untuk berkunjung dan menciptakan tren staycation murah ini. Menurut Huang, sebuah promosi baru bisa dianggap benar-benar penting dan berhasil apabila mampu mengubah kebiasaan atau pola konsumsi para wisatawan.

Harga penginapan kategori ekonomis di China saat ini sangat bervariasi tergantung pada lokasi kota serta klasifikasi bintang yang dimiliki hotel tersebut. Secara umum, para pelancong dapat menemukan akomodasi yang nyaman dengan kisaran harga yang cukup bersahabat bagi kantong wisatawan internasional.

Kategori Hotel Estimasi Harga Per Malam (IDR)
Hotel Ekonomi / Bintang 3 Rp300.000 - Rp900.000

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun sektor pariwisata China sedang booming, orientasi wisatawan telah bergeser ke arah efisiensi biaya tanpa mengesampingkan pengalaman perjalanan. Penyesuaian layanan dan strategi digital kini menjadi kunci utama bagi pelaku industri perhotelan di sana untuk menangkap peluang dari pasar global.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: travel.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.