Suara ringkikan kuda memiliki karakteristik unik yang sangat berbeda dibandingkan dengan suara hewan ternak lain seperti domba yang mengembik atau kedelai yang mendengus. Keunikan bunyi tersebut memicu pertanyaan mengenai asal-usul biologis dari suara khas yang dihasilkan oleh hewan besar ini.
Meskipun manusia telah menjalin hubungan erat dan hidup berdampingan dengan kuda selama sekitar 4.000 tahun, mekanisme komunikasi mereka masih menyimpan misteri. Elodie Floriane Mandel-Briefer, seorang pakar biologi dari University of Copenhagen, menjelaskan bahwa pemahaman manusia terhadap cara kuda berkomunikasi sebenarnya belum sempurna.
Struktur Frekuensi pada Ringkikan Kuda
Penelitian terkini mengungkapkan bahwa suara ringkikan kuda terdiri dari dua frekuensi suara berbeda, yaitu nada rendah yang stabil dan nada sangat tinggi. Perpaduan antara frekuensi rendah yang sesuai ukuran tubuh dan nada tinggi yang tidak lazim ini menciptakan kombinasi suara yang sangat spesifik.
Kesan aneh pada ringkikan kuda muncul karena adanya dua komponen suara yang tumpang tindih secara bersamaan dalam sebuah fenomena biologis. Sekitar satu dekade lalu, Mandel-Briefer beserta tim risetnya mengidentifikasi fenomena ini sebagai biphonation yang terjadi saat kuda bersuara.
Mekanisme frekuensi rendah pada kuda dihasilkan melalui getaran pita suara yang dipicu oleh aliran udara dari paru-paru menuju tenggorokan. Proses pembentukan suara dasar ini serupa dengan cara manusia serta mayoritas mamalia lain dalam memproduksi suara sehari-hari.
Peran Siulan Laring dalam Produksi Suara
Berdasarkan studi dalam jurnal Current Biology Vol. 36 yang terbit pada Februari 2026, komponen frekuensi tinggi ternyata bersumber dari siulan laring. Tim peneliti membuktikan hal ini melalui eksperimen peniupan udara ke laring kuda untuk menunjukkan bahwa kedua komponen suara diproduksi langsung oleh organ tersebut.
Guna memastikan asal nada tinggi tersebut, para ilmuwan melakukan pengujian tambahan dengan menggunakan gas helium pada subjek penelitian mereka. Hasil pengujian menunjukkan bahwa hanya frekuensi tinggi yang mengalami perubahan nada, sementara frekuensi rendah tetap stabil tanpa mengalami pergeseran signifikan.
Temuan eksperimental ini memperkuat kesimpulan bahwa nada tinggi pada kuda memang berasal dari mekanisme siulan laring yang bekerja secara khusus. Kuda diduga menjadi satu-satunya spesies hewan yang mampu mengintegrasikan getaran pita suara dan siulan laring secara simultan untuk menghasilkan biphonation.
Kaitan Suara dengan Kondisi Emosional
Riset yang telah dilakukan sejak tahun 2015 mengindikasikan adanya hubungan erat antara frekuensi suara yang dihasilkan dengan kondisi emosional kuda tersebut. Komponen frekuensi tinggi berperan sebagai indikator apakah emosi yang dirasakan kuda bersifat positif atau negatif saat mereka bersuara.
Di sisi lain, komponen frekuensi rendah berfungsi untuk mencerminkan tingkat intensitas atau kekuatan dari emosi yang sedang dialami oleh hewan tersebut. Selain itu, penggunaan nada tinggi yang lebih keras memungkinkan suara ringkikan tersebut untuk menjangkau jarak pendengaran yang lebih jauh.
Berbagai temuan ilmiah ini memberikan kontribusi besar bagi para ilmuwan dalam memahami sistem komunikasi, spektrum emosi, serta kesejahteraan kuda secara mendalam. Mekanisme biologis di balik ringkikan yang terdengar sederhana ternyata memiliki kompleksitas yang jauh lebih tinggi daripada dugaan sebelumnya.
| Komponen Suara | Sumber Mekanisme | Fungsi Indikator Emosi |
|---|---|---|
| Frekuensi Rendah | Getaran pita suara (aliran udara paru-paru) | Mencerminkan intensitas emosi hewan |
| Frekuensi Tinggi | Siulan laring (laryngeal whistle) | Menunjukkan sifat emosi positif atau negatif |
Penelitian yang dipublikasikan pada awal tahun 2026 ini memberikan wawasan baru mengenai evolusi sistem vokal pada mamalia besar yang hidup di lingkungan manusia. Dengan memahami detail biologis ini, pemilik dan perawat kuda dapat lebih peka dalam menginterpretasikan kebutuhan serta perasaan hewan tersebut melalui suaranya.