Badan Pengaturan (BP) BUMN bersama Danantara Indonesia secara resmi memulai akselerasi langkah restrukturisasi terhadap seluruh emiten konstruksi pelat merah atau BUMN Karya. Transformasi strategis ini difokuskan pada upaya penyehatan neraca keuangan perusahaan serta penguatan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa inisiatif tersebut bertujuan untuk membangun sektor konstruksi nasional yang jauh lebih transparan serta akuntabel. Saat memimpin rapat bersama jajaran direksi BUMN Karya, Dony memberikan penekanan khusus mengenai urgensi perbaikan laporan keuangan agar menyajikan data yang lebih realistis dan kredibel bagi publik.
Dony memaparkan bahwa transformasi yang diusung oleh Danantara tidak hanya menyasar pada aspek finansial jangka pendek semata, namun juga mencakup peningkatan kepatuhan terhadap regulasi. Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan yang berlaku merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan perusahaan negara dalam jangka panjang.
Melalui kebijakan restrukturisasi yang dirancang secara terukur, BP BUMN dan Danantara terus mendorong BUMN Karya untuk memperbaiki kinerja keuangan mereka secara berkesinambungan. Langkah sistematis ini diharapkan dapat memulihkan kembali kepercayaan para pemangku kepentingan serta memperkokoh daya saing perseroan di pasar infrastruktur yang kompetitif.
Upaya penyehatan ini juga diproyeksikan mampu memberikan kepastian yang lebih jelas bagi pasar modal nasional, mengingat beberapa emiten konstruksi BUMN masih berada dalam fase pemulihan. Sebagaimana diketahui, sejumlah perusahaan tersebut sedang berjuang memperbaiki kinerja pascapandemi serta menuntaskan proses restrukturisasi utang yang cukup kompleks.
Dony menambahkan bahwa dengan memiliki fondasi yang lebih sehat, BUMN Karya diharapkan dapat menjalankan peran strategis sebagai pilar utama pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia. Target akhirnya adalah menjadikan BUMN Karya sebagai entitas yang lebih sehat, kredibel, dan memiliki daya saing yang kuat di mata para investor global maupun domestik.
Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), Agung Budi Waskito, mengonfirmasi bahwa Danantara Indonesia telah menginstruksikan agar aspek penyehatan didahulukan daripada rencana penggabungan. Ia menyatakan bahwa Danantara memprioritaskan periode 2025-2026 sebagai masa fokus bagi seluruh BUMN Karya untuk melakukan restrukturisasi keuangan dan meningkatkan transparansi pelaporan.
Agung menegaskan bahwa proses merger atau penggabungan entitas baru akan direncanakan pelaksanaannya pada akhir tahun 2026 setelah kondisi perusahaan dinyatakan stabil. PT Wijaya Karya sendiri menargetkan agar seluruh rangkaian restrukturisasi mulai dari perbankan, obligasi, hingga sukuk dapat diselesaikan sepenuhnya pada Juni 2026 mendatang.
Penyelesaian agenda restrukturisasi tersebut dinilai sebagai kunci utama bagi perseroan agar suspensi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat segera dicabut oleh otoritas terkait. Strategi penyehatan yang dijalankan juga mencakup langkah optimalisasi aset properti non-produktif milik perusahaan guna meningkatkan arus kas masuk secara rutin.
Salah satu contoh konkretnya adalah pengalihfungsian lahan milik perusahaan di wilayah Cawang dan Bekasi menjadi area komersial produktif serta fasilitas olahraga yang mumpuni. Langkah pemanfaatan aset ini dilakukan secara intensif demi mengejar target pendapatan berulang atau recurring income yang dapat memperkuat stabilitas finansial perusahaan di masa depan.