Saham-saham unggulan seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) hingga PT Indosat Tbk. (ISAT) tercatat masuk dalam jajaran sepuluh saham penekan pasar atau top laggards selama periode perdagangan 13 hingga 17 April 2026. Penurunan harga pada deretan saham tersebut memberikan kontribusi negatif yang signifikan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan tersebut.
Peringkat pertama saham yang menjadi beban indeks ditempati oleh BBCA yang mengalami koreksi harga sebesar 4,1% dan memberikan tekanan sebesar 25,76 poin terhadap IHSG. Selanjutnya, saham MSIN berada di posisi kedua setelah harganya anjlok hingga 29,55% yang berimplikasi pada beban indeks mencapai 14,79 poin.
Emiten telekomunikasi TLKM turut menjadi kontributor negatif ketiga dengan sumbangan 11,48 poin menyusul penurunan harga sahamnya yang mencapai 3,43% dalam sepekan. Sementara itu, saham APIC mengekor di urutan keempat dengan pelemahan sebesar 21,41% yang memberikan bobot negatif sebanyak 5,55 poin bagi pergerakan indeks.
Posisi kelima diisi oleh saham SMMA yang mengalami penurunan harga sebesar 4,93% dan tercatat menyumbang poin negatif terhadap IHSG sebanyak 5,03 poin. Kemudian, saham MEGA menjadi pemberat indeks selanjutnya dengan kontribusi beban sebesar 4,86 poin akibat koreksi harga saham sebesar 7,46% dalam periode yang sama.
Saham perbankan BMRI juga tidak luput dari tren negatif dengan koreksi tipis 1,07% namun tetap membebani IHSG sebanyak 3,91 poin di peringkat ketujuh. Di posisi kedelapan, saham DCII menyumbang beban sebesar 2,50 poin setelah harga sahamnya terkoreksi 1,25% selama satu pekan perdagangan.
Emiten BELI menduduki peringkat kesembilan dalam daftar top laggards setelah mencatatkan penurunan harga sebesar 6,82% dengan kontribusi beban indeks senilai 2,10 poin. Terakhir, saham ISAT menutup daftar sepuluh besar dengan penurunan harga 5,09% yang berimbas pada poin negatif terhadap IHSG sebesar 1,30 poin.
Kinerja Pasar Modal dan Statistik Perdagangan
Meskipun terdapat tekanan dari sepuluh saham laggards tersebut, IHSG secara keseluruhan justru berhasil menguat sebesar 2,35% menuju level 7.634,004 pada penutupan pekan. Kenaikan sebesar 175,50 poin dari posisi pekan sebelumnya yang berada di level 7.458,49 ini didorong oleh penguatan sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar lainnya.
P.H Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Valantina Simon, mengungkapkan bahwa pekan ini diwarnai dengan lonjakan signifikan pada rata-rata volume transaksi harian sebesar 33,12%. Volume tersebut meningkat menjadi 42,98 miliar lembar saham jika dibandingkan dengan pencapaian pekan sebelumnya yang hanya sebesar 32,28 miliar lembar saham.
Kenaikan juga terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian yang tumbuh 32,71% hingga mencapai angka 2,72 juta kali transaksi dalam kurun waktu sepekan. Valantina menambahkan bahwa nilai rata-rata transaksi harian turut terkerek naik 17,56% menjadi Rp20,36 triliun dari posisi sebelumnya yang sebesar Rp17,32 triliun.
Sektor kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 3,38% pada periode perdagangan pekan pertengahan April ini. Nilai kapitalisasi pasar melonjak menjadi Rp13.635 triliun, meningkat cukup tajam dibandingkan angka Rp13.189 triliun pada akhir pekan yang lalu.
Data lengkap mengenai pergerakan sepuluh saham yang memberikan dampak negatif terbesar terhadap laju IHSG dapat dicermati melalui rincian statistik yang dihimpun otoritas bursa. Berikut adalah rincian angka koreksi harga dan kontribusi poin dari masing-masing emiten dalam daftar top laggards tersebut.
| Kode Saham | Perubahan Harga (%) | Kapitalisasi Pasar (Rp Triliun) | Kontribusi ke IHSG (Poin) |
|---|---|---|---|
| BBCA | -4,10% | 268,49 | -25,76 |
| MSIN | -29,55% | 15,73 | -14,79 |
| TLKM | -3,43% | 144,36 | -11,48 |
| APIC | -21,41% | 9,08 | -5,55 |
| SMMA | -4,93% | 43,21 | -5,03 |
| MEGA | -7,46% | 26,90 | -4,86 |
| BMRI | -1,07% | 161,24 | -3,91 |
| DCII | -1,25% | 88,13 | -2,50 |
| BELI | -6,82% | 12,83 | -2,10 |
| ISAT | -5,09% | 10,80 | -1,30 |
Kondisi pasar yang tetap menguat di tengah koreksi saham-saham besar menunjukkan adanya rotasi modal atau minat beli yang kuat pada sektor-sektor penggerak lainnya. Investor tetap memantau pergerakan harga emas, nilai tukar rupiah, serta sentimen global seperti pembukaan Selat Hormuz yang memengaruhi harga minyak mentah dunia.
Pihak Bursa Efek Indonesia juga menginformasikan adanya antrean 16 perusahaan yang bersiap melakukan penawaran umum perdana atau IPO dengan dominasi dari sektor kesehatan. Dinamika ini diharapkan dapat terus menjaga antusiasme dan likuiditas pasar modal domestik di tengah fluktuasi ekonomi global yang masih berlangsung.